Menilik agenda Paman Sam
Selasa, 04 September 2012 - 08:29 WIB
Menilik agenda Paman Sam
A
A
A
Sindonews.com - Kedatangan Menteri Luar Amerika Serikat (AS) Negeri Hillary Clinton ke Indonesia yang dimulai kemarin membawa 1.001 agenda AS. Tak hanya membawa kepentingan ekonomi, mengamankan investasi AS di Indonesia. Namun, dia juga membawa kepentingan misi internasional, seperti penanganan konflik Laut China Selatan, yang merupakan isu prioritas Hillary.
Menurut pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia Hariyadi Wirawan, kunjungan Hillary Clinton ke Jakarta membawa misi strategis dan kepentingan AS.“Tentunya Hillary menginginkan pemenuhan semua kepentingan negaranya di Indonesia,” kata Hariyadi kepada harian SINDO. Memang, tidak mungkin kunjungan pemimpin korps diplomatik AS itu tak membawa makna yang jelas bagi negara yang dikunjunginya. Agenda yang dimainkan oleh Hillary itu sangat memberikan dampak nyata bagi Indonesia.
Menurut Hariyadi, minimal peningkatan hubungan bilateral antara Indonesia dan AS yang akan terlihat di masa depan. Hariyadi menegaskan, terkait isu kepentingan AS dalam penanganan konflik Laut China Selatan yang dibawa dalam kunjungan tersebut, Hillary meminta Indonesia untuk lebih berani dalam menyikapi konflik Laut China Selatan.
Dorongan Hillary ke Indonesia didasari karena AS ingin memainkan hegemoni di Asia- Pasifik. Pasalnya, dalam isu Laut China Selatan,AS berhadapan langsung dengan China yang juga ingin mengembangkan hegemoninya di Asia.Tak bisa dimungkiri, AS tetap menganggap China sebagai ancaman. Hariyadi mengatakan bahwa Hillary menginginkan Indonesia tetap menjadi mitra Washington. “AS ingin mempertahankan hegemoninya yang telah mengakar di Asia melalui isu Laut China Selatan.
AS juga sangat paham dengan kemampuan China dalam menangani isu tersebut,”kata Hariyadi. Di situlah, peranan Indonesia sangat besar untuk bermain dalam isu Laut China Selatan. Hillary pun ingin menyamakan persepsi mengenai isu tersebut dengan Indonesia. Hariyadi memberikan catatan penting bahwa posisi Indonesia di ASEAN cukuplah kuat.
Apalagi,Indonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara.“ Indonesia memiliki pengaruh untuk membujuk anggota ASEAN lainnya,”katanya. Apalagi, Indonesia tidak memiliki kepentingan tertentu mengenai isu Laut China Selatan dan tidak ikut konflik itu. Itu memudahkan Indonesia dalam mengambil sikap. “Kepentingan Indonesia adalah menjadikan Laut China Selatan tidak menjadi ajang konflik karena itu berdekatan dengan Kepulauan Natuna,” katanya.
Dalam wawancaranya dengan radio Australia, Hariyadi menyatakan, menurut beberapa kontaknya di Kedutaan Besar China di Jakarta,Beijing mengkhawatirkan niat kunjungan Hillary itu. “Mereka sangat mengkhawatirkan karakteristik kunjungan itu, dan dasar kunjungan Hillary Clinton itu sangatlah rahasia, tidak banyak orang terlibat dalam perundingan itu,” ujar Hariyadi dalam wawancara itu.
“Semua orang akan bilang kalau ini adalah kunjungan yang direncanakan dengan sangat baik dan kita akan membicarakan masalah serius di kawasan ini.” Sementara dalam pandangan Ganewati Wuryandari,pengamat politik luar negeri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI),kunjungan Hillary lebih menyangkut isu ekonomi di mana dalam tataran global,AS sedang mengalami krisis ekonomi.
Perkembangan isu Laut China Selatan juga memaksa Hillary untuk berkunjung ke Jakarta. “Selanjutnya adalah penguatan hubungan bilateral antara Indonesia dan AS,” katanya. Ganewati menggarisbawahi, dalam isu Laut China Selatan sebenarnya Indonesia telah memainkan peranan yang cukup signifikan. “Bahkan, sebelum isu tersebut meledak saat ini, Indonesia telah menekankan pentingnya isu tersebut diselesaikan,”tuturnya.
Menurut dia, sejak awal Indonesia telah menempatkan diri sebagai mediator dalam konflik Laut China Selatan. “Indonesia memiliki modal dengan pengalaman untuk menjadi mediator yang baik dalam menyelesaikan isu itu,” kata Ganewati. Menurut dia, Hillary bakal mendorong Indonesia menjadi mediator yang lebih intensif dalampenyelesaianisutersebut. Menurut Ganewati, Hillary memilih Indonesia sebagai mediator karena Indonesia telah berhasil dalam politik luar negeri.
Indonesia berperan sangat aktif dalam masalah lingkungan hidup, misalnya konvensi karbon.“Ketika negara maju enggan menyepakati konvensi karbon, Indonesia sangat berani berinisiatif menyepakatinya,” katanya. Dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI),Indonesia juga memiliki pengalaman banyak.“Indonesia memiliki modalitas untuk menjadi mediator yang baik,” imbuhnya.
Sementara, Ernie Bower dari Center for Strategic and International Studies mengatakan, kunjungan Clinton yang ketiga kalinya ke Asia sejak Mei merupakan bagian dari upaya untuk melembagakan kehadiran AS di benua tersebut, terutama Pasifik. “Salah satu motivasi yang sangat besar di balik itu adalah untuk mengelola China dengan baik, tapi menurut saya tidak semua hal ini tentang China,”terang Bower yang juga menjabat sebagai Direktur Program Asia Tenggara,seperti dikutip AFP.
“Ada juga banyak manfaat intrinsik untuk AS melalui hubungan yang baik, hubungan keamanan dan hubungan ekonomi di Asia.” Selama berada di Indonesia, Hillary menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dan hari ini dijadwalkan bertemu Presiden Susilo BambangYudhoyono.
Menurut pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia Hariyadi Wirawan, kunjungan Hillary Clinton ke Jakarta membawa misi strategis dan kepentingan AS.“Tentunya Hillary menginginkan pemenuhan semua kepentingan negaranya di Indonesia,” kata Hariyadi kepada harian SINDO. Memang, tidak mungkin kunjungan pemimpin korps diplomatik AS itu tak membawa makna yang jelas bagi negara yang dikunjunginya. Agenda yang dimainkan oleh Hillary itu sangat memberikan dampak nyata bagi Indonesia.
Menurut Hariyadi, minimal peningkatan hubungan bilateral antara Indonesia dan AS yang akan terlihat di masa depan. Hariyadi menegaskan, terkait isu kepentingan AS dalam penanganan konflik Laut China Selatan yang dibawa dalam kunjungan tersebut, Hillary meminta Indonesia untuk lebih berani dalam menyikapi konflik Laut China Selatan.
Dorongan Hillary ke Indonesia didasari karena AS ingin memainkan hegemoni di Asia- Pasifik. Pasalnya, dalam isu Laut China Selatan,AS berhadapan langsung dengan China yang juga ingin mengembangkan hegemoninya di Asia.Tak bisa dimungkiri, AS tetap menganggap China sebagai ancaman. Hariyadi mengatakan bahwa Hillary menginginkan Indonesia tetap menjadi mitra Washington. “AS ingin mempertahankan hegemoninya yang telah mengakar di Asia melalui isu Laut China Selatan.
AS juga sangat paham dengan kemampuan China dalam menangani isu tersebut,”kata Hariyadi. Di situlah, peranan Indonesia sangat besar untuk bermain dalam isu Laut China Selatan. Hillary pun ingin menyamakan persepsi mengenai isu tersebut dengan Indonesia. Hariyadi memberikan catatan penting bahwa posisi Indonesia di ASEAN cukuplah kuat.
Apalagi,Indonesia merupakan negara terbesar di Asia Tenggara.“ Indonesia memiliki pengaruh untuk membujuk anggota ASEAN lainnya,”katanya. Apalagi, Indonesia tidak memiliki kepentingan tertentu mengenai isu Laut China Selatan dan tidak ikut konflik itu. Itu memudahkan Indonesia dalam mengambil sikap. “Kepentingan Indonesia adalah menjadikan Laut China Selatan tidak menjadi ajang konflik karena itu berdekatan dengan Kepulauan Natuna,” katanya.
Dalam wawancaranya dengan radio Australia, Hariyadi menyatakan, menurut beberapa kontaknya di Kedutaan Besar China di Jakarta,Beijing mengkhawatirkan niat kunjungan Hillary itu. “Mereka sangat mengkhawatirkan karakteristik kunjungan itu, dan dasar kunjungan Hillary Clinton itu sangatlah rahasia, tidak banyak orang terlibat dalam perundingan itu,” ujar Hariyadi dalam wawancara itu.
“Semua orang akan bilang kalau ini adalah kunjungan yang direncanakan dengan sangat baik dan kita akan membicarakan masalah serius di kawasan ini.” Sementara dalam pandangan Ganewati Wuryandari,pengamat politik luar negeri dari Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI),kunjungan Hillary lebih menyangkut isu ekonomi di mana dalam tataran global,AS sedang mengalami krisis ekonomi.
Perkembangan isu Laut China Selatan juga memaksa Hillary untuk berkunjung ke Jakarta. “Selanjutnya adalah penguatan hubungan bilateral antara Indonesia dan AS,” katanya. Ganewati menggarisbawahi, dalam isu Laut China Selatan sebenarnya Indonesia telah memainkan peranan yang cukup signifikan. “Bahkan, sebelum isu tersebut meledak saat ini, Indonesia telah menekankan pentingnya isu tersebut diselesaikan,”tuturnya.
Menurut dia, sejak awal Indonesia telah menempatkan diri sebagai mediator dalam konflik Laut China Selatan. “Indonesia memiliki modal dengan pengalaman untuk menjadi mediator yang baik dalam menyelesaikan isu itu,” kata Ganewati. Menurut dia, Hillary bakal mendorong Indonesia menjadi mediator yang lebih intensif dalampenyelesaianisutersebut. Menurut Ganewati, Hillary memilih Indonesia sebagai mediator karena Indonesia telah berhasil dalam politik luar negeri.
Indonesia berperan sangat aktif dalam masalah lingkungan hidup, misalnya konvensi karbon.“Ketika negara maju enggan menyepakati konvensi karbon, Indonesia sangat berani berinisiatif menyepakatinya,” katanya. Dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI),Indonesia juga memiliki pengalaman banyak.“Indonesia memiliki modalitas untuk menjadi mediator yang baik,” imbuhnya.
Sementara, Ernie Bower dari Center for Strategic and International Studies mengatakan, kunjungan Clinton yang ketiga kalinya ke Asia sejak Mei merupakan bagian dari upaya untuk melembagakan kehadiran AS di benua tersebut, terutama Pasifik. “Salah satu motivasi yang sangat besar di balik itu adalah untuk mengelola China dengan baik, tapi menurut saya tidak semua hal ini tentang China,”terang Bower yang juga menjabat sebagai Direktur Program Asia Tenggara,seperti dikutip AFP.
“Ada juga banyak manfaat intrinsik untuk AS melalui hubungan yang baik, hubungan keamanan dan hubungan ekonomi di Asia.” Selama berada di Indonesia, Hillary menggelar pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dan hari ini dijadwalkan bertemu Presiden Susilo BambangYudhoyono.
()