alexametrics

Pakar: Terus Terapkan Sanksi ke Iran Adalah Langkah Tak Manusiawi

loading...
A+ A-
NEW DELHI - B.R. Deepak dari Pusat Studi China dan Asia Tenggara di Universitas Jawaharlal Nehru, India, mengatakan, memberlakukan sanksi baru terhadap Iran, yang merupakan salah satu negara yang paling terpukul oleh virus Corona, adalah sikap tidak peka dan tidak manusiawi. Amerika Serikat (AS) diketahui masih dan bahkan kembali memberlakukan sanksi baru terhadap Iran.

Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo pada pertengahan Maret lalu mengumumkan sanksi baru terhadap sembilan entitas atas tuduhan melakukan bisnis dengan tiga orang yang masuk daftar hitam di industri minyak Iran, tak lama setelah Teheran menyerukan Washington untuk mencabut pembatasan ekonomi karena itu mencegah Teheran menanggapi wabah Covid-19 secara memadai.

Dia percaya bahwa hukuman yang dijatuhkan kepada Iran oleh administrasi Donald Trump akan mengintensifkan konsekuensi pada kehidupan warga negara, karena hal itu akan semakin membatasi kemampuan negara untuk membiayai impor, termasuk dukungan medis dan pasokan, yang mengancam kehidupan manusia.



"Pandemi seperti Corona tidak memiliki batas. Itu tidak melihat perbedaan antara yang kuat dan yang lemah. Memberi sanksi pada tahap ini tidak manusiawi," ucap Deepak, seperti dilansir Sputnik.

"Kita sekarang dapat mengatakan bahwa China telah menang atas virus Corona, karena tidak ada kasus baru yang terdeteksi di negara itu dalam beberapa hari terakhir. Dunia harus belajar dari China," sambungnya.

Deepak menuturkan, kebijakan sanksi ini merupakan perpanjangan dari kontes hegemonik yang telah berlangsung selama beberapa waktu dan China telah menantang hegemoni AS selama bertahun-tahun dan bahkan menghancurkannya.

Dirinya mencatat bahwa kolaborasi dengan komunitas internasional, terutama India dan China, untuk melawan virus Corona adalah apa yang dibutuhkan saat ini. Dia mengakui bahwa pengalaman Beijing dalam menangani virus secara efektif akan bermanfaat bagi semua negara di dunia.

Kasus-kasus Covid-19 yang menjamur di Asia Selatan telah menjadi perhatian utama, khususnya bagi negara-negara miskin yang telah berjuang dengan populasi tinggi dan status sosial ekonomi rendah di tingkat regional. Dia khawatir bahwa mungkin diperlukan beberapa generasi bagi negara-negara ini untuk pulih dari dampak penyebaran virus.

“Kolaborasi semua negara di dunia harus berbagi informasi, mengembangkan prosedur untuk menangani wabah. China memiliki kepentingan yang sangat besar karena telah mengkarantina populasi yang besar. Ini adalah waktu yang tepat bagi negara untuk mengubur perbedaan mereka dan menangani pandemi," tukasnya.
(esn)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top