Rusia jamin keamanan senjata kimia
Kamis, 26 Juli 2012 - 10:11 WIB
Rusia jamin keamanan senjata kimia
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Suriah kemarin memastikan keamanan senjata kimianya kepada Pemerintah Rusia setelah Moskow meminta Damaskus agar tidak menggunakan senjata itu dalam konflik berdarah yang masih terus bergejolak.
“Kami menerima jaminan kepastian dari Damaskus bahwa keamanan gudang senjata kimia mereka benar-benar terjamin,” papar Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Gennady Gatilov dalam wawancara dengan ITAR-TASS.
Gatilov menegaskan, Suriah sebagai penanda tangan protokol Jenewa yang melarang penggunaan senjata kimia telah menandaskan dirinya pada kewajiban untuk tidak menggunakan metode senjata perang seperti itu.
“Kami menganggap Suriah harus memenuhi kewajibannya,” ujar dia. Tapi, Gatilov memperingatkan bahwa apa pun jaminan dari rezim Presiden Suriah Bas har al-Assad, senjata kimia itu bisa saja jatuh ke tangan oposisi.
“Kita seharusnya tidak melupakan pihak lain yang dipertanyakan, yang disebut oposisi bersenjata yang bertindak di sana-sini. Tidak bisa dikesampingkan bahwa gudang senjata kimia bisa saja jatuh ke tangan mereka,”ujarnya dikutipAFP.
Senin (23/7) lalu Suriah mengakui memiliki senjata kimia dan memperingatkan mereka bisa menggunakannya jika diserang pihak luar, sementara menegaskan tidak akan menggunakannya terhadap warga sipil.
Pemerintah Rusia merespons pengakuan itu dengan meminta sekutu era-Soviet itu untuk mematuhi kesepakatan internasional dan menahan diri dari penggunaan senjata kimia, meski tidak langsung menyalahkan Suriah karena membuat ancaman itu.
Sementara,gelombang pembelotan kembali mengguncang Suriah kemarin setelah duta besar negara itu untuk Uni Emirat Arab (UEA) dan Siprus, yang merupakan pasangan suami istri, telah membelot ke Qatar. Mereka adalah diplomat senior kedua dan ketiga yang bergabung dengan oposisi setelah Duta Besar Suriah untuk Irak Nawaf al-Fares membelot ke Qatar dua pekan lalu.
“Kami menerima jaminan kepastian dari Damaskus bahwa keamanan gudang senjata kimia mereka benar-benar terjamin,” papar Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Gennady Gatilov dalam wawancara dengan ITAR-TASS.
Gatilov menegaskan, Suriah sebagai penanda tangan protokol Jenewa yang melarang penggunaan senjata kimia telah menandaskan dirinya pada kewajiban untuk tidak menggunakan metode senjata perang seperti itu.
“Kami menganggap Suriah harus memenuhi kewajibannya,” ujar dia. Tapi, Gatilov memperingatkan bahwa apa pun jaminan dari rezim Presiden Suriah Bas har al-Assad, senjata kimia itu bisa saja jatuh ke tangan oposisi.
“Kita seharusnya tidak melupakan pihak lain yang dipertanyakan, yang disebut oposisi bersenjata yang bertindak di sana-sini. Tidak bisa dikesampingkan bahwa gudang senjata kimia bisa saja jatuh ke tangan mereka,”ujarnya dikutipAFP.
Senin (23/7) lalu Suriah mengakui memiliki senjata kimia dan memperingatkan mereka bisa menggunakannya jika diserang pihak luar, sementara menegaskan tidak akan menggunakannya terhadap warga sipil.
Pemerintah Rusia merespons pengakuan itu dengan meminta sekutu era-Soviet itu untuk mematuhi kesepakatan internasional dan menahan diri dari penggunaan senjata kimia, meski tidak langsung menyalahkan Suriah karena membuat ancaman itu.
Sementara,gelombang pembelotan kembali mengguncang Suriah kemarin setelah duta besar negara itu untuk Uni Emirat Arab (UEA) dan Siprus, yang merupakan pasangan suami istri, telah membelot ke Qatar. Mereka adalah diplomat senior kedua dan ketiga yang bergabung dengan oposisi setelah Duta Besar Suriah untuk Irak Nawaf al-Fares membelot ke Qatar dua pekan lalu.
()