Retas Equifax, AS Dakwa 4 Hacker Militer China

Selasa, 11 Februari 2020 - 10:43 WIB
Retas Equifax, AS Dakwa 4 Hacker Militer China
Retas Equifax, AS Dakwa 4 Hacker Militer China
A A A
WASHINGTON - Otoritas hukum Amerika Serikat (AS) mendakwa empat hacker militer China atas peratsan tahun 2017 terhadap sistem jaringan komputer perusahaan Equifax Inc. Jaksa Agung Amerika William Barr mengatakan peretasan itu memengaruhi hampir 150 juta warga Amerika.

Equifax adalah satu dari tiga perusahaan swasta besar di Amerika Serikat yang mencatat semua transaksi keuangan termasuk kartu kredit dan pinjaman warga negara AS. Pada 7 September 2017, Equifax mengumumkan bahwa data mereka telah dibobol kelompok peretas.

"Ini adalah intrusi yang disengaja dan menyapu informasi pribadi rakyat Amerika," kata Barr dalam mengumumkan dakwaan empat anggota Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China sehubungan dengan salah satu pelanggaran data terbesar dalam sejarah AS.

Kedutaan Besar China di Washington tidak segera menanggapi permintaan komentar yang diajukan wartawan.

Pengumuman ini adalah yang terbaru dalam kampanye agresif oleh otoritas Amerika untuk membasmi operasi spionase China di Amerika Serikat.

Sejak mengalihkan perhatian ke China pada 2018, AS telah menjerat sekelompok pejabat pemerintah, pelaku bisnis, dan akademisi China yang sedang mengejar rahasia Amerika.

Sekitar 147 juta orang memiliki informasi, termasuk nomor Jaminan Sosial, tanggal lahir dan data SIM. Data ratusan juta orang itu dibobol para hacker dari sistem jaringan komputer Equifax.

Para peretas menghabiskan berminggu-minggu untuk masuk ke sistem Equifax, membobol jaringan komputer, mencuri rahasia perusahaan dan data pribadi. Peretas merutekan lalu lintas melalui sekitar 34 server yang berlokasi di hampir 20 negara untuk mengaburkan lokasi mereka yang sebenarnya.

Kepala Eksekutif Equifax Mark Begor mengatakan perusahaan berterima kasih atas penyelidikan Departemen Kehakiman.

"Sangat meyakinkan bahwa lembaga penegak hukum federal kami memperlakukan kejahatan dunia maya—terutama kejahatan yang disponsori negara—dengan keseriusan yang layak," katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Reuters, Selasa (11/2/2020).
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1783 seconds (11.252#12.26)