Presiden Sudan jamin keselamatan staf diplomatik AS
Selasa, 18 September 2012 - 15:06 WIB
Presiden Sudan jamin keselamatan staf diplomatik AS
A
A
A
Sindonews.com - Presiden Sudan Omar al-Bashir mengkonfirmasi bahwa negaranya tidak akan mengizinkan pasukan Amerika Serikat (AS) mengamankan staf diplomatik mereka di Sudan, menegaskan Sudan mampu memberikan keamanan bagi staff diplomatik AS.
"Kami mampu dan berjanji untuk memberikan keamanan bagi warga asing dan staf kedutaan, serta tidak menerima kehadiran pasukan asing di Sudan," ungkap al-Bashir usai bertemu dengan Presiden Mesir, Mohamed Morsi seperti dilansir RIA Novosti, Selasa (18/9/2012).
Sebelumnya, Jumat 14 September lalu gedung konsulat AS dan Jerman di Khartoum, Sudan diserbu 5000 perusuh. Serangan tersebut digagalkan oleh pasukan militer dan kepolisian Sudan dengan melepaskan sebuah tembakan peringatan dan semprotan gas air mata kearah kerumunan perusuh.
Akibat serangan tersebut, AS meminta izin kepada pamerintah Sudan agar mengizinkan 50 Angkatan Laut AS untuk memberikan perlindungan pada staf diplomatik mereka. Namun, permintaan tersebut segera ditolak oleh pihak Kementerian Luar Negeri Sudan.
Aksi bentrok di depan gedung konsulat AS dipicu oleh pembuatan film Innocence of Muslims, sebuah film yang mengundang protes karena menghina nabi Muhammad. Dimana, betrokan paling sengit antara polisi dan pengunjuk rasa pecah di Libya. Dalam bentrok tersebut Duta Besar AS Chris Stevens dilaporkan tewas.
Jumat lalu pemerintah AS kemarin mulai meningkatkan keamanan di seluruh fasilitas diplomatiknya menyusul demonstrasi anti-AS semakin menguat di Timur Tengah dan Afrika Utara serta negara muslim lain.
"Kami mampu dan berjanji untuk memberikan keamanan bagi warga asing dan staf kedutaan, serta tidak menerima kehadiran pasukan asing di Sudan," ungkap al-Bashir usai bertemu dengan Presiden Mesir, Mohamed Morsi seperti dilansir RIA Novosti, Selasa (18/9/2012).
Sebelumnya, Jumat 14 September lalu gedung konsulat AS dan Jerman di Khartoum, Sudan diserbu 5000 perusuh. Serangan tersebut digagalkan oleh pasukan militer dan kepolisian Sudan dengan melepaskan sebuah tembakan peringatan dan semprotan gas air mata kearah kerumunan perusuh.
Akibat serangan tersebut, AS meminta izin kepada pamerintah Sudan agar mengizinkan 50 Angkatan Laut AS untuk memberikan perlindungan pada staf diplomatik mereka. Namun, permintaan tersebut segera ditolak oleh pihak Kementerian Luar Negeri Sudan.
Aksi bentrok di depan gedung konsulat AS dipicu oleh pembuatan film Innocence of Muslims, sebuah film yang mengundang protes karena menghina nabi Muhammad. Dimana, betrokan paling sengit antara polisi dan pengunjuk rasa pecah di Libya. Dalam bentrok tersebut Duta Besar AS Chris Stevens dilaporkan tewas.
Jumat lalu pemerintah AS kemarin mulai meningkatkan keamanan di seluruh fasilitas diplomatiknya menyusul demonstrasi anti-AS semakin menguat di Timur Tengah dan Afrika Utara serta negara muslim lain.
(aww)