Prancis buka penyelidikan
Rabu, 19 September 2012 - 09:34 WIB
Prancis buka penyelidikan
A
A
A
Sindonews.com - Jaksa Prancis kemarin membuka investigasi kriminal awal terhadap publikasi foto telanjang dada istri Pangeran William, Catherine.
Penyidikan itu digelar setelah adanya laporan yang dilayangkan pasangan bangsawan Inggris itu. Penyelidikan awal itu akan membuat jaksa bisa memutuskan apakah akan memprosesnya dengan investigasi penuh atas tuduhan, bahwa mengabadikan dan memublikasikan foto-foto itu telah melanggar hak privasi pasangan itu berdasarkan undang-undang Prancis.
AFP melaporkan, jaksa juga akan memutuskan terhadap siapakah proses hukum itu diarahkan. Gugatan kerajaan menyebut orang yang tidak dikenal.
Namun, beberapa ajudan menuturkan bahwa mereka ingin proses hukum diberlakukan kepada editor majalah Closer yang memajang foto-foto itu pada Jumat (14/9),dan fotografer yang mengabadikan gambar pasangan itu yang sedang berjemur di sebuah rumah peristirahatan di selatan Prancis awal bulan ini.
Sementara William dan Catherine, yang dulu dikenal sebagai Kate Middleton, berusaha mendapatkan pelarangan untuk mencegah publikasi foto-foto itu, yang sudah dicetak ulang oleh beberapa penerbitan di Irlandia dan Italia.
Pengacara pasangan kerajaan ini mengatakan bahwa publikasi foto-foto yang dilakukan majalah Prancis telah melanggar privasi mereka. Karena itu, mereka ingin majalah Closer menyerahkan foto tersebut, untuk mencegah publikasi lebih lanjut, atau menghadapi denda harian.
Hakim di pengadilan Nanterre, dekat Paris,kemarin memutuskan agar Closer menyerahkan foto-foto telanjang dada Kate dalam waktu 24 jam serta melarang penjualan ulang foto tersebut. Di bawah hukum Prancis, proses ganti rugi yang berkaitan dengan proses hukum bisa mencapai puluhan ribu euro.
Menurut teori, editor majalah dan fotografer dapat dijebloskan ke penjara selama satu tahun. Aurelien Hamelle, pengacara yang mewakili Pangeran William dan Catherine, mengatakan bahwa foto telanjang dada itu sangat intim dan pribadi serta tidak punya tempat di halaman depan majalah.
Dia menyatakan pasangan itu tidak mungkin tahu mereka sedang difoto,dan menambahkan jika foto itu hanya bisa diambil dengan menggunakan lensa panjang.Jika foto digital asli tidak diserahkan, perusahaan yang memiliki Closerakan menghadapi denda sebesar 10.000 euro untuk setiap hari.
Merespons ancaman ini, seorang pengacara Closer mengatakan bahwa reaksi pasangan kerajaan itu tidak proporsional. Delphine Pando, mewakili Closer,mengatakan bahwa foto-foto telanjang dada itu tidak lagi dianggap mengejutkan dalam masyarakat modern.
Pando membantah bahwa rumah peristirahatan di selatan Prancis, tempat pasangan kerajaan yang saat itu tengah berjemur, tidak dapat diakses pandangan publik.Dia juga menyebutkan majalah tidak memegang hak atas foto, sehingga tidak dapat dibuktikan bahwa majalah berniat memublikasikan foto mereka.
Menurut laporan BBC di Paris, sebagian besar pengacara tampaknya setuju bahwa di bawah hukum Prancis yang ketat, foto telanjang dada itu mewakili sebuah pelanggaran privasi.
Sementara itu editor Closer, Laurence Pieau, telah membela publikasi foto telanjang dada dan bersikeras foto-foto itu tidak terlalu mengejutkan. Bahkan, dia menegaskan masih banyak foto intim lainnya yang belum dipublikasikan.
Penyidikan itu digelar setelah adanya laporan yang dilayangkan pasangan bangsawan Inggris itu. Penyelidikan awal itu akan membuat jaksa bisa memutuskan apakah akan memprosesnya dengan investigasi penuh atas tuduhan, bahwa mengabadikan dan memublikasikan foto-foto itu telah melanggar hak privasi pasangan itu berdasarkan undang-undang Prancis.
AFP melaporkan, jaksa juga akan memutuskan terhadap siapakah proses hukum itu diarahkan. Gugatan kerajaan menyebut orang yang tidak dikenal.
Namun, beberapa ajudan menuturkan bahwa mereka ingin proses hukum diberlakukan kepada editor majalah Closer yang memajang foto-foto itu pada Jumat (14/9),dan fotografer yang mengabadikan gambar pasangan itu yang sedang berjemur di sebuah rumah peristirahatan di selatan Prancis awal bulan ini.
Sementara William dan Catherine, yang dulu dikenal sebagai Kate Middleton, berusaha mendapatkan pelarangan untuk mencegah publikasi foto-foto itu, yang sudah dicetak ulang oleh beberapa penerbitan di Irlandia dan Italia.
Pengacara pasangan kerajaan ini mengatakan bahwa publikasi foto-foto yang dilakukan majalah Prancis telah melanggar privasi mereka. Karena itu, mereka ingin majalah Closer menyerahkan foto tersebut, untuk mencegah publikasi lebih lanjut, atau menghadapi denda harian.
Hakim di pengadilan Nanterre, dekat Paris,kemarin memutuskan agar Closer menyerahkan foto-foto telanjang dada Kate dalam waktu 24 jam serta melarang penjualan ulang foto tersebut. Di bawah hukum Prancis, proses ganti rugi yang berkaitan dengan proses hukum bisa mencapai puluhan ribu euro.
Menurut teori, editor majalah dan fotografer dapat dijebloskan ke penjara selama satu tahun. Aurelien Hamelle, pengacara yang mewakili Pangeran William dan Catherine, mengatakan bahwa foto telanjang dada itu sangat intim dan pribadi serta tidak punya tempat di halaman depan majalah.
Dia menyatakan pasangan itu tidak mungkin tahu mereka sedang difoto,dan menambahkan jika foto itu hanya bisa diambil dengan menggunakan lensa panjang.Jika foto digital asli tidak diserahkan, perusahaan yang memiliki Closerakan menghadapi denda sebesar 10.000 euro untuk setiap hari.
Merespons ancaman ini, seorang pengacara Closer mengatakan bahwa reaksi pasangan kerajaan itu tidak proporsional. Delphine Pando, mewakili Closer,mengatakan bahwa foto-foto telanjang dada itu tidak lagi dianggap mengejutkan dalam masyarakat modern.
Pando membantah bahwa rumah peristirahatan di selatan Prancis, tempat pasangan kerajaan yang saat itu tengah berjemur, tidak dapat diakses pandangan publik.Dia juga menyebutkan majalah tidak memegang hak atas foto, sehingga tidak dapat dibuktikan bahwa majalah berniat memublikasikan foto mereka.
Menurut laporan BBC di Paris, sebagian besar pengacara tampaknya setuju bahwa di bawah hukum Prancis yang ketat, foto telanjang dada itu mewakili sebuah pelanggaran privasi.
Sementara itu editor Closer, Laurence Pieau, telah membela publikasi foto telanjang dada dan bersikeras foto-foto itu tidak terlalu mengejutkan. Bahkan, dia menegaskan masih banyak foto intim lainnya yang belum dipublikasikan.
(aww)