Rusia serahkan draf resolusi untuk Suriah
Rabu, 18 Juli 2012 - 11:47 WIB
Rusia serahkan draf resolusi untuk Suriah
A
A
A
Sindonews.com - Pertemuan antara utusan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kofi Annan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin berujung pada penyerahan draf resolusi Rusia untuk menyelesaikan konflik Suriah. Draf resolusi disusun guna menentang draf yang telah dibuat negara-negara Barat.
Sebelumnya, Inggris yang didukung Amerika Serikat (AS), Prancis, dan Jerman telah menyusun draf resolusi baru berdasarkan Bab 7 Piagam PBB. Draf itu memungkinkan pemberian sanksi dan operasi militer dari dunia internasional untuk menekan Suriah.
Sebaliknya, Rusia masih mempromosikan enam poin rencana perdamaian Kofi Annan sebagai satu-satunya cara menghentikan kekerasan di Suriah.
"Draf resolusi Rusia lebih megutamakan kepedulian terhadap situasi kemanusiaan, hak asasi manusia, dan gencatan senjata lokal," kata Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB, Alexander Pankin, setelah pertemuan antara Kofi Annan dan Presiden Putin. Seperti dilansir RIA Novosti, Rabu (18/7/2012).
Menurut Parkin, ide Kofi Annan dengan pemimpin Suriah akan lebih efektif dibanding pemberian sanksi dan intervensi militer. Versi terbaru rancangan draf resolusi Rusia berfokus pada perluasan misi pemantauan PBB di Suriah selama tiga bulan ke depan.
AS dan sekutunya telah menolak mendukung rancangan draf Rusia karena tidak mencerminkan kehadiran diplomat Barat dalam mengatasi masalah internasional. Sementara Rusia menanggapinya dengan mengancam akan memveto draf Barat jika diteruskan pada hari ini.
Sebelumnya, Inggris yang didukung Amerika Serikat (AS), Prancis, dan Jerman telah menyusun draf resolusi baru berdasarkan Bab 7 Piagam PBB. Draf itu memungkinkan pemberian sanksi dan operasi militer dari dunia internasional untuk menekan Suriah.
Sebaliknya, Rusia masih mempromosikan enam poin rencana perdamaian Kofi Annan sebagai satu-satunya cara menghentikan kekerasan di Suriah.
"Draf resolusi Rusia lebih megutamakan kepedulian terhadap situasi kemanusiaan, hak asasi manusia, dan gencatan senjata lokal," kata Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB, Alexander Pankin, setelah pertemuan antara Kofi Annan dan Presiden Putin. Seperti dilansir RIA Novosti, Rabu (18/7/2012).
Menurut Parkin, ide Kofi Annan dengan pemimpin Suriah akan lebih efektif dibanding pemberian sanksi dan intervensi militer. Versi terbaru rancangan draf resolusi Rusia berfokus pada perluasan misi pemantauan PBB di Suriah selama tiga bulan ke depan.
AS dan sekutunya telah menolak mendukung rancangan draf Rusia karena tidak mencerminkan kehadiran diplomat Barat dalam mengatasi masalah internasional. Sementara Rusia menanggapinya dengan mengancam akan memveto draf Barat jika diteruskan pada hari ini.
()