PM Noda putuskan pemilu bulan depan
Rabu, 14 November 2012 - 11:27 WIB
PM Noda putuskan pemilu bulan depan
A
A
A
Sindonews.com - Perdana Menteri (PM) Jepang Yoshihiko Noda memutuskan menggelar pemilihan umum (pemilu) pada bulan depan. Dia juga diperkirakan bakal membubarkan parlemen pekan ini untuk membuka jalan digelarnya pemilu di mana dia diprediksi kalah.
Menurut media utama berita Jepang, termasuk harian bisnis Nikkei dan Asahi Shimbun yang berhaluan liberal, Noda akan melaksanakan pemilu pada 16 Desember atau hingga akhir 20 Januari. Selain itu,Noda akan membubarkan parlemen Jepang pada Jumat (16/11). “PM memutuskan untuk membubarkan parlemen tahun ini,” tulis judul halaman depan harian bisnis berpengaruh Nikkei kemarin.
“Langkah terhadap pembubaran parlemen terus bergerak maju.” Harian The Mainichi Shimbun mengatakan, PM Noda akan membubarkan majelis rendah pada hari Jumat (16/11) mendatang dan menggelar pemilu pada 9 Desember nanti. Kendati demikian,Noda menolak untuk membahas kapan dia akan mengadakan pemilu ketikaditekanselamasesiparlemen.
Yangjelas, pemiluituharus digelar paling lambat musim panas mendatang ketika masa jabatan selama empat tahun di parlemen saat ini berakhir. Setelahberbulan-bulan muncul spekulasi mengenai tanggal pemilu berikutnya, masalah ini memang melonjak ke permukaan pada Senin (12/11) sore.Saat ituNodaterlihatmendorongrencana untuk bergabung pada kesepakatan perdagangan bebas rekanan trans-Pacific (TPP) yang luas sebagai salah satu janji inti kampanyenya.
Seperti dilansir AFP, Noda diperkirakan akan menghadapi perjuangan yang berat agar partainya bisa terpilih kembali di tengah kekecewaan pemilih yang semakin meluas dalam tiga tahun sejak partainya menggulingkan partai lama yang berkuasa, Partai Demokrat Liberal (DPJ).
Dalam jajak pendapat terbaru Shimbun Asahi yang dirilis kemarin,ratingpersetujuan bagi kabinet Noda terus tergelincir hingga 18% sementara peringkat ketidaksetujuan naik menjadi 64%.
Ini mengindikasikan Noda, yang mulai menjabat pada September 2011,akan menjadi pemimpin Jepang keenam yang akan meninggalkan kediaman PM setelah menghabiskan masa jabatan sekitar satu tahun di kantor. Sebelumnya, pendahulu Noda, Yukio Hatoyama dan Naoto Kan,mengundurkan diri di tengah rendahnya tingkat persetujuan dan perebutan kekuasaan di tubuh DPJ.
Selain perjuangan berat, menurut Nikkei,keputusan Noda pada waktu yang tepat di pemilu akan ditentukan sebagian oleh bagaimana Amerika Serikat (AS) bereaksi terhadap tawaran partisipasi Jepang terkait TPP yang didukung Washington.
TPP dipandang sebagai bagian penting dalam poros Barack Obama ke Asia dan penyeimbang kekuatan pertumbuhan China. Hingga saat ini TPP telah merangkul Australia, Brunei, Kanada, Chili, Malaysia, Meksiko,Selandia Baru,Peru, Singapura,AS,dan Vietnam.
Siklus pemilu pendek dan opini publik yang berubahubah telah membuat Jepang terus mengganti pemimpinnya selama hampir setiap tahun sejak Junichiro Koizumi, yang memimpin selama lebih dari lima tahun,sampai September 2006.
Kondisi ini telah menyebabkan pengaruh Jepang berkurang di panggung dunia, serta menggeser status ekonomi negara itu setelah disusul oleh China sebagai negara ekonomi kedua terbesar di dunia
Menurut media utama berita Jepang, termasuk harian bisnis Nikkei dan Asahi Shimbun yang berhaluan liberal, Noda akan melaksanakan pemilu pada 16 Desember atau hingga akhir 20 Januari. Selain itu,Noda akan membubarkan parlemen Jepang pada Jumat (16/11). “PM memutuskan untuk membubarkan parlemen tahun ini,” tulis judul halaman depan harian bisnis berpengaruh Nikkei kemarin.
“Langkah terhadap pembubaran parlemen terus bergerak maju.” Harian The Mainichi Shimbun mengatakan, PM Noda akan membubarkan majelis rendah pada hari Jumat (16/11) mendatang dan menggelar pemilu pada 9 Desember nanti. Kendati demikian,Noda menolak untuk membahas kapan dia akan mengadakan pemilu ketikaditekanselamasesiparlemen.
Yangjelas, pemiluituharus digelar paling lambat musim panas mendatang ketika masa jabatan selama empat tahun di parlemen saat ini berakhir. Setelahberbulan-bulan muncul spekulasi mengenai tanggal pemilu berikutnya, masalah ini memang melonjak ke permukaan pada Senin (12/11) sore.Saat ituNodaterlihatmendorongrencana untuk bergabung pada kesepakatan perdagangan bebas rekanan trans-Pacific (TPP) yang luas sebagai salah satu janji inti kampanyenya.
Seperti dilansir AFP, Noda diperkirakan akan menghadapi perjuangan yang berat agar partainya bisa terpilih kembali di tengah kekecewaan pemilih yang semakin meluas dalam tiga tahun sejak partainya menggulingkan partai lama yang berkuasa, Partai Demokrat Liberal (DPJ).
Dalam jajak pendapat terbaru Shimbun Asahi yang dirilis kemarin,ratingpersetujuan bagi kabinet Noda terus tergelincir hingga 18% sementara peringkat ketidaksetujuan naik menjadi 64%.
Ini mengindikasikan Noda, yang mulai menjabat pada September 2011,akan menjadi pemimpin Jepang keenam yang akan meninggalkan kediaman PM setelah menghabiskan masa jabatan sekitar satu tahun di kantor. Sebelumnya, pendahulu Noda, Yukio Hatoyama dan Naoto Kan,mengundurkan diri di tengah rendahnya tingkat persetujuan dan perebutan kekuasaan di tubuh DPJ.
Selain perjuangan berat, menurut Nikkei,keputusan Noda pada waktu yang tepat di pemilu akan ditentukan sebagian oleh bagaimana Amerika Serikat (AS) bereaksi terhadap tawaran partisipasi Jepang terkait TPP yang didukung Washington.
TPP dipandang sebagai bagian penting dalam poros Barack Obama ke Asia dan penyeimbang kekuatan pertumbuhan China. Hingga saat ini TPP telah merangkul Australia, Brunei, Kanada, Chili, Malaysia, Meksiko,Selandia Baru,Peru, Singapura,AS,dan Vietnam.
Siklus pemilu pendek dan opini publik yang berubahubah telah membuat Jepang terus mengganti pemimpinnya selama hampir setiap tahun sejak Junichiro Koizumi, yang memimpin selama lebih dari lima tahun,sampai September 2006.
Kondisi ini telah menyebabkan pengaruh Jepang berkurang di panggung dunia, serta menggeser status ekonomi negara itu setelah disusul oleh China sebagai negara ekonomi kedua terbesar di dunia
(esn)