Ini Alasan Iran Menumpuk Banyak Mayat Korban Virus Corona

Jum'at, 06 Maret 2020 - 16:31 WIB
Ini Alasan Iran Menumpuk...
Ini Alasan Iran Menumpuk Banyak Mayat Korban Virus Corona
A A A
QOM - Lusinan mayat manusia terbungkus kantong mayat warna hitam berjejer di lantai kamar mayat di Qom, Iran, ketika virus Corona baru; Covid-19 melanda. Pihak berwenang menjelaskan alasan mengapa banyak mayat korban penyakit itu tak segera dikubur.

Foto-foto pemandangan mengerikan yang telah menyebar ke seluruh dunia itu diambil dari dalam kamar mayat Behesht-e Masoumeh di Qom.

Iran saat ini menjadi salah satu negara yang paling parah di luar China yang dilanda wabah Covid-19. Ada 3.513 kasus infeksi dan 108 orang meninggal di negara ini akibat wabah Covid-19.

Di dalam ajaran Islam di Iran, setiap jasad manusia biasanya dimandikan dengan sabun dan air sebelum dimakamkan. Tetapi dua pekerja medis di Qom mengatakan kepada CNN bahwa dalam beberapa kasus tindakan pencegahan terkait wabah Covid-19 telah mencegah staf untuk mematuhi pedoman Islam untuk penguburan.

Sebagai gantinya, mereka mengatakan mayat-mayat yang dikonfirmasi memiliki virus Corona baru pada saat kematian dirawat dengan kalsium oksida, untuk mencegah jasad-jasad itu mencemari tanah.

Direktur kamar mayat Behesht-e Masoumeh, Ali Ramezani, dalam sebuah laporan di stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, mengatakan tes virus Corona membutuhkan waktu. Hal itulah yang menyebabkan penundaan penguburan yang menyebabkan penumpukan banyak jasad.

"Apa yang kita hadapi adalah bagaimana menangani tubuh korban virus Corona versus korban non-virus Corona karena instruksi penguburannya berbeda," kata Ramezani, Jumat (6/3/2020).

"Beberapa keluarga lebih suka bahwa kita membiarkan almarhum mereka, selama satu atau dua hari, sampai hasil tes selesai," ujarnya. "Dan jika hasilnya kembali negatif, maka tidak perlu merawat almarhum menurut pedoman yang diuraikan untuk korban virus Corona, dan keluarga dapat menguburkan almarhum di mana pun mereka telah berencana untuk menguburkannya."

Satu orang telah ditangkap karena diduga menyebarkan video dari dalam kamar mayat Behesht-e Masoumeh di Qom. Kasus penyebaran video itu telah dirujuk ke pengadilan.

Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Kianush Jahanpour, mengatakan sebanyak 739 orang telah disembuhkan dari virus Corona baru dan telah meninggalkan rumah sakit.

Kementerian itu mengakui sebanyak 31 provinsi di Iran telah terkena virus Corona baru. Ibu Kota Iran, Teheran, memiliki jumlah kasus tertinggi yakni 1.523, sedangkan kota Qom yang jadi pusat epidemi, memiliki 386 kasus yang dikonfirmasi.
(mas)
Berita Terkait
Sebelum di Wuhan, Virus...
Sebelum di Wuhan, Virus Corona Ditemukan di Barcelona Maret 2019
Laboratorium Virus Wuhan...
Laboratorium Virus Wuhan Punya 3 Jenis Virus Corona
Usut Asal-usul Virus...
Usut Asal-usul Virus Corona, Tim Penyelidik WHO Tiba di Wuhan
Terungkap, China Sempat...
Terungkap, China Sempat Tunda Rilis Informasi Virus Corona
Cerita Dokter China...
Cerita Dokter China yang Temukan Virus Corona di Wuhan
WHO Temukan Indikasi...
WHO Temukan Indikasi Virus Corona Sudah Mengganas di China Sejak 2019
Berita Terkini
Rudal-rudal Rusia Hujani...
Rudal-rudal Rusia Hujani Ibu Kota Ukraina Jelang KTT NATO, 8 Orang Tewas
11 menit yang lalu
7 Pemakaman Pemimpin...
7 Pemakaman Pemimpin Dunia yang Dihadiri Kepala Negara Terbanyak, Nomor 1 Pecahkan Rekor Dunia
37 menit yang lalu
Didatangi Jutaan Pelayat,...
Didatangi Jutaan Pelayat, Ini Latar Belakang Ali Khamenei sebagai Keturunan Nabi Muhammad SAW
58 menit yang lalu
Usai Zionis Hancurkan...
Usai Zionis Hancurkan Patung Yesus, Netanyahu Klaim Desa Kristen Lebanon Minta Dicaplok Israel agar Dilindungi
2 jam yang lalu
Tiga Putra Hadir Doakan...
Tiga Putra Hadir Doakan Ayatollah Ali Khamenei, Mojtaba Tetap Tak Muncul
2 jam yang lalu
Setelah Bikin Marah...
Setelah Bikin Marah Kim Jong-un, Korut Sukes Tembakkan Rudal dari Kapal Perang 5.000 Ton
3 jam yang lalu
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved