Korban Tewas Wabah Virus Corona Tembus 2.000 Orang

Kamis, 20 Februari 2020 - 06:55 WIB
Korban Tewas Wabah Virus...
Korban Tewas Wabah Virus Corona Tembus 2.000 Orang
A A A
BEIJING - Kematian akibat wabah virus korona COVID-19 di daratan utama China menembus angka 2.000 sampai kemarin. Meski demikian, jumlah kasus baru menurun dalam dua hari terakhir. Menurut Komisi Kesehatan China, jumlah pasien baru hanya sebanyak 1.749 orang, terendah sejak 29 Januari silam.

Sementara jumlah warga negara Indonesia yang positif terpapar virus korona di kapal pesiar Diamond Princess yang kini tertambat di Yokohama, Jepang bertambah satu orang. Dengan demikian, total WNI korban virus korona berjumlah empat orang. Mereka saat ini tengah menjalani perawatan di Jepang.

Data terbaru menunjukkan jumlah pasien COVID-19 di China mencapai 74.000 orang, 2.004 di antaranya meninggal dunia. China menyatakan perlambatan tingkat infeksi itu membuktikan China berhasil mengendalikan situasi. Para ahli kesehatan global juga memuji upaya China dalam menangani dan mencegah virus tersebut.

Pemerintah Provinsi Hubei, pusat wabah COVID-19, akan menerapkan pengawasan yang lebih ketat untuk mengantisipasi penyebaran lebih lanjut. Semua pasien yang memiliki riwayat demam sejak 20 Januari akan kembali diperiksa, termasuk mereka yang membeli obat batuk dan demam di warung atau online.

Kepala Program Darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Mike Ryan mengapresiasi keteguhan dan kesabaran yang dilakukan China dalam memadamkan “api kebakaran” di Hubei. Dia juga memuji upaya China untuk melacak setiap jejak virus, tak terkecuali dengan mengawasi warganya yang baru pulang mudik. “Saat ini strategi dan taktik pendekatan yang diambil China sudah tepat,” ujar Ryan, dikutip Reuters. Dengan sistem itu, jumlah pasien baru di China, kecuali Hubei, telah menurun dalam 15 hari terakhir secara beruntun. Totalnya sekitar 56 orang pada Selasa (18/2) waktu lokal, turun dari 890 orang pada 3 Februari.

Meski dunia cemas atas dampak ekonomi yang akan ditimbulkan COVID-19, Perwakilan China untuk Uni Eropa (UE) menyatakan dampaknya terbatas, dalam jangka pendek, dan dapat diatasi. Beijing disebut memiliki sumber daya yang memadai. China bahkan optimistis pertumbuhan ekonominya akan mencapai target.

Dalam mosi kepercayadirian bahwa virus korona tidak akan merusak ekonomi China dalam jangka panjang, seorang sumber mengatakan China telah menerima dana investasi sekitar 120 miliar yuan atau 20 kali lipat dari target 6 miliar yuan. Di tengah wabah COVID-19, China telah menggencarkan marketing investasi.

Bagaimanapun wabah COVID-19 juga berdampak terhadap bisnis dan perdagangan di seluruh dunia. Perusahaan pembuat mobil asal Inggris, Jaguar Land Rover, terancam kekurangan suku cadang. Korsel juga menyatakan ekonomi nasional dalam keadaan darurat dan perlu dirangsang agar permintaan naik lagi.

Banyak Korban di Diamond Princess

Angka infeksi COVID-19 tertinggi di luar China terjadi di dalam kapal pesiar Diamond Princess yang kini tertambat di Yokohama, Jepang, yaitu 621 dari 3.700 orang. Sekitar 500 penumpang telah keluar dari Diamond Princess kemarin, sedangkan penumpang yang sekamar dengan pasien akan dikarantina lebih lama.

Sebagian besar pasien positif telah dibawa menuju rumah sakit (RS). Dengan kondisi itu, sebagian pemerintah dunia berencana merepatriasi warganya yang terjebak di Diamond Princess. Korea Selatan (Korsel) telah menyelamatkan sekitar tujuh orang warganya, sedangkan Australia memulangkan lebih dari 200.

Amerika Serikat (AS) juga mengevakuasi sekitar 300 warganya dari Diamond Princess pada awal pekan ini. Inggris, Kanada, Italia, Australia, Hong Kong, dan Taiwan juga berencana mengevakuasi warganya dalam waktu dekat. Di luar China COVID-19 telah menjangkit lebih dari 830 orang, lima di antaranya tewas.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Jepang menyatakan jumlah pasien COVID-19 dari Diamond Princess bertambah 79 orang, 68 di antaranya tidak menunjukkan gejala apa pun. Kapal itu dikarantina di Yokohama, Jepang sejak 3 Februari setelah penumpang yang turun di Hong Kong positif terjangkit COVID-19.

“Kami perlu mengambil langkah untuk mencegah kasus ini memburuk, termasuk dengan mengirimkan pasien terinfeksi ke RS,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Jepang, Katsunobu Kato. Namun, langkah itu, terutama isolasi, dinilai para ahli tidak efektif dalam mencegah penyebaran virus yang ada di dalam kapal.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) AS juga mengatakan proses karantina kapal tidak akan cukup. Mereka khawatir para penumpang justru akan semakin rentan terjangkit jika dibiarkan seperti itu. Selain itu, para penumpang yang keluar dari kapal juga akan kembali menjalani karantina selama 14 hari.

Sejauh ini Pemerintah Jepang menolak berkomentar kenapa warganya yang keluar dari kapal tidak dikarantina kembali. Sebelumnya Institut Nasional Penyakit Menular (NIID) Jepang menyatakan para penumpang yang tidak menunjukkan gejala apa pun selama 14 hari di dalam kapal tidak perlu diawasi kembali.

“Kecuali mereka yang satu ruangan dengan pasien positif. Mereka akan kembali dikarantina di dalam kapal selama 14 hari terhitung sejak rekannya meninggalkan kapal,” ungkap Kemenkes. “Mereka juga akan dipindahkan ke ruangan yang lain dan melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala,” tambah Kemenkes.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perlindungan warga negara Indonesia dan Badan Hukum Indonesia (PWNIBHI) Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Judha Nugaraha mengungkapkan, jumlah WNI yang bekerja di Diamond Princess sebanyak 78 orang. “Kami mendapatkan informasi terbaru bahwa empat warga negara kita terinfeksi virus korona di Diamond Princess,” kata Judha di Jakarta kemarin.

Empat WNI itu dirawat di dua RS yang berbeda di Kota Chiba dan Tokyo. “Mereka kini dalam kondisi stabil. KBRI Tokyo terus memantau kondisi mereka,” ujar Judha. (Muh Shamil)
(ysw)
Berita Terkait
Misteri Virus Corona,...
Misteri Virus Corona, Diriset China Didanai AS
Terungkap, China Sempat...
Terungkap, China Sempat Tunda Rilis Informasi Virus Corona
Wabah Virus Corona di...
Wabah Virus Corona di Wuhan Diduga Terjadi Awal Agustus
Dubes China: Kami Korban,...
Dubes China: Kami Korban, Bukan Penyebab Virus Corona
Virus Corona Baru Ditemukan...
Virus Corona Baru Ditemukan di Apartemen Kosong di Guangzhou
Diseleksi Ketat, China...
Diseleksi Ketat, China Larang Publikasi Penelitian Asal Virus Corona
Berita Terkini
Rusia Ancam Armenia:...
Rusia Ancam Armenia: Tak Lagi Dipasok Minyak Murah Jika Nekat Gabung Uni Eropa!
4 menit yang lalu
AS Hendak Kerahkan Senjata...
AS Hendak Kerahkan Senjata Nuklir ke Lebih Banyak Negara NATO, Bisa Bikin Rusia Murka
1 jam yang lalu
6 Jet Tempur Canggih...
6 Jet Tempur Canggih yang Bakal Panaskan Langit ASEAN: F-35 Singapura hingga Rafale Indonesia
1 jam yang lalu
Bos NATO: Ukraina Menang...
Bos NATO: Ukraina Menang Perang, Rusia Semakin Putus Asa!
3 jam yang lalu
Trump Akui Mendamprat...
Trump Akui Mendamprat Netanyahu dengan Makian Kasar: 'Saya Sedikit Terganggu...'
3 jam yang lalu
Meski AS-Iran Musuh...
Meski AS-Iran Musuh Bebuyutan, Trump Ingin Bertemu Mojtaba Khamenei
4 jam yang lalu
Infografis
5 CEO Terkaya di Jagat...
5 CEO Terkaya di Jagat Raya, Hartanya Tembus Rp8,2 Kuadriliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved