Sudan tutup sekolah setelah 8 remaja tewas
Kamis, 02 Agustus 2012 - 14:08 WIB
Sudan tutup sekolah setelah 8 remaja tewas
A
A
A
Sindonews.com - Pemerintah Sudan memerintahkan menutup sekolah di ibu kota Darfur, Sudan untuk sementara waktu menyusul ditemukannya delapan jasad remaja tewas. Jumlah tersebut merupakan angka resmi yang dikonfirmasi Pemerintah Sudan terkait aksi protes sejak enam minggu lalu.
"Sebanyak delapan orang ditemukan tewas di dalam sekolah dan 24 orang terluka, tiga diantaranya menderita luka serius," seperti diberitakan SUNA, Kamis (2/8/2012).
Pengumuman tersebut disiarkan Radio lokal di Nyala kepada Penduduk Sudan. Selain itu, Pemerintah Sudan juga memutuskan untuk menutup sejumlah pasar yang menjadi fokus serangan para demonstran. Sejumlah Polisi Sudan pun telah dikerahkan di seluruh penjuru kota.
Aksi demonstrasi di Sudan dimulai sejak bulan lalu ketika mahasiswa Universitas Khartoum memprotes kenaikan harga pangan yang tinggi, hingga akhirnya menolak rezim 23 tahun dari Presiden Omar al-Bashir.
Kenaikan inflasi yang terus meroket sebesar 37 persen bulan Juni lalu, memaksa Pemerintah Sudan mengumumkan langkah penghematan, diantaranya menaikan harga pajak dan menghentikan subsidi bahan bakar murah.
Sejumlah aktivis pembela hak asasi manusia mengatakan, korban tewas akibat kekerasan dan demonstrasi masih remaja. Polisi Sudan tidak merinci penyebab kematian para remaja, tetapi mereka dilaporkan tewas saat demonstran mulai membakar sebuah pom bensin dan kantor polisi di wilayah Nyala.
"Demonstrasi dimulai karena siswa menolak keputusan pemerintah untuk menaikan harga transportasi," ujar juru bicara pemerintah daerah Darfur Selatan, Bothina Mohammed Ahmed, seperti diberitakan Capitalfm, Kamis (2/8/2012).
Sementara itu, saksi mata di lokasi kejadian mengatakan, polisi menembakan gas air mata untuk membubarkan demonstran yang mulai melempari gedung pemerintahan dan membakar ban di pinggir jalan.
"Sebanyak delapan orang ditemukan tewas di dalam sekolah dan 24 orang terluka, tiga diantaranya menderita luka serius," seperti diberitakan SUNA, Kamis (2/8/2012).
Pengumuman tersebut disiarkan Radio lokal di Nyala kepada Penduduk Sudan. Selain itu, Pemerintah Sudan juga memutuskan untuk menutup sejumlah pasar yang menjadi fokus serangan para demonstran. Sejumlah Polisi Sudan pun telah dikerahkan di seluruh penjuru kota.
Aksi demonstrasi di Sudan dimulai sejak bulan lalu ketika mahasiswa Universitas Khartoum memprotes kenaikan harga pangan yang tinggi, hingga akhirnya menolak rezim 23 tahun dari Presiden Omar al-Bashir.
Kenaikan inflasi yang terus meroket sebesar 37 persen bulan Juni lalu, memaksa Pemerintah Sudan mengumumkan langkah penghematan, diantaranya menaikan harga pajak dan menghentikan subsidi bahan bakar murah.
Sejumlah aktivis pembela hak asasi manusia mengatakan, korban tewas akibat kekerasan dan demonstrasi masih remaja. Polisi Sudan tidak merinci penyebab kematian para remaja, tetapi mereka dilaporkan tewas saat demonstran mulai membakar sebuah pom bensin dan kantor polisi di wilayah Nyala.
"Demonstrasi dimulai karena siswa menolak keputusan pemerintah untuk menaikan harga transportasi," ujar juru bicara pemerintah daerah Darfur Selatan, Bothina Mohammed Ahmed, seperti diberitakan Capitalfm, Kamis (2/8/2012).
Sementara itu, saksi mata di lokasi kejadian mengatakan, polisi menembakan gas air mata untuk membubarkan demonstran yang mulai melempari gedung pemerintahan dan membakar ban di pinggir jalan.
()