Standar keamanan jadi orotan pasca kebakaran pabrik
Sabtu, 15 September 2012 - 10:25 WIB
Standar keamanan jadi orotan pasca kebakaran pabrik
A
A
A
Sindonews.com - Kematian 289 pekerja yang terpanggang di pabrik garmen yang terbakar ikut menyoroti faktor keselamatan industri Pakistan dan meningkatkan kekhawatiran pada sektor pakaian yang vital bagi perekonomian India.
Saat ini perusahaan Barat yang membeli pakaian dan tekstil asal Pakistan kembali mengetatkan pengawasan mereka, yakni meneliti cara kerja pemasok mereka setelah bencana kebakaran Selasa lalu.
Menurut catatan polisi, pabrik Ali Enterprises yang terbakar Selasa (11/9) lalu siap mengekspor pakaian jadi ke Amerika Utara dan Eropa Barat, meskipun tidak jelas merek atau brandapa yang dipakai. Namun dalam pasar global yang sangat kompetitif, analis memperingatkan, pemilik pabrik menghadapi dilema yang sulit.
Yakni,standar keamanan yang lebih tinggi mau tak mau akan menuntut biaya produksi yang lebih tinggi. Menurut Kamar Dagang dan Industri Karachi (KCCI), Karachi, kota terbesar dan pusat komersial Pakistan, memiliki sekitar 10.000 pabrik di tujuh kawasan industri.Belum lagi setidaknya 50.000 cottage dan industri kecil di sektor informal yang berbasis di wilayah pemukiman.
Mantan pejabat administrasi Karachi Fahim Zaman Khan mengatakan kepada AFP bahwa Ali Enterprises adalah pabrik yang khas dari banyak unit serupa di kota.
“Tidak ada satu pabrik di Karachi yang berbeda dalam bentuk dan fasilitas seperti yang kebakaran Selasa lalu. Setiap orang, termasuk para pejabat kami, bisa melihat pabrik serupa di dekat tempat yang terbakar itu, tapi mereka menghindari untuk mengambil tindakan,”ujar dia.
Khan mengatakan,Karachi adalah wilayah metropolis yang luas yang dihuni 18 juta orang tapi perencanaan darurat sangat menyedihkan.Menurut dia,kota ini hanya memiliki beberapa bangunan yang memenuhi persyaratan pintu keluar darurat yang tepat.
“Kami memiliki pemadam kebakaran yang hanya memiliki 35 petugas dalam kondisi kerja namun kota ini memiliki ratusan ribu bangunan yang berbahaya. Manajemen bencana kami sama sekali tidak memadai,” tegasnya. Kepala kota, Mohammad Hussain Syed juga menyetujui pendapat itu.
Dia menjelaskan, hanya sedikit perusahaan di Karachi yang dibangun atas rencana pembangunan yang tepat.
“Pintu keluar sepatutnya disebutkan dalam rencana yang disetujui oleh pihak berwenang namun pemilik berhasil lolos dengan alasan untuk menghemat uang dan lahan ekstra sehingga mempertaruhkan nyawa yang berharga,”papar dia.
Sementara,menurut laporan Pakistan Today, Nasir Mansoor dari Federasi Uni Perdagangan Nasional National mengatakan, langkah-langkah keamanan telah diabaikan di pabrik itu.
“Di pabrik Ali Enterprises hanya ada satu pintu keluar untuk lebih dari 500 pekerja pada saat darurat,semua jendela memiliki jeruji besi dan pintu serta tangga dipenuhi dengan barang-barang,” ujarnya.
Analis Hasan Askari menilai langkah licik korupsi dan manuver politik memungkinkan pemilik pabrik lolos dari beberapa aturan dan fokus pada menghasilkan uang. Sedangkan, Ketua Perdagangan Industri Estate Sindh, Irfan Moton, mengatakan bahwa tragedi Ali Enterprises akan merusak citra ekspor Pakistan.
Padahal,perdagangan garmen sangat penting bagi perekonomian Pakistan, khususnya sektor ekspor. Menurut data bank sentral, industri tekstil memberikan kontribusi 7,4% ke PDB Pakistan pada tahun 2011 dan mempekerjakan 38% tenaga kerja manufaktur. Sektor ini juga menyumbang 55,6% dari total ekspor, yakni sekitar USD11 miliar.
Saat ini perusahaan Barat yang membeli pakaian dan tekstil asal Pakistan kembali mengetatkan pengawasan mereka, yakni meneliti cara kerja pemasok mereka setelah bencana kebakaran Selasa lalu.
Menurut catatan polisi, pabrik Ali Enterprises yang terbakar Selasa (11/9) lalu siap mengekspor pakaian jadi ke Amerika Utara dan Eropa Barat, meskipun tidak jelas merek atau brandapa yang dipakai. Namun dalam pasar global yang sangat kompetitif, analis memperingatkan, pemilik pabrik menghadapi dilema yang sulit.
Yakni,standar keamanan yang lebih tinggi mau tak mau akan menuntut biaya produksi yang lebih tinggi. Menurut Kamar Dagang dan Industri Karachi (KCCI), Karachi, kota terbesar dan pusat komersial Pakistan, memiliki sekitar 10.000 pabrik di tujuh kawasan industri.Belum lagi setidaknya 50.000 cottage dan industri kecil di sektor informal yang berbasis di wilayah pemukiman.
Mantan pejabat administrasi Karachi Fahim Zaman Khan mengatakan kepada AFP bahwa Ali Enterprises adalah pabrik yang khas dari banyak unit serupa di kota.
“Tidak ada satu pabrik di Karachi yang berbeda dalam bentuk dan fasilitas seperti yang kebakaran Selasa lalu. Setiap orang, termasuk para pejabat kami, bisa melihat pabrik serupa di dekat tempat yang terbakar itu, tapi mereka menghindari untuk mengambil tindakan,”ujar dia.
Khan mengatakan,Karachi adalah wilayah metropolis yang luas yang dihuni 18 juta orang tapi perencanaan darurat sangat menyedihkan.Menurut dia,kota ini hanya memiliki beberapa bangunan yang memenuhi persyaratan pintu keluar darurat yang tepat.
“Kami memiliki pemadam kebakaran yang hanya memiliki 35 petugas dalam kondisi kerja namun kota ini memiliki ratusan ribu bangunan yang berbahaya. Manajemen bencana kami sama sekali tidak memadai,” tegasnya. Kepala kota, Mohammad Hussain Syed juga menyetujui pendapat itu.
Dia menjelaskan, hanya sedikit perusahaan di Karachi yang dibangun atas rencana pembangunan yang tepat.
“Pintu keluar sepatutnya disebutkan dalam rencana yang disetujui oleh pihak berwenang namun pemilik berhasil lolos dengan alasan untuk menghemat uang dan lahan ekstra sehingga mempertaruhkan nyawa yang berharga,”papar dia.
Sementara,menurut laporan Pakistan Today, Nasir Mansoor dari Federasi Uni Perdagangan Nasional National mengatakan, langkah-langkah keamanan telah diabaikan di pabrik itu.
“Di pabrik Ali Enterprises hanya ada satu pintu keluar untuk lebih dari 500 pekerja pada saat darurat,semua jendela memiliki jeruji besi dan pintu serta tangga dipenuhi dengan barang-barang,” ujarnya.
Analis Hasan Askari menilai langkah licik korupsi dan manuver politik memungkinkan pemilik pabrik lolos dari beberapa aturan dan fokus pada menghasilkan uang. Sedangkan, Ketua Perdagangan Industri Estate Sindh, Irfan Moton, mengatakan bahwa tragedi Ali Enterprises akan merusak citra ekspor Pakistan.
Padahal,perdagangan garmen sangat penting bagi perekonomian Pakistan, khususnya sektor ekspor. Menurut data bank sentral, industri tekstil memberikan kontribusi 7,4% ke PDB Pakistan pada tahun 2011 dan mempekerjakan 38% tenaga kerja manufaktur. Sektor ini juga menyumbang 55,6% dari total ekspor, yakni sekitar USD11 miliar.
(aww)