Pengamat Asing Kritisi Penanganan COVID-19 di Indonesia

Sabtu, 04 April 2020 - 07:49 WIB
Pengamat Asing Kritisi...
Pengamat Asing Kritisi Penanganan COVID-19 di Indonesia
A A A
JAKARTA - Analis dari Nomura Holdings Inc mengkritik keras pemerintah Indonesia yang dianggap sebagai pemerintah paling lamban dalam merespons pandemi virus corona baru, COVID-19. Fakta dari data menunjukkan, jumlah kematian di Indonesia sudah mencapai 181 orang, menyalip angka kematian di Korea Selatan (Korsel) 174 orang.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan pandemi COVID-19, Achmad Yurianto, pada Jumat kemarin, mengatakan jumlah kasus COVID-19 naik menjadi 1.986 setelah ada tambahan 196 kasus baru dalam 24 jam terakhir. Jumlah korban meninggal 181 orang setelah ada tambahan 11 korban baru. Sejauh ini 134 pasien berhasil disembuhkan.

Korsel yang semula jadi salah satu negara terparah setelah China melaporkan 10.062 kasus infeksi COVID-19 dengan 174 orang di antaranya telah meninggal. Sejauh ini 6.021 pasien berhasil disembuhkan.

Menurut analisis Nomura Holdings Inc, Indonesia yang jadi negara terpadat keempat di dunia berpotensi jadi pusat atau episentrum pandemi COVID-19 berikutnya bersama India dan Filipina. Alasannya, selain populasi yang besar, infrastruktur perawatan kesehatan dan jaring pengaman sosial lemah.

Menurut Nomura, angka kematian yang tinggi untuk wilayah Asia Tenggara menjadi indikasi bahwa jumlah kasus infeksi COVID-19 yang sebenarnya di Indonesia kemungkinan jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan. Nomura menyoroti kurangnya kapasitas tes COVID-19.

Lebih lanjut, Nomura dalam laporannya hari Jumat, menggarisbawahi penerapan pembatasan berskala besar oleh pemerintah Presiden Joko Widodo yang dimulai bulan April dan kemungkinan untuk jangka waktu yang lama. Namun, langkah itu dinilai telah terlambat.

“Kami pikir Indonesia adalah yang paling lambat dalam mengambil tindakan tegas dan oleh karena itu paling berisiko tertundanya penanggulangan wabah di dalam perbatasannya, dengan konsekuensi ekonomi negatif yang lebih besar,” demikian analisis Nomura yang dipimpin oleh Sonal Varma dalam laporannya, seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (4/4/2020).

"Kekhawatiran yang segera adalah liburan mendatang, yang berisiko meningkatkan penularan karena lonjakan perjalanan domestik," lanjut Nomura merujuk pada tradisi mudik Lebaran.

Presiden Jokowi telah menolak seruan lockdown untuk wilayah Indonesia, baik parsial maupun total. Pertimbangan presiden adalah lockdown akan melumpuhkan seluruh sektor kehidupan, termasuk ekonomi negara, dan imbasnya akan menyengsarakan rakyat terutama dari kalangan berpenghasilan rendah. Jokowi pernah menyinggung efek buruk lockdown, yakni lumpuhnya semua sektor kegiatan, termasuk aktivitas ekonomi dan transportasi.

Jokowi, yang pada hari Kamis mendesak orang-orang untuk menghindari perjalanan dan mempraktikkan social distancing untuk mencegah penyebaran virus, telah memerintahkan sejumlah langkah-langkah dukungan pendapatan bagi para penerima upah harian, pekerja sektor informal dan pedagang asongan.

Pemerintah juga telah berjanji untuk melakukan apa pun guna membatasi kerusakan pada ekonomi terbesar Asia Tenggara akibat pandemi COVID-19, dengan mengalokasikan anggaran Rp 405 triliun untuk mendukung sistem kesehatan dan ekonomi. Ini juga untuk sementara menghapus batas defisit anggaran 3 persen dari produk domestik bruto untuk memungkinkan pemerintah meningkatkan pengeluaran.
(mas)
Berita Terkait
Sebelum di Wuhan, Virus...
Sebelum di Wuhan, Virus Corona Ditemukan di Barcelona Maret 2019
Virus Corona di Italia...
Virus Corona di Italia Terus Menyebar
Perusahaan Korsel Sumbang...
Perusahaan Korsel Sumbang Ribuan Alat Tes Covid-19 untuk Indonesia
Bantu Penanganan Wabah...
Bantu Penanganan Wabah COVID-19, Korsel Sumbang Alat Tes PCR
Virus Corona ‘Menyerang’...
Virus Corona ‘Menyerang’ Idol Kpop, Heo Dong Won Positif Covid-19
Kali Pertama Korsel...
Kali Pertama Korsel Laporkan Kenaikan Harian Infeksi Covid-19 Hanya Satu Digit
Berita Terkini
Mediator Usulkan Gencatan...
Mediator Usulkan Gencatan Senjata 10 Hari untuk Hidupkan Lagi Kesepakatan AS-Iran
50 menit yang lalu
Seorang Tentara AS Tewas...
Seorang Tentara AS Tewas di Irak Saat Buang Amunisi Drone Iran yang Jatuh
1 jam yang lalu
AS Tak Dapat Lindungi...
AS Tak Dapat Lindungi 50.000 Pasukannya di Timur Tengah dari Persenjataan Iran yang Besar
2 jam yang lalu
Militer Iran Gempur...
Militer Iran Gempur Sistem Rudal HIMARS AS di Kuwait
3 jam yang lalu
Iran Berterima Kasih...
Iran Berterima Kasih pada Warga Yordania karena Bantu Menargetkan Pasukan AS
4 jam yang lalu
Pertahanan Udara AS...
Pertahanan Udara AS Kewalahan Hadapi Rudal-rudal Iran yang Kian Canggih
5 jam yang lalu
Infografis
10 Pemain Bintang yang...
10 Pemain Bintang yang Absen di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved