Dlamini-Zuma, pemimpin wanita pertama Uni Afrika
Senin, 16 Juli 2012 - 10:01 WIB
Dlamini-Zuma, pemimpin wanita pertama Uni Afrika
A
A
A
Sindonews.com - Majelis Uni Afrika (UA) menunjuk Nkosazana Dlamini-Zuma mengepalai 54 negara anggota organisasi pemersatu bangsa Afrika itu. Dlamini-Zuma mengalahkan pesaingnya Jean Ping ketua UA sebelumnya dari Gabon.
Mantan istri Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma tersebut, memenangkan jabatan Ketua UA pada pemungutan suara putaran ketiga.
Dia mendapatkan 37 suara dari 54 anggota UA, atau setara dengan 60 persen suara di Majelis UA. Seperti dilansir BBC, Senin (16/7/2012).
Suasana voting terbagi menjadi dua kelompok utama, negara Afrika berbahasa Inggris cenderung mendukung Ms Dlamini-Zuma, sementara negara berbahasa Prancis senderung mendukung Ping. Sementara itu, isu keamanan dan perdagangan mejadi dua isu utama selama voting berlangsung.
Kemenangan Dlamini-Zuma menjadikan ia sebagai pemimpin wanita pertama bagi UA. Sebelumnya ia menjabat menjadi Menteri Dalam Negeri Afrika Selatan.
Sejumlah kritikus menilai pencalonan Dlamini-Zuma merupakan pelanggaran atas tradisi tak tertulis yang dalam organisasi tersebut, posisi kepemimpinan tidak boleh ditempati oleh salah satu negara besar Afrika.
UA pada Januari lalu telah melakukan voting, namun tidak ada kandidat yang berhasil mendapatkan dua pertiga suara di majelis. Paska kebuntuan, sejumlah pejabat senior UA memperingatkan hal ini akan merusak kredibilitas organisasi ini.
Mantan istri Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma tersebut, memenangkan jabatan Ketua UA pada pemungutan suara putaran ketiga.
Dia mendapatkan 37 suara dari 54 anggota UA, atau setara dengan 60 persen suara di Majelis UA. Seperti dilansir BBC, Senin (16/7/2012).
Suasana voting terbagi menjadi dua kelompok utama, negara Afrika berbahasa Inggris cenderung mendukung Ms Dlamini-Zuma, sementara negara berbahasa Prancis senderung mendukung Ping. Sementara itu, isu keamanan dan perdagangan mejadi dua isu utama selama voting berlangsung.
Kemenangan Dlamini-Zuma menjadikan ia sebagai pemimpin wanita pertama bagi UA. Sebelumnya ia menjabat menjadi Menteri Dalam Negeri Afrika Selatan.
Sejumlah kritikus menilai pencalonan Dlamini-Zuma merupakan pelanggaran atas tradisi tak tertulis yang dalam organisasi tersebut, posisi kepemimpinan tidak boleh ditempati oleh salah satu negara besar Afrika.
UA pada Januari lalu telah melakukan voting, namun tidak ada kandidat yang berhasil mendapatkan dua pertiga suara di majelis. Paska kebuntuan, sejumlah pejabat senior UA memperingatkan hal ini akan merusak kredibilitas organisasi ini.
()