Noda & Abe beda perlihatkan perbedaan tajam
Minggu, 25 November 2012 - 17:21 WIB
Noda & Abe beda perlihatkan perbedaan tajam
A
A
A
Sindonews.com – Perdana Menteri Jepang Yoshihiko Noda dan pemimpin Partai Demokratik Liberal (LDP), Shinzo Abe menunjukan perbedaan tajam dalam kebijakan moneter dan kebijakan luar negeri. Noda menyebut, sikap oposisi yang mendukung pelonggaran moneter radikal untuk mengalahkan deflasi kronis adalah "berbahaya".
Abe menegaskan kembali seruannya untuk menetapkan target inflasi 2 persen, dua kali lipat dari yang ditargetkan Bank of Japan (BOJ) saat ini. Hal ini dimaksudkan Abe untuk mengeluarkan Jepang dari deflasi.
Abe juga menyerukan untuk merevisi undang-undang yang mengatur BOJ, sehingga bank sentral tidak hanya bertanggung jawab untuk stabilitas harga, tetapi juga untuk penciptaan lapangan kerja dan kesehatan ekonomi riil.
Abe mengatakan, BOJ harus membeli obligasi konstruksi dari pasar untuk membiayai belanja infrastruktur untuk putaran ekonomi yang saat ini tengah meluncur ke dalam sebuah resesi.
"Ini adalah cara berpikir yang berbahaya," kata Noda dalam sebuah program TV Asahi. "Ini akan merusak independensi bank sentral, jika pemerintah menjabarkan tujuan kebijakan moneter dan menyebutkan metode khusus," tandas Noda.
Noda dan Abe juga berbeda pendapat pada kebijakan luar negeri. LDP mengusulkan untuk mengirim personel secara permanen di pulau-pulau yang tengah disengketakan dengan China. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kontrol efektif Jepang ata wilayah itu.
"Lautan kami yang indah sedang terancam, ketika satu demi satu kapal China memasuki wilayah perairan kami," kata Abe.
Namun, Noda tak sependapat. "Menempatkan personel dapat menyebabkan peningkatan ketegangan. Hubungan bilateral akan terancam, jika kita tidak memiliki pandangan yang tepat soal keadaan saat ini," kata Noda.
Abe menegaskan kembali seruannya untuk menetapkan target inflasi 2 persen, dua kali lipat dari yang ditargetkan Bank of Japan (BOJ) saat ini. Hal ini dimaksudkan Abe untuk mengeluarkan Jepang dari deflasi.
Abe juga menyerukan untuk merevisi undang-undang yang mengatur BOJ, sehingga bank sentral tidak hanya bertanggung jawab untuk stabilitas harga, tetapi juga untuk penciptaan lapangan kerja dan kesehatan ekonomi riil.
Abe mengatakan, BOJ harus membeli obligasi konstruksi dari pasar untuk membiayai belanja infrastruktur untuk putaran ekonomi yang saat ini tengah meluncur ke dalam sebuah resesi.
"Ini adalah cara berpikir yang berbahaya," kata Noda dalam sebuah program TV Asahi. "Ini akan merusak independensi bank sentral, jika pemerintah menjabarkan tujuan kebijakan moneter dan menyebutkan metode khusus," tandas Noda.
Noda dan Abe juga berbeda pendapat pada kebijakan luar negeri. LDP mengusulkan untuk mengirim personel secara permanen di pulau-pulau yang tengah disengketakan dengan China. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kontrol efektif Jepang ata wilayah itu.
"Lautan kami yang indah sedang terancam, ketika satu demi satu kapal China memasuki wilayah perairan kami," kata Abe.
Namun, Noda tak sependapat. "Menempatkan personel dapat menyebabkan peningkatan ketegangan. Hubungan bilateral akan terancam, jika kita tidak memiliki pandangan yang tepat soal keadaan saat ini," kata Noda.
(esn)