China peringatkan Hillary

Rabu, 05 September 2012 - 09:44 WIB
China peringatkan Hillary
China peringatkan Hillary
A A A
Sindonews.com - Beijing telah memperingatkan Amerika Serikat (AS) agar tidak menjadi wasit dalam konflik di Laut China Selatan. Sementara, Hillary menekankan agar China menahan diri.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Hong Lei mengatakan,Washington bukan pihak yang membantu dalam menyelesaikan konflik maritim yang terjadi di Laut China Selatan.

“Kami mencatat bahwa AS telah menyatakan berulang kali bahwa mereka tidak berpihak,”kata Hong ketika ditanya mengenai peranan AS seperti dikutip Reuters.

Usai mengunjungi Jakarta selama dua hari, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton kemarin langsung terbang ke Beijing. Hari ini Hillary dijadwalkan bakal bertemu Presiden China Hu Jintao dan Wakil Presiden Xi Jinping. Xi dipercaya bakal menggantikan Hu pada kongres Partai Komunis pada akhir tahun ini. Hillary dan Hu bakal mendiskusikan ketegangan di Laut China Selatan.

“Kami berharap bahwa AS bakal menepati janji-janjinya dan melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi perdamaian regional dan stabilitas serta tidak sebaliknya.” Sayangnya,Hong tidak menjawab langsung pertanyaan mengenai posisi resmi China.

“China, sama seperti negara lain di dunia, tugasnya adalah melindungi kedaulatan dan integritas teritorial,”tegasnya. Tak kalah kerasnya, koran milik Partai Komunis, People’s Daily,menulis bahwa klaim teritorial Laut China Selatan merupakan “kepentingan nasional utama” Beijing.

Itu menyiratkan kalau isu Laut China Selatan itu sama pentingnya dengan kedaulatan Tibet dan Xinjiang. Penentangan terhadap AS juga ditunjukkan tabloid Global Times. Dalam editorial media itu, Hillary dituding selalu mengutamakan kecurigaan.

“Banyak orang tidak suka Hillary,” demikian tulis Global Times. “Dia membawa ketidakpercayaan baru dan ekstrem di antara masyarakat kedua negara.” Padahal, Washington berulang kali menyatakan mereka tidak menempatkan posisi dalam konflik Laut China Selatan.

Tapi, Paman Sam menginginkan suatu hal yang sederhana untuk melihat mekanisme dalam menyelesaikan isu tersebut. “Salah satu tantangan bagi kita adalah menunjukkan bagaimana kita menghadapi berbagai isu di berbagai wilayah di mana kita memiliki persepsi yang berbeda dan di mana kita menghadapi berbagai isu menantang di daratan ataupun isu di perairan,”ujar salah satu pejabat senior AS.

Faktanya, AS terlalu berpihak kepada sekutunya, seperti halnya Filipina yang ikut dalam konflik Laut China Selatan. Washington berjanji membantu Manila dengan melakukan latihan perang di sekitar wilayah yang dipersengketakan. Mark Valencia,pakar konflik maritim Asia-Pasifik,menegaskan bahwa AS berpihak kepada Perhimpunan Bangsa-Bangsa AsiaTenggara (ASEAN).

Keberpihakan itu tidak membutuhkan klaim bahwa mereka itu benar.“ Tapi, itu didasarkan karena kebaikan ASEAN yang diperoleh AS itu lebih banyak dibandingkan China,”kata Valencia. China bakal berhati-hati dengan kunjungan Hillary. Pasalnya, pada kunjungan April lalu, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) China Chen Guangcheng mengasingkan diri ke kedutaan besar AS dan meminta suaka ke New York.

Para pejabat AS juga berharap tidak ada kejutan dalam kunjungan Hillary selama 24 jam di Beijing. Sebelumnya Filipina dan Vietnam memang memprotes langkah keras China yang mereka nilai sebagai bentuk intimidasi untuk menghadapi klaim mereka. ASEAN sendiri saat ini telah menyepakati enam prinsip dalam code of conduct untuk menyelesaikan sengketa wilayah yang melibatkan sejumlah negara anggota organisasi tersebut.

Namun, China sejauh ini memberikan respons yang tidak begitu baik terhadap langkah AS mendekati sejumlah negara ASEAN terkait proses penyelesaian sengketa di Laut China Selatan. Media milik pemerintah China menuduh AS berupaya memperkuat ASEAN dalam menghadapi China terkait sengketa di Laut China Selatan.

China sebelumnya mengklaim hampir sebagian wilayah di Laut China Selatan,mereka telah mengungkapkan lebih tertarik untuk melakukan negosiasi dengan setiap
()
Berita Terkait
Kapal Induk AS Gelar...
Kapal Induk AS Gelar Latihan di Laut China Selatan
Dekati Kepulauan Paracel,...
Dekati Kepulauan Paracel, China Kirim Peringatan ke Kapal Berpeluru Kendali AS
Kirim Kapal Perang Berpeluru...
Kirim Kapal Perang Berpeluru Kendali, AS Tantang Klaim China di LCS
AS Sangkal Kapal Perangnya...
AS Sangkal Kapal Perangnya Diusir China di Laut China Selatan
AS: Undang-undang Maritim...
AS: Undang-undang Maritim Baru China Langgar Perjanjian Internasional
Pesawat Bomber AS dan...
Pesawat Bomber AS dan Kapal Induk China 'Pemanasan' di Laut China Selatan
Berita Terkini
Apa Arti Las Malvinas...
Apa Arti 'Las Malvinas Son Argentinas'? Slogan yang Dikibarkan Timnas Argentina Ternyata Menyimpan Luka Sejarah 200 Tahun
1 jam yang lalu
Maroko Tandatangani...
Maroko Tandatangani Perjanjian dengan Dewan Perdamaian untuk Gabung Pasukan Internasional Gaza
2 jam yang lalu
Pria Ini Ditusuk 15...
Pria Ini Ditusuk 15 Kali di Mal AS Hanya karena Beragama Islam
4 jam yang lalu
Anggota Politbiro Partai...
Anggota Politbiro Partai Komunis China Dipecat karena Korupsi Skala Besar dan Skandal Seks
5 jam yang lalu
Perang Iran Meluas,...
Perang Iran Meluas, AS Jual Senjata ke Arab Saudi dan Kuwait Total Rp36,2 Triliun
5 jam yang lalu
Profil Sheikh Hamad...
Profil Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Sosok di Balik Lompatan Qatar dari Negara Gurun Menjadi Raksasa Kaya Dunia
6 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved