Penyidik AS diizinkan bertemu tersangka serangan Benghazi
Sabtu, 03 November 2012 - 17:27 WIB
Penyidik AS diizinkan bertemu tersangka serangan Benghazi
A
A
A
Sindonews.com - Pihak berwenang di Tunisia telah mengeluarkan izin bagi para penyidik FBI untuk bertemu dan mewawancarai Ali al Ani Harzi. Saat ini, Harzi yang diduga memiliki kaitan dengan aksi penyerangan fasilitas diplomatik AS di Benghazi, Libya, September silam, memang tengah ditahan oleh aparat keamanan Tunisia.
Pemerintah AS memang masih terus menyelidiki siapa otak serangan yang menewaskan Duta Besar AS untuk Libya, Christopher Stevens dan tiga pejabat AS lainnya itu. Harzi diduga memiliki akses ke kaum militan Islam dan punya peranan dalam serangan Benghazi.
Seperti dikutip dari thestar, Jumat (2/11/2012), berita soal pemberian akses oleh Pemerintah Tunisia ini, kali pertama disampaikan dalam sebuah pernyataan tertulis yang dikeluarkan oleh dua senator AS dari Partai Republik, Chambliss Saxby (Wakil Ketua Komite Intelijen Senat AS) dan Lindsey Graham (Anggota Senior Komite Angkatan Bersenjata Senat AS).
“Memberikan akses bagi para penyidik AS untuk bertemu dengan tersangka, akan membuat wawancara jadi lebih bermakna. Ini merupakan terobosan dalam upaya mencari para pelaku serangan ke Benghazi,” ujar pernyataan itu.
Awal pekan ini, Graham dilaporkan telah menulis surat kepada Pemerintah Tunisia dan menjelaskan betapa pentingnya akses para penyidik AS untuk bertemu Harzi. Sementara Saxby telah mendesak FBI untuk membuka akses ke Harzi dan individu-individu lain yang dianggap memiliki hubungan dengan serangan Benghazi.
Sebuah sumber di Pemerintah AS mengatakan, ada kemungkinan bahwa tekanan senator telah membantu meyakinkan Pemerintah Tunisia untuk memberi akses penyidik FBI mewawancarai Harzi. Semula, pada Oktober lalu, Harzi ditahan oleh aparat Turki. Tapi kemudian oleh Pemerintah Turki, ia dikirim ke Tunisia, negara asal Harzi.
Pemerintah AS memang masih terus menyelidiki siapa otak serangan yang menewaskan Duta Besar AS untuk Libya, Christopher Stevens dan tiga pejabat AS lainnya itu. Harzi diduga memiliki akses ke kaum militan Islam dan punya peranan dalam serangan Benghazi.
Seperti dikutip dari thestar, Jumat (2/11/2012), berita soal pemberian akses oleh Pemerintah Tunisia ini, kali pertama disampaikan dalam sebuah pernyataan tertulis yang dikeluarkan oleh dua senator AS dari Partai Republik, Chambliss Saxby (Wakil Ketua Komite Intelijen Senat AS) dan Lindsey Graham (Anggota Senior Komite Angkatan Bersenjata Senat AS).
“Memberikan akses bagi para penyidik AS untuk bertemu dengan tersangka, akan membuat wawancara jadi lebih bermakna. Ini merupakan terobosan dalam upaya mencari para pelaku serangan ke Benghazi,” ujar pernyataan itu.
Awal pekan ini, Graham dilaporkan telah menulis surat kepada Pemerintah Tunisia dan menjelaskan betapa pentingnya akses para penyidik AS untuk bertemu Harzi. Sementara Saxby telah mendesak FBI untuk membuka akses ke Harzi dan individu-individu lain yang dianggap memiliki hubungan dengan serangan Benghazi.
Sebuah sumber di Pemerintah AS mengatakan, ada kemungkinan bahwa tekanan senator telah membantu meyakinkan Pemerintah Tunisia untuk memberi akses penyidik FBI mewawancarai Harzi. Semula, pada Oktober lalu, Harzi ditahan oleh aparat Turki. Tapi kemudian oleh Pemerintah Turki, ia dikirim ke Tunisia, negara asal Harzi.
(esn)