Jerman Kutuk Serangan Rezim Assad terhadap Tentara Turki
Jum'at, 28 Februari 2020 - 19:54 WIB
Jerman Kutuk Serangan Rezim Assad terhadap Tentara Turki
A
A
A
BERLIN - Jerman mengutuk serangan rezim Bashar al-Assad terhadap tentara Turki yang ditempatkan di provinsi barat laut Idlib Suriah untuk melindungi penduduk sipil dan memerangi kelompok-kelompok teroris.
Berbicara pada konferensi pers di Berlin, juru bicara Kanselir Angela Merkel, Steffen Seibert, mengatakan pemerintah Jerman sangat prihatin dengan eskalasi militer baru-baru ini di Suriah barat laut.
"Kami mengutuk serangan terhadap posisi militer Turki yang mengakibatkan kematian lebih dari 30 tentara Turki dan melukai banyak lainnya," kata Seibert seperti dikutip dari Anadolu, Jumat (28/2/2020).
Ia menuntut diakhirinya serangan militer rezim Suriah. Ia juga menggarisbawahi perlunya gencatan senjata untuk menghentikan penderitaan ratusan ribu warga sipil dan untuk membuka jalan bagi pembicaraan politik untuk solusi damai.
Seibert memperbarui seruan Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Presiden Rusia Vladimir Putin. Keduanya menyerukan untuk mengadakan pertemuan kuartet bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk membahas ketegangan yang saat ini terjadi di Suriah barat laut.
"Kanselir telah menyatakan siap untuk pertemuan kuartet seperti itu bersama dengan Presiden Macron dan Presiden Erdogan," ujarnya.
"Sekarang terserah Rusia untuk menerima tawaran ini. Sejauh ini belum terjadi. Tapi tawaran ini tetap di atas meja," tambah Seibert.
Serangan pada hari Kamis oleh rezim Bashar al-Assad membunuh 12 tentara Turki, dan melukai puluhan lainnya di zona de-eskalasi Idlib, tepat di seberang perbatasan selatan Turki.
Tentara Turki bekerja untuk melindungi warga sipil lokal di Idlib berdasarkan perjanjian 2018 dengan Rusia di mana tindakan agresi dilarang di wilayah tersebut.
Tetapi lebih dari 1.300 warga sipil telah tewas dalam serangan oleh rezim Suriah dan pasukan Rusia di zona itu sejak itu, ketika gencatan senjata terus dilanggar.
Zona de-eskalasi saat ini menjadi rumah bagi 4 juta warga sipil, termasuk ratusan ribu pengungsi yang terlantar akibat agresi pasukan rezim Assad di seluruh negara yang dilanda perang itu dalam beberapa tahun terakhir.
Lebih dari 1,7 juta warga Suriah telah bergerak di dekat perbatasan Turki karena serangan hebat.
Sejak meletusnya perang saudara berdarah di Suriah pada 2011, Turki telah menampung sekitar 3,7 juta warga Suriah yang melarikan diri dari negara mereka, menjadikannya negara terbaik di dunia bagi pengungsi.
Berbicara pada konferensi pers di Berlin, juru bicara Kanselir Angela Merkel, Steffen Seibert, mengatakan pemerintah Jerman sangat prihatin dengan eskalasi militer baru-baru ini di Suriah barat laut.
"Kami mengutuk serangan terhadap posisi militer Turki yang mengakibatkan kematian lebih dari 30 tentara Turki dan melukai banyak lainnya," kata Seibert seperti dikutip dari Anadolu, Jumat (28/2/2020).
Ia menuntut diakhirinya serangan militer rezim Suriah. Ia juga menggarisbawahi perlunya gencatan senjata untuk menghentikan penderitaan ratusan ribu warga sipil dan untuk membuka jalan bagi pembicaraan politik untuk solusi damai.
Seibert memperbarui seruan Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Presiden Rusia Vladimir Putin. Keduanya menyerukan untuk mengadakan pertemuan kuartet bersama dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk membahas ketegangan yang saat ini terjadi di Suriah barat laut.
"Kanselir telah menyatakan siap untuk pertemuan kuartet seperti itu bersama dengan Presiden Macron dan Presiden Erdogan," ujarnya.
"Sekarang terserah Rusia untuk menerima tawaran ini. Sejauh ini belum terjadi. Tapi tawaran ini tetap di atas meja," tambah Seibert.
Serangan pada hari Kamis oleh rezim Bashar al-Assad membunuh 12 tentara Turki, dan melukai puluhan lainnya di zona de-eskalasi Idlib, tepat di seberang perbatasan selatan Turki.
Tentara Turki bekerja untuk melindungi warga sipil lokal di Idlib berdasarkan perjanjian 2018 dengan Rusia di mana tindakan agresi dilarang di wilayah tersebut.
Tetapi lebih dari 1.300 warga sipil telah tewas dalam serangan oleh rezim Suriah dan pasukan Rusia di zona itu sejak itu, ketika gencatan senjata terus dilanggar.
Zona de-eskalasi saat ini menjadi rumah bagi 4 juta warga sipil, termasuk ratusan ribu pengungsi yang terlantar akibat agresi pasukan rezim Assad di seluruh negara yang dilanda perang itu dalam beberapa tahun terakhir.
Lebih dari 1,7 juta warga Suriah telah bergerak di dekat perbatasan Turki karena serangan hebat.
Sejak meletusnya perang saudara berdarah di Suriah pada 2011, Turki telah menampung sekitar 3,7 juta warga Suriah yang melarikan diri dari negara mereka, menjadikannya negara terbaik di dunia bagi pengungsi.
(ian)