12 tentara dan 30 pejuang tewas di Tajikistan
Rabu, 25 Juli 2012 - 16:20 WIB
12 tentara dan 30 pejuang tewas di Tajikistan
A
A
A
Sindonews.com - Sedikitnya 12 tentara dan 30 pejuang tewas dalam operasi militer di Tajikistan. Pertempuran terjadi setelah pimpinan keamanan negeri ini terbunuh. Insiden tersebut membuat wilayah yang berbatasan dengan Afghanistan itu kembali bergejolak.
Korban tewas dan terluka sedang dipindahkan ke ibu kota Dushanbe dengan helikopter. Sekitar 500 km dari Dushanbe pemerintah pusat memiliki otoritas penuh. "Selama operasi militer terjadi di Provinsi Gorno-Badakhshan, 12 tentara tewas dan 30 gerilyawan tewas," kata dinas keamanan, seperti dikutip Aljazeera, Rabu (25/7/2012).
Pasukan Tajikistan telah masuk ke wilayah Gorno-Badakhshan timur dalam beberapa hari pasca pembunuhan Kepala Keamanan Umum Abdullo Nazarov. Operasi militer itu dilancarkan setelah Nazarov ditarik keluar dari mobilnya dan ditikam sampai mati pada Sabtu 21 Juli. Pihak berwenang menyalahkan mantan panglima perang yang memimpin pemberontakan lokal.
Bentrokan pada Selasa 24 Juli menandai kebangkitan terbesar kelompok pemberontak selama dua tahun di Tajikistan. Sekitar 40 pejuang ditangkap di negara dengan mayoritas penduduk Muslim ini, termasuk delapan warga Afghanistan. Sementara itu, 23 tentara juga cedera dalam bentrokan.
Saat ini, Pemerintah Tajikistan belum mengonfirmasi jumlah korban tewas. Sebagian warga sipil diduga menjadi korban selama operasi militer berlangsug. Selama pertempuran, pasukan militer menggunakan tank dan helikopter untuk menyerang pemberontak.
Pemberontakan berpusat di kota utama Khorog, yang terletak pada Pegunungan Pamir di timur perbatasan dengan Afghanistan. Kerusuhan itu menjadi tantangan keamanan yang paling serius bagi rezim Presiden Emomali Rahkmon sejak pasukan keamanan mengalami serangan berulang dari para pejuang di Lembah Rasht pada musim panas 2010.
Negara bekas Uni Soviet ini berbatasan dengan Afghanistan dan China, serta masih memulihkan diri dari perang 1992-1997.
Korban tewas dan terluka sedang dipindahkan ke ibu kota Dushanbe dengan helikopter. Sekitar 500 km dari Dushanbe pemerintah pusat memiliki otoritas penuh. "Selama operasi militer terjadi di Provinsi Gorno-Badakhshan, 12 tentara tewas dan 30 gerilyawan tewas," kata dinas keamanan, seperti dikutip Aljazeera, Rabu (25/7/2012).
Pasukan Tajikistan telah masuk ke wilayah Gorno-Badakhshan timur dalam beberapa hari pasca pembunuhan Kepala Keamanan Umum Abdullo Nazarov. Operasi militer itu dilancarkan setelah Nazarov ditarik keluar dari mobilnya dan ditikam sampai mati pada Sabtu 21 Juli. Pihak berwenang menyalahkan mantan panglima perang yang memimpin pemberontakan lokal.
Bentrokan pada Selasa 24 Juli menandai kebangkitan terbesar kelompok pemberontak selama dua tahun di Tajikistan. Sekitar 40 pejuang ditangkap di negara dengan mayoritas penduduk Muslim ini, termasuk delapan warga Afghanistan. Sementara itu, 23 tentara juga cedera dalam bentrokan.
Saat ini, Pemerintah Tajikistan belum mengonfirmasi jumlah korban tewas. Sebagian warga sipil diduga menjadi korban selama operasi militer berlangsug. Selama pertempuran, pasukan militer menggunakan tank dan helikopter untuk menyerang pemberontak.
Pemberontakan berpusat di kota utama Khorog, yang terletak pada Pegunungan Pamir di timur perbatasan dengan Afghanistan. Kerusuhan itu menjadi tantangan keamanan yang paling serius bagi rezim Presiden Emomali Rahkmon sejak pasukan keamanan mengalami serangan berulang dari para pejuang di Lembah Rasht pada musim panas 2010.
Negara bekas Uni Soviet ini berbatasan dengan Afghanistan dan China, serta masih memulihkan diri dari perang 1992-1997.
()