Ketika Virus Corona Ubah Kebiasaan Masyarakat di Seluruh Dunia

Selasa, 17 Maret 2020 - 06:00 WIB
Ketika Virus Corona...
Ketika Virus Corona Ubah Kebiasaan Masyarakat di Seluruh Dunia
A A A
BEIJING - Penyebaran virus Corona baru, Covid-19 terus berdampak pada kehidupan sehari-sehari warga dunia. Masyarakat di seluruh dunia mulai mengubah kebiasaan sehari-sehari mereka untuk mencegah penyebaran virus.

Karena tangan dianggap sebagai perantara masuknya Covid-19 ke tubuh seseorang, kampanye katakan tidak pada jabat tangan, tolak setiap kecupan di pipi dan jangan sampai memeluk mulai muncul di sejumlah negara. Sebagai gantinya, masyarakat diminta untuk memberikan isyarat atau melalukan tos kaki.

Melansir Japan Today, Di Beijing, China, orang-orang diberitahu untuk tidak berjabat tangan. Pengeras suara memberitahu orang-orang untuk membuat gerakan gong shou, kepalan tangan di telapak tangan yang berlawanan, untuk menyapa orang lain.

Di Prancis, surat kabar telah diisi dengan saran tentang cara mengganti ciuman di pipi, sapaan sehari-hari di Prancis dan berjabat tangan, formalitas yang biasa dilakukan di tempat kerja.

Pakar etiket Prancis, Philippe Lichtfus mengatakan, jabat tangan adalah perkembangan yang relatif baru yang dimulai pada Abad Pertengahan. Dia mengatakan, hanya dengan menatap mata seseorang saja sudah cukup sebagai salam.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Jerman, Horst Seehofer menolak upaya Kanselir Angela Merkel untuk bersalaman dengannya dan lebih memilik tersenyum dan menjaga kedua tangannya untuk dirinya sendiri. Mereka berdua tertawa dan Merkel mengangkat tangannya sebelum duduk.

Di Brazil, Kementerian Kesehatan setempat telah merekomendasikan agar warga negara tidak berbagi sedotan logam yang digunakan untuk mengkonsumsi minuman Amerika Selatan yang kaya kafein, yang juga dikenal sebagai chimarrao. Sementara itu ciuman, bahkan jika tidak di mulut, tidak disarankan sebagai bentuk salam.

Di Selandia Baru, beberapa lembaga pendidikan di Selandia Baru untuk sementara meninggalkan salam Maori yang dikenal sebagai hongi, yang melibatkan dua orang menyatukan hidung mereka. Politeknik Wellington, WelTec, mengatakan bahwa alih-alih staf menyapa siswa baru dengan hongi, upacara penyambutannya akan mencakup waiata, atau lagu Maori.

Sedangkan di Timur Tengah, khususnya di Uni Emirat Arab, serta Qatar, warganya diminta untuk menghentikan salam tradisional "hidung ke hidung". UAE juga mengatakan bahwa orang tidak boleh berjabatan tangan. "Melambai saja cukup sebagai bentuk salam," kata pemerintah UEA.
(esn)
Berita Terkait
Pandemi Corona, Pantai...
Pandemi Corona, Pantai di Fujisawa Jepang Masih Ramai Wisatawan
Ikuti Langkah AS, Jepang...
Ikuti Langkah AS, Jepang Danai Industri Otomotifnya untuk Keluar dari China
Senin, Jepang Perpanjang...
Senin, Jepang Perpanjang Keadaan Darurat Virus Corona
Usut Asal-usul Virus...
Usut Asal-usul Virus Corona, Tim Penyelidik WHO Tiba di Wuhan
Masker Wajah Berbahaya...
Masker Wajah Berbahaya untuk Anak Berusia di Bawah Dua Tahun
Pandemi Corona Meluas,...
Pandemi Corona Meluas, PM Jepang: Tolong Jangan Keluar
Berita Terkini
Getol Kritik Netanyahu,...
Getol Kritik Netanyahu, Wali Kota New York Mamdani dan Istri Terima Ancaman Pembunuhan
4 jam yang lalu
Pemimpin Baru Hamas...
Pemimpin Baru Hamas Ungkap 6 Prioritas, Agenda Utama Akhiri Serangan Israel di Gaza
8 jam yang lalu
Selamat dari Serangan...
Selamat dari Serangan di Selat Hormuz, 3 Pelaut Thailand Gugat Pemilik Kapal
9 jam yang lalu
IRGC pada Warga Kuwait:...
IRGC pada Warga Kuwait: Amerika Serikat, Bukan Iran, yang Langgar Kedaulatan Anda
10 jam yang lalu
AS Terus Serang Iran...
AS Terus Serang Iran tapi Malah Ketakutan, Peringatkan Warganya di Seluruh Dunia
11 jam yang lalu
Menlu Rubio Klaim Iran...
Menlu Rubio Klaim Iran Memohon Kesepakatan dengan AS, Ancam 1 Kepala untuk 1 Mata
12 jam yang lalu
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved