Suriah sangkal gunakan senjata berat di Tremseh
Minggu, 15 Juli 2012 - 19:23 WIB
Suriah sangkal gunakan senjata berat di Tremseh
A
A
A
Sindonews.com – Pemerintah Suriah menyangkal penggunaan senjata berat dalam pembantaian minggu lalu di DesaTremseh. Menurut Kementerian Luar Negeri Suriah, penyataan utusan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Suriah, Kofi Annan, yang menyebutkan Pemerintah Suriah menggunakan helikopter dan artileri terlalu tergesa-gesa.
Suriah membantah tuduhan PBB yang menyatakan militer negara menggunakan senjata berat dalam bentrokan di Desa Tremseh pekan lalu. “Militer Suriah turun tangan dalam konflik antara pasukan oposisi dan warga sipil, karena pemberontak berusaha melancarkan serangan terhadap daerah lain,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Suriah, Jihad Makdissi, seperti dikutip Aljazeera, Minggu (15/7/2012).
Pemerintah Suriah menegaskan militer tidak menggunakan helikopter, tank artileri berat. Dalam bentrokan yang menewaskan 200 orang itu, militer Suriah hanya menggunakan senjata berupa granat yang didorong dengn roket (rocket propelled grenade/ RPG).
"Kemarin kami menerima surat dari Kofi Annan yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Moualem tentang apa yang terjadi di Tremseh. Namun isi surat itu tidak berdasarkan fakta di lapangan, sehingga surat ini terkesan terburu-buru,” jelas Makdissi.
Kejadian di Tremseh bukan pembantaian, melainkan bentrokan antara pasukan militer Suriah dengan kelompok bersenjata yang tidak mengiginkan solusi damai.
Sebelumnya, juru bicara misi PBB di Suriah, Sausan Ghosheh mengonfirmasi bahwa operasi militer tanggal 12 Juli lalu ditargetkan untuk pasukan pembelot. Tim PBB mengamati rumah penduduk dengan cipratan darah dan peluru yang berserakan. Militer Suriah diduga menggunakan berbagai senjata, termasuk senjata berat dan mortir artileri.
Suriah membantah tuduhan PBB yang menyatakan militer negara menggunakan senjata berat dalam bentrokan di Desa Tremseh pekan lalu. “Militer Suriah turun tangan dalam konflik antara pasukan oposisi dan warga sipil, karena pemberontak berusaha melancarkan serangan terhadap daerah lain,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Suriah, Jihad Makdissi, seperti dikutip Aljazeera, Minggu (15/7/2012).
Pemerintah Suriah menegaskan militer tidak menggunakan helikopter, tank artileri berat. Dalam bentrokan yang menewaskan 200 orang itu, militer Suriah hanya menggunakan senjata berupa granat yang didorong dengn roket (rocket propelled grenade/ RPG).
"Kemarin kami menerima surat dari Kofi Annan yang ditujukan kepada Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Moualem tentang apa yang terjadi di Tremseh. Namun isi surat itu tidak berdasarkan fakta di lapangan, sehingga surat ini terkesan terburu-buru,” jelas Makdissi.
Kejadian di Tremseh bukan pembantaian, melainkan bentrokan antara pasukan militer Suriah dengan kelompok bersenjata yang tidak mengiginkan solusi damai.
Sebelumnya, juru bicara misi PBB di Suriah, Sausan Ghosheh mengonfirmasi bahwa operasi militer tanggal 12 Juli lalu ditargetkan untuk pasukan pembelot. Tim PBB mengamati rumah penduduk dengan cipratan darah dan peluru yang berserakan. Militer Suriah diduga menggunakan berbagai senjata, termasuk senjata berat dan mortir artileri.
()