Prancis dukung intervensi militer di Mali
Senin, 06 Agustus 2012 - 11:09 WIB
Prancis dukung intervensi militer di Mali
A
A
A
Sindonews.com - Menteri Pertahanan Perancis Jean-Yves Le Drian mengatakan pemerintah Prancis mendukung langkah intervensi militer untuk menumpas gerilyawan di Mali.
"Intervensi militer merupakan sebuah kebutuhan dan tak bisa dihindari," ungkap Le Drian seperti diberitakan Xinhua, Senin (6/8/2012).
Le Drian mengatakan, Prancis tidak akan mengambil inisiatif menerjunkan pasukan ke Mali. Sejalan dengan resolusi Dewan Kemanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Prancis berharap pasukan pertama yang diutus menumpas geriliyawan Mali datang dari pasukan Afrika.
Seperti dikatakan Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius sebelumnya, Prancis tidak akan mengirim pasukan ke Mali, tapi akan membantu negara-negara Afrika Barat untuk mendapatkan persetujuan dari masyarakat internasional untuk menggunakan kekuatan.
Dalam kesempatan tersebut Le Drian juga mengungkapkan keprihatinan Prancis atas situasi di utara Mali, dimana kelompok gerilyawan selaman hampir lima bulan masih memegang kendali atas wilayan bagian utara.
Sejak pemerintah Mali dikudeta pada Maret lalu, militer Mali terus berjuang untuk menumpas kelompok Islam garis keras dan pasukan pemberontak Tuareg yang berambisi memerdekakan wilayah Mali bagian utara. Kalompok ini dengan mudah menguasai mali bagian utara di tengah kekacauan di pemerintahan.
Menurut data PBB, sebanyak 260 ribu penduduk Mali bagian utara dilaporkan telah mengungsi ke beberapa negara tetangga terdekat guna menghindari konflik.
"Intervensi militer merupakan sebuah kebutuhan dan tak bisa dihindari," ungkap Le Drian seperti diberitakan Xinhua, Senin (6/8/2012).
Le Drian mengatakan, Prancis tidak akan mengambil inisiatif menerjunkan pasukan ke Mali. Sejalan dengan resolusi Dewan Kemanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Prancis berharap pasukan pertama yang diutus menumpas geriliyawan Mali datang dari pasukan Afrika.
Seperti dikatakan Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius sebelumnya, Prancis tidak akan mengirim pasukan ke Mali, tapi akan membantu negara-negara Afrika Barat untuk mendapatkan persetujuan dari masyarakat internasional untuk menggunakan kekuatan.
Dalam kesempatan tersebut Le Drian juga mengungkapkan keprihatinan Prancis atas situasi di utara Mali, dimana kelompok gerilyawan selaman hampir lima bulan masih memegang kendali atas wilayan bagian utara.
Sejak pemerintah Mali dikudeta pada Maret lalu, militer Mali terus berjuang untuk menumpas kelompok Islam garis keras dan pasukan pemberontak Tuareg yang berambisi memerdekakan wilayah Mali bagian utara. Kalompok ini dengan mudah menguasai mali bagian utara di tengah kekacauan di pemerintahan.
Menurut data PBB, sebanyak 260 ribu penduduk Mali bagian utara dilaporkan telah mengungsi ke beberapa negara tetangga terdekat guna menghindari konflik.
()