Iran bantah tuduhan Menlu Prancis
Kamis, 25 Oktober 2012 - 13:36 WIB
Iran bantah tuduhan Menlu Prancis
A
A
A
Sindonews.com - Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ramin Mehmanparast menolak tuduhan tidak bertanggungjawab yang dilontarkan Menteri Luar Negeri Perancis, Laurent Fabius, Minggu (21/10/2012). Fabius menuduh Iran akan membuat senjata nuklir pada pertengahan 2013 mendatang.
"Kami menganggap peran organisasi internasional advokat Perancis dan lembaga-lembaga afiliasi lainya, yang terlihat saat ini adalah Pemerintah Prancis bergerak menjauh dari sikap tradisional di arena internasional," ungkap Mehmanparast seperti diberitakan Pressstv, Kamis (25/10/2012).
Mehmanparast menambahkan, sebuah pernyataan telah dilontarkan oleh Menlu Prancis, soal betapa berbahayanya jika Iran memiliki senjata nuklir. Sementara dalam waktu yang bersamaan, Prancis mengabaikan hasil inspeksi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) atas pengayaan uranium Iran selama beberapa tahun terakhir. Prancis juga menolak pengalihan pengayaan nuklir Iran dalam bentuk apapun.
Dalam kesempatan itu, Mehmanparast berharap Fabius tidak akan mengulangi kesalahan, seperti yang dilakukan beberapa pejabat Prancis. Banyak mantan pejabat Prancis yang memiliki sikap "radikal dan tidak realistis" terhadap Iran.
Amerika Serikat, Israel, dan beberapa sekutu mereka telah menuduh Iran mengejar program energi nuklirnya untuk tujuan non-sipil, yakni pembuatan senjata nuklir.
Namun, Iran berkali-kali mengatakan bahwa sebagai pihak yang ikut dalam penandatangan Non-Proliferasi Nuklir dan anggota IAEA, mereka berhak untuk mengembangkan dan memperoleh teknologi nuklir untuk tujuan damai.
"Kami menganggap peran organisasi internasional advokat Perancis dan lembaga-lembaga afiliasi lainya, yang terlihat saat ini adalah Pemerintah Prancis bergerak menjauh dari sikap tradisional di arena internasional," ungkap Mehmanparast seperti diberitakan Pressstv, Kamis (25/10/2012).
Mehmanparast menambahkan, sebuah pernyataan telah dilontarkan oleh Menlu Prancis, soal betapa berbahayanya jika Iran memiliki senjata nuklir. Sementara dalam waktu yang bersamaan, Prancis mengabaikan hasil inspeksi Badan Energi Atom Internasional (IAEA) atas pengayaan uranium Iran selama beberapa tahun terakhir. Prancis juga menolak pengalihan pengayaan nuklir Iran dalam bentuk apapun.
Dalam kesempatan itu, Mehmanparast berharap Fabius tidak akan mengulangi kesalahan, seperti yang dilakukan beberapa pejabat Prancis. Banyak mantan pejabat Prancis yang memiliki sikap "radikal dan tidak realistis" terhadap Iran.
Amerika Serikat, Israel, dan beberapa sekutu mereka telah menuduh Iran mengejar program energi nuklirnya untuk tujuan non-sipil, yakni pembuatan senjata nuklir.
Namun, Iran berkali-kali mengatakan bahwa sebagai pihak yang ikut dalam penandatangan Non-Proliferasi Nuklir dan anggota IAEA, mereka berhak untuk mengembangkan dan memperoleh teknologi nuklir untuk tujuan damai.
(esn)