Presiden Suriah & keluarga bertahan di Damaskus
Senin, 23 Juli 2012 - 13:22 WIB
Presiden Suriah & keluarga bertahan di Damaskus
A
A
A
Sindonews.com – Presiden Suriah Bashar al-Assad dan keluarganya masih bertahan di ibu kota Damaskus. Dia terus memerintahkan serangan militer terhadap pemberontakan.
“Presiden Assad sekeluarga masih di Damaskus,” ujar kepala juru bicara pasukan bersenjata Israel, Brigadir Jenderal Yoav Mordechai, Seperti dilansir RIA Novosti, Senin (23/7/2012).
Setelah sebuah bom menewaskan empat pejabat tinggi Suriah hari Rabu 18 Juli lalu di ibu kota Damaskus tidak ada kepastian keberadaaan Assad. Presiden Suriah itu juga sudah lama tidak terlihat di depan publik.
Saat ini, militer masih setia kepada Assad, meskipun gelombang besar pemberontak telah menghancurkan Damaskus dan daerah di sekitarnya. Selain itu, Dewan Liga Arab juga mendesak Assad untuk mundur dan menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah sementara. Jika mengundurkan diri sebagai Presiden Suriah, keamanan dia dan keluarga akan dijamin.
Selama pertempuran di Suriah, sekitar 16 ribu orang dilaporkan tewas di sejak bulan Maret 2011, termasuk warga sipil. Kelompok hak asasi manusia memperkirakan, jumlah korban akan terus bertambah, karena hingga sekarang belum ada tanda perang akan berakhir.
“Presiden Assad sekeluarga masih di Damaskus,” ujar kepala juru bicara pasukan bersenjata Israel, Brigadir Jenderal Yoav Mordechai, Seperti dilansir RIA Novosti, Senin (23/7/2012).
Setelah sebuah bom menewaskan empat pejabat tinggi Suriah hari Rabu 18 Juli lalu di ibu kota Damaskus tidak ada kepastian keberadaaan Assad. Presiden Suriah itu juga sudah lama tidak terlihat di depan publik.
Saat ini, militer masih setia kepada Assad, meskipun gelombang besar pemberontak telah menghancurkan Damaskus dan daerah di sekitarnya. Selain itu, Dewan Liga Arab juga mendesak Assad untuk mundur dan menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah sementara. Jika mengundurkan diri sebagai Presiden Suriah, keamanan dia dan keluarga akan dijamin.
Selama pertempuran di Suriah, sekitar 16 ribu orang dilaporkan tewas di sejak bulan Maret 2011, termasuk warga sipil. Kelompok hak asasi manusia memperkirakan, jumlah korban akan terus bertambah, karena hingga sekarang belum ada tanda perang akan berakhir.
()