Jerman: Eropa harus bantu Mali
Rabu, 24 Oktober 2012 - 14:37 WIB
Jerman: Eropa harus bantu Mali
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Jerman mendesak negara-negara di Eropa untuk ikut membantu pemulihan keamanan di Mali. “Eropa harus membantu memulihkan keamanan di Mali. Negara itu dilanda pemberontakan militan Islam di bagian Utara,” ujar Menteri Luar Negeri Jerman, Guido Westerwelle, Selasa (23/10/2012).
Seperti dikutip dari thestar, Westerwelle yang baru saja melakukan pembicaraan di Berlin dengan utusan PBB untuk wilayah Sahel, Romano Prodi, mengaku sangat khawatir dengan perkembangan situasi di Mali.
“Kami berharap negara-negara di Eropa dapat memberikan dukungan melalui pelatihan militer untuk misi Afrika. Akan ada dukungan dari Jerman dan Eropa, tapi bukan pengiriman pasukan tempur, melainkan dukungan melalui pelatihan misi Afrika," lanjutnya.
Westerwelle meyakini, jika kondisi Mali tak aman, maka bisa menyuburkan aksi terorisme. "Dari bagian Utara Mali, Anda hanya perlu menyeberang satu perbatasan internasional untuk masuk ke Mediterania. Jika keamanan di wilayah Utara runtuh, maka kamp pelatihan teroris akan bermunculan,” jelasnya.
Jika hal ini terjadi, maka wilayah Mali Utara akan jadi surga bagi terorisme global. “Hal ini tidak hanya akan membahayakan Mali dan wilayah Utara Afrika, tapi juga akan mengancam kita di Eropa,” tandasnya.
Kekacauan di Mali mulai muncul sejak Maret silam, saat militer menggulingkan Presiden. Kudeta ini meninggalkan kekosongan kekuasaan yang memungkinkan pemberontak Tuareg untuk merebut dua pertiga wilayah Mali.
Pemerintah Mali dan Uni Afrika telah meminta Dewan Keamanan (DK) PBB untuk mendukung intervensi militer internasional guna membantu Mali merebut kembali wilayah Utara. Tapi, 15 anggota DK PBB menginginkan rencana yang lebih rinci sebelum menyetujui operasi militer tersebut.
Seperti dikutip dari thestar, Westerwelle yang baru saja melakukan pembicaraan di Berlin dengan utusan PBB untuk wilayah Sahel, Romano Prodi, mengaku sangat khawatir dengan perkembangan situasi di Mali.
“Kami berharap negara-negara di Eropa dapat memberikan dukungan melalui pelatihan militer untuk misi Afrika. Akan ada dukungan dari Jerman dan Eropa, tapi bukan pengiriman pasukan tempur, melainkan dukungan melalui pelatihan misi Afrika," lanjutnya.
Westerwelle meyakini, jika kondisi Mali tak aman, maka bisa menyuburkan aksi terorisme. "Dari bagian Utara Mali, Anda hanya perlu menyeberang satu perbatasan internasional untuk masuk ke Mediterania. Jika keamanan di wilayah Utara runtuh, maka kamp pelatihan teroris akan bermunculan,” jelasnya.
Jika hal ini terjadi, maka wilayah Mali Utara akan jadi surga bagi terorisme global. “Hal ini tidak hanya akan membahayakan Mali dan wilayah Utara Afrika, tapi juga akan mengancam kita di Eropa,” tandasnya.
Kekacauan di Mali mulai muncul sejak Maret silam, saat militer menggulingkan Presiden. Kudeta ini meninggalkan kekosongan kekuasaan yang memungkinkan pemberontak Tuareg untuk merebut dua pertiga wilayah Mali.
Pemerintah Mali dan Uni Afrika telah meminta Dewan Keamanan (DK) PBB untuk mendukung intervensi militer internasional guna membantu Mali merebut kembali wilayah Utara. Tapi, 15 anggota DK PBB menginginkan rencana yang lebih rinci sebelum menyetujui operasi militer tersebut.
(esn)