Myamar gagalkan rencana pembangunan gedung perwakilan OKI
Senin, 15 Oktober 2012 - 20:21 WIB
Myamar gagalkan rencana pembangunan gedung perwakilan OKI
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Myanmar akhirnya menggagalkan rencana Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk membuka kantor perwakilan di Myanmar. Putusan ini diambil setelah ribuan biksu turun ke jalanan kota Myanmar mengelar aksi protes.
"Presiden Myanmar tidak mengizinkan OKI membuka kantor perwakilan di Myanmar. Sebab, hal ini tidak sesuai dengan keinginan rakyat Myanmar," ungkap salah seorang pejabat Myanmar, seperti dilansir Rappler.com, Senin (15/10/2012).
Sementara itu, hari ini sekitar 3000 biksu kembali melakukan aksi protes di Mandalay, Myanmar sambil membawa spanduk bertulisan "OKI Tidak Boleh Ada di Myanmar."
Pengunjuk rasa menilai, selama ini OKI tidak pernah bekerja untuk kemanusiaan, melainkan hanya mendukung hak untuk warga Muslim.
Sejauh ini, warga Rohingya yang mayoritas beragama Islam kerap dituduh menjadi sumber kerusuhan di Myanmar. Mereka pun kerap dianggap bak teroris Benggala yang sering membunuh warga pribumi dengan sadis.
Ketegangan antara umat Budha dan Rohingya pecah pada Juni lalu. Saat itu, kedua kelompok terlibat betrok di Negara Bagian Arakan. Sekitar 80 orang dilaporkan tewas dalam bentrok mematikan tersebut.
Sampai saat ini, warga Rohingya masih hidup di dalam kesengsaraan. Mereka dianggap sebagai kelompok minoritas yang paling terdiskriminasi di dunia ini, karena mereka tidak diakui sebagai warga negara Myanmar.
"Presiden Myanmar tidak mengizinkan OKI membuka kantor perwakilan di Myanmar. Sebab, hal ini tidak sesuai dengan keinginan rakyat Myanmar," ungkap salah seorang pejabat Myanmar, seperti dilansir Rappler.com, Senin (15/10/2012).
Sementara itu, hari ini sekitar 3000 biksu kembali melakukan aksi protes di Mandalay, Myanmar sambil membawa spanduk bertulisan "OKI Tidak Boleh Ada di Myanmar."
Pengunjuk rasa menilai, selama ini OKI tidak pernah bekerja untuk kemanusiaan, melainkan hanya mendukung hak untuk warga Muslim.
Sejauh ini, warga Rohingya yang mayoritas beragama Islam kerap dituduh menjadi sumber kerusuhan di Myanmar. Mereka pun kerap dianggap bak teroris Benggala yang sering membunuh warga pribumi dengan sadis.
Ketegangan antara umat Budha dan Rohingya pecah pada Juni lalu. Saat itu, kedua kelompok terlibat betrok di Negara Bagian Arakan. Sekitar 80 orang dilaporkan tewas dalam bentrok mematikan tersebut.
Sampai saat ini, warga Rohingya masih hidup di dalam kesengsaraan. Mereka dianggap sebagai kelompok minoritas yang paling terdiskriminasi di dunia ini, karena mereka tidak diakui sebagai warga negara Myanmar.
(aww)