Kecelakaan tak mampu hentikan pengembangan roket

Rabu, 26 September 2012 - 07:55 WIB
Kecelakaan tak mampu...
Kecelakaan tak mampu hentikan pengembangan roket
A A A
Sindonews.com - Pada 7 Agustus 2012, roket pembawa satelit Proton- M gagal mengorbitkan dua buah satelit pada orbit yang diinginkan. Satu satelit itu milik Rusia, Express MD2, sedangkan satu lagi milik Indonesia yang juga buatan Rusia, Telkom-3.

Ternyata satelit-satelit tersebut mengorbit pada orbit yang salah, dan walaupun para pakar Rusia berhari-hari berusaha melakukan kontak sebanyak tiga sampai lima kali sehari dengan satelit Telkom-3, dan memang semua sistem komunikasi satelit berjalan baik, namun untuk menggunakannya seperti tujuan awal tidak memungkinkan. Yang menjadi masalah utama pada kecelakaan ini diduga berasal dari mesin pendorong, Briz-M.

Sudah banyak komentar negatif atas kecelakaan ini, baik dari Rusia maupun dari luar negeri. Komentar-komentar itu terlihat tergesa-gesa menarik kesimpulan akan hubungan kerja sama jangka panjang antara Indonesia dan Rusia dalam bidang antariksa. Namun, sebenarnya situasi yang terjadi tidak seburuk yang diberitakan, termasuk yang diberitakan media massa di Indonesia.

Mengembalikan Reputasi

Perlu digarisbawahi bahwa satelit Indonesia ini tidak hanya diasuransikan pada perusahaan asuransi Indonesia dan Rusia dengan jumlah total nilai pertanggungan USD192,5 juta, tapi juga direasuransikan pada bursa dunia. Jadi bagi mereka yang suka membahas mengenai kerugian dari sisi Indonesia, jelas informasi tersebut salah.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa PT Telekomunikasi Indonesia menderita kerugian dari keuntungan jasa layanan yang akan sedianya bisa diperoleh bila satelit bekerja semestinya, tapi waktu untuk menunggu satelit baru dapat diperpendek.

Sudah dipastikan bahwa kegagalan beruntun yang dialami antariksa Rusia pada 2010-2011, mustahil tidak memberikan dampak pada citranya. Bersamaan dengan itu, tidak dapat dimungkiri bahwa kegagalan ini merupakan dampak dari kurangnya perhatian terhadap bidang antariksa dan dari sisi investasinya di masa sebelumnya, menurut pendapat para pakar, hal ini disebabkan oleh akhir resesi. Terlepas dari hal tersebut, langkah-langkah yang kini diambil untuk mengembalikan kinerjanya sudah mulai menunjukkan hasil yang nyata.

Yang menjadi indikator perbaikannya adalah statistik peluncuran yang meningkat pesat. Hingga akhir Agustus,di Rusia telah dilaksanakan 15 kali peluncuran,termasuk satu kali kegagalan; dan hingga akhir tahun nanti, jumlah tersebut akan bertambah menjadi 21 kali peluncuran–seperti yang umumnya terjadi, semester kedua setiap tahunnya merupakan “periode antariksa yang aktif”di Rusia.

Apabila semua berjalan sesuai dengan yang direncanakan, 2012 akan menjadi tahun teraktif pascaera Uni Soviet, setelah 1994 (pada tahun ini dilakukan 49 kali peluncuran roket di Rusia). Peningkatan diharapkan akan terjadi pada tahun-tahun mendatang, dengan program peluncuran direncanakan diperluas di segala bidang, baik untuk tujuan pengetahuan, komersial, maupun militer.

Termasuk juga dengan rencana peluncuran roket pembawa baru, yang sedianya akan diluncurkan pada musim semi tahun 2013, dari kosmodrom Plesetsk, yang untuk pertama kalinya menggunakan roket pembawa yang bernama Angara. Menariknya, roket pembawa ini merupakan roket pertama hasil karya pascaera Uni Soviet.

Sementara itu, roket-roket lain yang telah digunakan selama ini masih akan terus digunakan hingga beberapa tahun bahkan 10 tahun ke depan, yang mana keandalannya sudah tidak diragukan lagi.Penyempurnaan keandalan Proton dan mesin peluncurnya membawa terhadap perubahan signifikan,bahkan dari sisi sumber daya manusianya pada pusat penelitian dan produksi luar angkasa Khrunichev.

Pembaruan sumber daya manusianya tidak hanya dari sisi pemimpinnya. Pada perusahaan yang bergerak di bidang ini, saat ini lebih sering terlihat generasi muda, yang sedang menjalani persiapan tambahan pada pusat pelatihan, yang dibentuk perusahaan perusahaan besar, misalnya pusat pendidikan baru dalam bidang pengembangan mesin roket utama, Energomash. Upah yang diterima dalam bidang ini pun terus mengalami penyesuaian ke arah yang lebih baik. Hal ini tentunya memungkinkan untuk melakukan pemilihan calon pekerjanya.

Perlukah berbalik arah di tengah jalan?

Kegagalan yang dialami Indonesia membuat banyak pihak mempertanyakan perlunya Indonesia untuk melanjutkan hubungan kerja sama bidang antariksa dengan Rusia. Namun, jawaban untuk pertanyaan ini mungkin tidak disangka: Rusia bagaimanapun merupakan partner yang paling optimal bagi Indonesia untuk bekerja sama dalam bidang ini. Untuk mendukung hal ini berikut, ada beberapa solusinya.

Pertama,Rusia kini sudah memiliki pengalaman yang mendalam untuk pengerjaan produk antariksa sesuai dengan pesanan khusus Indonesia dan yang telah disesuaikan dengan kebutuhannya. Kedua, kemampuannya untuk cepat bangkit dari kegagalan berdasarkan penelitian mendalam dan mempelajari alasan-alasannya, seperti yang dilakukan di Rusia, membuktikan bahwa tidak ada satu pun kecelakaan roket pembawa yang mampu menghentikan perkembangan bidang antariksa ini, bila dibandingkan dengan kemampuannya untuk memperbaikinya.

Produksi dan peluncuran produk antariksa menjadi suatu hal yang rutin bagi dunia antariksa Rusia dan dikerjakan sampai sedetail mungkin. Pemulihan atas kelemahannya akan mendorong untuk memberikan perhatian lebih terhadap disiplin dan kehati-hatian pada produksinya, yang tentu saja akan mengembalikan situasi ke tempat semula.

Untuk hal ini, jelas dicontohkan oleh kesuksesan percobaan lanjutan raket pembawa Bulava, statistik peluncurannya berjalan lancar setelah mendapat perhatian khusus “dari atas”. Ketiga, Rusia sudah memikirkan sistem kerja sama dan pengasuransian roket hingga sangat terperinci. Maka bila pihak Indonesia tiba-tiba menolak untuk menggunakan jasa Rusia lagi, Indonesia akan mengeluarkan dana lebih banyak untuk memulai kerja sama lagi dengan partner baru, melebihi harga satelit baru.

Terakhir, Rusia mampu menyediakan sebuah paket jasa bidang antariksa yang lengkap– mulai peluncuran biasa hingga suatu pekerjaan yang lebih rumit lagi, yakni membuat “rasi” satelit dengan permintaan yang khusus dari negaranya, dari sisi komersial, pengetahuan dan militer, kepada Indonesia. Dan yang patut digarisbawahi, harga yang ditawarkan akan jauh lebih murah dibandingkan jasa serupa oleh negara lain. Yang terpenting di sini, insiden yang terjadi pada 7 Agustus tersebut telah menyita perhatian pemimpin Rusia. Hal ini tentunya membawa harapan bahwa akan terjadi peningkatan tajam pada kualitas produk dan efektivitas penggunaan anggaran.

Apakah Telkom-4 akan meluncur?

Memang hingga saat ini tanggal pasti peluncuran satelit Telkom-4 masih belum ditentukan. Namun untuk melanjutkan kerja samanya, tentunya akan memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak. Tidak menutup kemungkinan bahwa kerja sama keduanya akan berlanjut, setidaknya perusahaan yang bertanggung jawab terhadap produksi dan peluncuran satelit Telkom-3, yakni ISS Reshetnev, sudah mengumumkan kesiapannya untuk berpartisipasi dalam tender pembuatan satelit Telkom-4, bila pihak Indonesia akan membuka tender tersebut.

“Kami telah memberikan penawaran kepada pihak Indonesia untuk membangun pengganti satelit terdahulu ,bahkan kami menyanggupi untuk membangunnya dua kali lebih cepat dari yang pertama. Jika PT TELKOM berkeinginan agar kami yang membangun satelit tersebut, untuk pembiayaannya dapat menggunakan dana yang diperoleh dari pihak perusahaan asuransi,”ujar Kepala Perancangan dan CEO ISS Reshetnev Nikolay Testoedov.
(aww)
Berita Terkait
Para Pemimpin UE Siapkan...
Para Pemimpin UE Siapkan Sanksi Keras ke Rusia
Militer Rusia Kembali...
Militer Rusia Kembali Bombardir Fasilitas Utama di Ukraina
Rudal Rusia Hantam Pasar...
Rudal Rusia Hantam Pasar di Ukraina, 16 Orang Tewas
Pertempuran Sengit di...
Pertempuran Sengit di Mariupol, Pejuang Chechnya bunuh Pasukan Asing
Begini Momen saat Pesawat...
Begini Momen saat Pesawat Canggih Rusia SU-35S Hancurkan Markas Militer Ukraina dengan Rudal
Roket Uragan Rusia Hantam...
Roket Uragan Rusia Hantam Apartemen di Kota Chasiv Yar, 10 Tewas dan Puluhan Lain Tertimbun
Berita Terkini
Balas AS, Iran Ancam...
Balas AS, Iran Ancam Serang Habis-habisan Infrastruktur Regional
1 jam yang lalu
Trump Tuduh China Ikut...
Trump Tuduh China Ikut Campur Pemilu AS: Kompromi Data Terbesar dalam Sejarah!
2 jam yang lalu
China Investasikan Rp900...
China Investasikan Rp900 Triliun untuk Pelabuhan Afrika, Analis Soroti Risiko Utang
2 jam yang lalu
Ini 2 Kapal Induk dan...
Ini 2 Kapal Induk dan 22 Kapal Perang AS yang Blokade Iran
3 jam yang lalu
Media China Gambarkan...
Media China Gambarkan Orang Filipina sebagai Monyet, Manila Marah
4 jam yang lalu
Wapres AS JD Vance:...
Wapres AS JD Vance: Epstein Terhubung dengan Level Tertinggi CIA dan Mossad
4 jam yang lalu
Infografis
Skuad Timnas Inggris...
Skuad Timnas Inggris di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Liverpool
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved