Brahimi akui misi perdamaian Suriah mendekati mustahil
Selasa, 04 September 2012 - 09:18 WIB
Brahimi akui misi perdamaian Suriah mendekati mustahil
A
A
A
Sindonews.com - Utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Liga Arab untuk Suriah yang baru,Lakhdar Brahimi,merasa cukup pesimistis dengan tugas berat yang menghadangnya.
Diplomat veteran asal Aljazair yang menggantikan posisi Kofi Annan itu menganggap misinya “mendekati mustahil”, berhasil.
Annan mengundurkan diri karena tidak melihat lagi jalan untuk menyukseskan misinya setelah rencana damainya gagal menciptakan gencatan senjata permanen.
“Saya memasuki pekerjaan ini dengan mata saya terbuka dan tanpa khayalan. Saya tahu bagaimana kesulitannya, yang mendekati mustahil.” Saya tidak dapat mengatakan mustahil, ini hampir mustahil,” tutur Brahimi kepada BBCdalam wawancara di New York.
Beberapa pihak yakin Brahimi dapat melakukan lebih banyak hal. Meski demikian, dia tetap menjaga agar ekspektasi terhadapnya tetap rendah. Brahimi berencana mengunjungi Suriah dan bertemu Presiden Suriah Bashar al-Assad pada 8 September.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Suriah Jihad Makdissi menjelaskan, Suriah akan memberi Brahimi semua yang dia perlukan untuk membuat misinya sukses demi kepentingan negara.
Mantan Menteri Luar Negeri (menlu) Aljazair itu pernah memegang sejumlah posisi penting di PBB, termasuk Utusan PBB untuk Afghanistan dan mediator kesepakatan damai yang mengakhiri perang sipil Lebanon. Pengamat mengatakan, dia memiliki reputasi hebat di PBB dan penunjukannya sebagai utusan PBB untuk Suriah sangat disambut baik. Namun, Brahimi mengakui ada sejumlah keraguan terkait misi barunya.
Dia pun menyatakan dapat memahami rasa frustrasi akibat kurangnya langkah internasional di Suriah. “Saya khawatir dengan beratnya tanggung jawab. Mereka sudah mengatakan,‘Orang sedang sekarang dan apa yang kamu lakukan?’ dan kita tidak melakukan banyak hal.Itu sendiri sudah merupakan beban yang berat,”tutur Brahimi.
Dia menyatakan sejauh ini tidak bisa melihat ada celah apapun dalam “dinding bata” yang telah mengalahkan tekad Annan, antara lain sikap pemerintah Suriah yang keras pendirian, meningkatnya pemberontakan, dan lumpuhnya Dewan Keamanan PBB,karena China dan Rusia mengeluarkan bebe-rapa veto yang bertujuan menerapkan sanksi terhadap Damaskus.
Brahimi menegaskan akan tetap mempertahankan enam rencana damai Annan, meskipun banyak pihak menganggapnya sudah tidak relevan lagi. Dia mengakui bahwa Annan memiliki banyak ide, namun belum ada perencanaan yang baik, termasuk untuk berdiskusi dengan orang sebanyak mungkin.
Menurut Brahimi, perlu perubahan politik di Suriah secara mendasar. Namun,dia menolak menyatakan apakah Presiden Assad harus mundur dari jabatannya, seperti yang diinginkan oposisi dan beberapa pemimpin Barat.
“Perubahan tidak bisa hanya di luar permukaan.Perlu ada satu orde baru, tapi saya tidak tahu siapa yang akan diberi mandat oleh rakyat.Itu terserah bagi rakyat Suriah untuk memutuskan nya,” katanya. Brahimi berupaya menjaga jarak antara dia dan pemberontak yang mengkritiknya atas sikapnya yang terlalu berhati-hati.
Diplomat veteran asal Aljazair yang menggantikan posisi Kofi Annan itu menganggap misinya “mendekati mustahil”, berhasil.
Annan mengundurkan diri karena tidak melihat lagi jalan untuk menyukseskan misinya setelah rencana damainya gagal menciptakan gencatan senjata permanen.
“Saya memasuki pekerjaan ini dengan mata saya terbuka dan tanpa khayalan. Saya tahu bagaimana kesulitannya, yang mendekati mustahil.” Saya tidak dapat mengatakan mustahil, ini hampir mustahil,” tutur Brahimi kepada BBCdalam wawancara di New York.
Beberapa pihak yakin Brahimi dapat melakukan lebih banyak hal. Meski demikian, dia tetap menjaga agar ekspektasi terhadapnya tetap rendah. Brahimi berencana mengunjungi Suriah dan bertemu Presiden Suriah Bashar al-Assad pada 8 September.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Suriah Jihad Makdissi menjelaskan, Suriah akan memberi Brahimi semua yang dia perlukan untuk membuat misinya sukses demi kepentingan negara.
Mantan Menteri Luar Negeri (menlu) Aljazair itu pernah memegang sejumlah posisi penting di PBB, termasuk Utusan PBB untuk Afghanistan dan mediator kesepakatan damai yang mengakhiri perang sipil Lebanon. Pengamat mengatakan, dia memiliki reputasi hebat di PBB dan penunjukannya sebagai utusan PBB untuk Suriah sangat disambut baik. Namun, Brahimi mengakui ada sejumlah keraguan terkait misi barunya.
Dia pun menyatakan dapat memahami rasa frustrasi akibat kurangnya langkah internasional di Suriah. “Saya khawatir dengan beratnya tanggung jawab. Mereka sudah mengatakan,‘Orang sedang sekarang dan apa yang kamu lakukan?’ dan kita tidak melakukan banyak hal.Itu sendiri sudah merupakan beban yang berat,”tutur Brahimi.
Dia menyatakan sejauh ini tidak bisa melihat ada celah apapun dalam “dinding bata” yang telah mengalahkan tekad Annan, antara lain sikap pemerintah Suriah yang keras pendirian, meningkatnya pemberontakan, dan lumpuhnya Dewan Keamanan PBB,karena China dan Rusia mengeluarkan bebe-rapa veto yang bertujuan menerapkan sanksi terhadap Damaskus.
Brahimi menegaskan akan tetap mempertahankan enam rencana damai Annan, meskipun banyak pihak menganggapnya sudah tidak relevan lagi. Dia mengakui bahwa Annan memiliki banyak ide, namun belum ada perencanaan yang baik, termasuk untuk berdiskusi dengan orang sebanyak mungkin.
Menurut Brahimi, perlu perubahan politik di Suriah secara mendasar. Namun,dia menolak menyatakan apakah Presiden Assad harus mundur dari jabatannya, seperti yang diinginkan oposisi dan beberapa pemimpin Barat.
“Perubahan tidak bisa hanya di luar permukaan.Perlu ada satu orde baru, tapi saya tidak tahu siapa yang akan diberi mandat oleh rakyat.Itu terserah bagi rakyat Suriah untuk memutuskan nya,” katanya. Brahimi berupaya menjaga jarak antara dia dan pemberontak yang mengkritiknya atas sikapnya yang terlalu berhati-hati.
()