Ketegangan di Suriah Meningkat, Turki Lancarkan Serangan Skala Penuh

Selasa, 03 Maret 2020 - 11:13 WIB
Ketegangan di Suriah...
Ketegangan di Suriah Meningkat, Turki Lancarkan Serangan Skala Penuh
A A A
ISTANBUL - Ketegangan di Suriah kian meningkat setelah Turki melancarkan serangan dalam skala besar di Provinsi Idlib dan sekitarnya, kemarin. Aksi militer itu berpotensi menimbulkan perang terbuka antarkedua negara.

Turki tidak lagi mampu menahan diri setelah arus imigran terus membanjiri Turki. Situasi di Suriah, terutama Idlib, tidak membaik dalam sembilan tahun terakhir. Selain itu, sedikitnya 36 tentara Turki tewas dan lebih dari 30 lainnya luka-luka akibat serangan udara serta artileri yang dilancarkan Suriah dan Rusia tiga hari lalu.

Turki sebelumnya tidak pernah melakukan serangan terang-terangan. Menteri Pertahanan (Menhan) Turki, Hulusi Akar, mengatakan pihaknya terpaksa melakukan intervensi militer setelah pasukan Turki diserang secara langsung. Dia berharap pasukannya bisa mengakhiri dan menghentikan perang di Suriah.

“Semua upaya kami tempuh untuk memastikan Suriah menghormati kesepakatan gencatan senjata, juga untuk mencegah imigrasi dari Suriah menuju Turki dan menghentikan pertumpahan darah,” ujar Akar dikutip The New York Times.

“Kami berharap operasi ini dapat membawa perdamaian dan stabilitas di Suriah,” ujarnya.

Akar mengatakan, penebalan pasukan militer Turki di Idlib tidak dimaksudkan untuk unjuk kekuatan di hadapan Rusia yang mendukung pemerintahan Presiden Suriah Bashar Al-Asad. Namun, dia mendesak Rusia bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan puluhan tentara Turki beberapa hari lalu.

“Kami tidak bermaksud berperang dengan Rusia. Satu-satunya tujuan kami di sana ialah menghentikan pembantaian oleh rezim Suriah,” kata Akar.

“Terus terang saja, kami tidak dapat menerima pernyataan seperti ‘Kami tidak bertanggung jawab atas serangan pemerintah Suriah’ dari negara penjamin seperti Rusia,” katanya.

Dengan situasi yang meruncing, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berencana menemui Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada 5 Februari nanti. Sejumlah pejabat Rusia sempat memperingatkan dan mengancam bahwa tentara Turki, terutama pesawat tempur, tidak akan lagi ditoleransi berada di Suriah.

Turki mempertebal pasukan di Suriah Utara setelah konvoi tentara Suriah mendekati tujuan mereka untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok separatis di Idlib. Potensi benturan militer itu menyebabkan hampir satu juta penduduk lokal mengungsi ke wilayah perbatasan dan membuat mereka putus asa.

Bulan lalu, Turki telah mengerahkan sekitar 7.000 tentara menuju Idlib sesuai dengan perjanjian deeskalasi dengan Rusia pada 2018. Bala bantuan tersebut juga dimaksudkan untuk melindungi dan mendukung kelompok separatis yang dengan cepat kehilangan wilayah setelah diserbu pasukan Bashar al-Assad.

Sejak saat itu Turki sering terlibat langsung di garis depan hingga menembak jatuh dua helikopter Suriah dan menjadi ujung tombak kemenangan kelompok separatis di Saraqib. Kemarin, Turki juga kembali melancarkan serangan balasan terhadap pasukan Suriah di dalam dan sekitar Idlib, bahkan hingga ke Aleppo.

Turki meminta dukungan negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk menggagalkan serangan Suriah dan Rusia di Idlib. Namun, NATO tidak ingin terlibat dalam Perang Suriah dan hanya membantu Turki melalui pembagian informasi intelijen yang dikumpulkan melalui pengawasan citra satelit.

Turki merasa terpukul di Suriah pada pekan lalu. Saat itu, pasukan Turki disebut melalui malam paling mengerikan selama memasuki medan tempur di Suriah. Pemerhati militer, Metin Gurcan, mengatakan satu batalion infanteri Turki diteror di antara Kota Balyoun dan Al Bara oleh pesawat tempur Suriah dan Rusia.

Pasukan Turki dihantam sangat keras. Sebagian besar dari mereka melarikan diri dan berlindung di balik gedung. Namun, pesawat tempur Rusia menjatuhkan bom penghancur bungker dan mengubur pasukan Turki. Menurut para ahli yang mengutip sumber lokal, jumlah korban tewas lebih dari 36 orang dan mungkin sekitar 100. (Muh Shamil)
(ysw)
Berita Terkait
Iran Tolak Kehadiran...
Iran Tolak Kehadiran Militer Turki di Suriah dan Irak
Erdogan Sebut Operasi...
Erdogan Sebut Operasi Militer di Suriah Dapat Dimulai Kapan Saja
Turki Mengaku Tak Perlu...
Turki Mengaku Tak Perlu Izin untuk Gelar Operasi Militer di Suriah
5 Permainan Intervensi...
5 Permainan Intervensi Penuh Risiko yang Dilakukan Erdogan di Suriah
Erdogan Dukung Penuh...
Erdogan Dukung Penuh Integritas Teritorial Suriah
Pemberontak Bangkit,...
Pemberontak Bangkit, Erdogan Peringatkan Pemerintah Suriah
Berita Terkini
5 Fakta Iran Mampu Memecah...
5 Fakta Iran Mampu Memecah Aliansi Abadi AS dan Israel, Lebanon Jadi Alat Utamanya
1 jam yang lalu
3 Alasan PM Inggris...
3 Alasan PM Inggris Starmer Akan Mundur, Popularitasnya Terus Menurun
2 jam yang lalu
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Negara-negara Arab Bisa Bernapas Lega
3 jam yang lalu
Gelar Serangan Balasan,...
Gelar Serangan Balasan, Rusia Hancurkan Fasilitas Energi di Seluruh Ukraina
6 jam yang lalu
JD Vance: Iran dan AS...
JD Vance: Iran dan AS Bekerja Sama Mewujudkan Perdamaian dan Kemakmuran di Timur Tengah
7 jam yang lalu
Iran Gunakan Senjata...
Iran Gunakan Senjata Ampuh dalam Negosiasi di Swiss, Apa Itu?
8 jam yang lalu
Infografis
5 Kapal Perang Paling...
5 Kapal Perang Paling Canggih di ASEAN
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved