Covid-19 akan Pukul Eropa Lebih Keras Dibanding Terhadap China

Minggu, 22 Maret 2020 - 23:00 WIB
Covid-19 akan Pukul...
Covid-19 akan Pukul Eropa Lebih Keras Dibanding Terhadap China
A A A
SHANGHAI - Daniel Falush, Profesor di Institut Pasteur di Shanghai yang saat ini menangani "Coronavirus Outreach" mengatakan, virus Corona baru, Covid-19 akan lebih berdampak pada Eropa dibanding China. Bidang paling terdampak, menurut Falush, adalah di sektor ekonomi.

Falush, dalam sebuah wawancara dengan Sputnik mengatakan, China telah benar-benar menghentikan semua kegiatan mereka selama sekitar satu bulan atau enam minggu. Meski demikian, masih ada banyak barang di toko-toko, kebanyakan orang masih memiliki pekerjaan dan saat ini ekonomi mulai kembali bangkit.

Tapi, dia menegaskan, bahwa memang Covid-19 telah memberikan kerugian ekonomi yang sangat besar terhadap Beijing. Namun, dampak ekonomi akibat Covid-19 mungkin akan jauh lebih besar kepada Eropa. Alasannya, di China, wilayah paling terdampak hanyalah satu provinsi, yakni Hubei. Sedangkan di Eropa hampir seluruh negara.

"Sayangnya, saya sangat takut bahwa dampak ekonomi di Inggris dan di Eropa akan jauh lebih besar. Karena di China masalah sebenarnya dilokalisasi ke satu tempat, dan di tempat lain itu benar-benar terputus sebelum mulai menyebar dengan liar," ucapnya.

"Semakin lama Anda menunggu untuk benar-benar menekannya, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengurangi, dan semakin banyak kerusakan akan terjadi. Jadi, saya agak berpikir bahwa Eropa akan kehilangan tiga bulan produktivitas karena ini, ada tidak ada yang lebih baik dari itu sekarang," sambungnya.

Mengenai apakah Covid-19 sekarang lebih mematikan dibandingkan flu, dia mengatakan, flu lebih mematikan dibandingkann dengan Covid-19 dan akan menjadi sebuah kesalahan jika menempatkan keduanya di satu kota yang sama.

"Jenis kesalahan yang saya pikir adalah para ilmuwan Imperial lakukan adalah mereka mencoba dan meletakkan Coronavirus dalam kotak yang sama dengan flu, karena itu adalah penyakit pernapasan, tetapi mortalitas (flu) jauh lebih tinggi, sehingga jauh lebih buruk," ujarnya.

"Ini semacam berada ditangah antara flu dan Ebola pada skala logaritmik, begitulah cara saya memikirkannya, dan apa artinya itu; adalah bahwa jumlah kematian dan gangguan pada sistem kesehatan sangat besar, sehingga tidak seperti flu sama sekali," tukasnya.
(esn)
Berita Terkait
Pengamat: Covid-19 Bisa...
Pengamat: Covid-19 Bisa Perdalam Krisis Geopolitik
China Ajak Rusia Bersatu...
China Ajak Rusia Bersatu Lawan 'Virus Politik' Barat
Covid-19 Kembali Mewabah,...
Covid-19 Kembali Mewabah, UE Tawarkan Bantuan kepada China
Pelecehan Seks Online...
Pelecehan Seks Online pada Anak di UE Meningkat Saat Lockdown Covid-19
Kasus Covid-19 di Eropa...
Kasus Covid-19 di Eropa Kembali ke Level Maret, Dekati Puncak Wabah
Uni Eropa Berencana...
Uni Eropa Berencana Buka Lagi Pariwisata Meski Ada Wabah
Berita Terkini
5 Tradisi Unik di Dunia,...
5 Tradisi Unik di Dunia, Salah Satunya Melempar Bayi di India
1 jam yang lalu
Serangan Drone Ukraina...
Serangan Drone Ukraina Meningkat, Perang Hadir di Depan Rumah Warga Rusia
2 jam yang lalu
12,9 Juta Siswa Ikuti...
12,9 Juta Siswa Ikuti Ujian Gaokao untuk Masuk Universitas di China
6 jam yang lalu
Israel Bombardir Markas...
Israel Bombardir Markas Besar Hizbullah di Beirut
7 jam yang lalu
9 Tempat Paling Suci...
9 Tempat Paling Suci di Dunia, Nomor 5 Paling Populer bagi Orang Indonesia
8 jam yang lalu
6 Tradisi Teraneh di...
6 Tradisi Teraneh di Dunia, Salah Satunya Makan Abu Orang Mati
9 jam yang lalu
Infografis
Ditolak AS dan Eropa,...
Ditolak AS dan Eropa, Mobil Listrik China Incar Asia Tenggara
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved