Upaya Atasi Virus Corona Kian Isolir Perekonomian Korut
Selasa, 04 Februari 2020 - 14:34 WIB
Upaya Atasi Virus Corona Kian Isolir Perekonomian Korut
A
A
A
PYONGYANG - Korea Utara (Korut) semakin terisolir dari dunia luar saat negara itu menutup perbatasannya dengan China dan Rusia untuk mencegah penyebaran virus corona baru.
Sebagai salah satu negara yang paling tertutup di dunia, Korut menghentikan penerbangan dan layanan kereta dengan negara tetangganya itu. Korut juga menerapkan karantina wajib bagi warga asing yang baru tiba, menghentikan pariwisata internasional dan menerapkan penutupan hampir sepenuhnya pada perjalanan lintas perbatasan.
Penutupan ini dapat semakin merusak upaya Pemimpin Korut Kim Jong-un melaksanakan janjinya memulihkan ekonomi Korut. Padahal upaya itu juga telah rusak akibat tak ada kemajuan dalam perundingan denuklirisasi dengan Amerika Serikat (AS) yang memimpin penerapan sanksi internasional pada Korut.
"Mereka terus mengirim barang dan mereka tak menerima warga China, tak seorang pun bisa masuk atau keluar," ungkap sumber yang tahun kondisi perbatasan China-Kout.
Pembelot Korut di Seoul, Kang Mi-jin juga mengonfirmasi bahwa perbatasan tampaknya hampir sepenuhnya tutup sejak 30 Januari.
"Kementerian Pasukan Bersenjata Rakyat memerintahkan semua pos penjagaan melarang penyelundupan. Orang, barang, tak ada yang dapat masuk atau keluar," papar Kang.
"Ada dampak besar tak hanya pada ekonomi Korut, tapi juga seluruh ekonomi negara itu. Korut mendorong lokalisasi, tapi bahkan untuk produk seperti permen, cracker, dan pakaian yang diproduksi di negara itu, bahan mentahnya dari China," papar Kang.
Pyongyang meminta Beijing tidak merepatriasi pembelot Korut yang ditahan di China, menurut salah satu pastor Korea Selatan yang bekerja dengan para pengungsi.
"Berbagai sanksi membuat Korut kesulitan mendapatkan pasokan medis. Tindakan Korut yang sangat mahal terkait pendapatan dari pariwisata dan perdagangan serta untuk mengkarantina orang, mencerminkan kekhawatiran mereka terkait kemampuan sistem kesehatan untuk menangani wabah itu," ungkap Kee Park dari Harvard Medical School yang bekerja untuk proyek layanan kesehatan di Korut.
Sebagai salah satu negara yang paling tertutup di dunia, Korut menghentikan penerbangan dan layanan kereta dengan negara tetangganya itu. Korut juga menerapkan karantina wajib bagi warga asing yang baru tiba, menghentikan pariwisata internasional dan menerapkan penutupan hampir sepenuhnya pada perjalanan lintas perbatasan.
Penutupan ini dapat semakin merusak upaya Pemimpin Korut Kim Jong-un melaksanakan janjinya memulihkan ekonomi Korut. Padahal upaya itu juga telah rusak akibat tak ada kemajuan dalam perundingan denuklirisasi dengan Amerika Serikat (AS) yang memimpin penerapan sanksi internasional pada Korut.
"Mereka terus mengirim barang dan mereka tak menerima warga China, tak seorang pun bisa masuk atau keluar," ungkap sumber yang tahun kondisi perbatasan China-Kout.
Pembelot Korut di Seoul, Kang Mi-jin juga mengonfirmasi bahwa perbatasan tampaknya hampir sepenuhnya tutup sejak 30 Januari.
"Kementerian Pasukan Bersenjata Rakyat memerintahkan semua pos penjagaan melarang penyelundupan. Orang, barang, tak ada yang dapat masuk atau keluar," papar Kang.
"Ada dampak besar tak hanya pada ekonomi Korut, tapi juga seluruh ekonomi negara itu. Korut mendorong lokalisasi, tapi bahkan untuk produk seperti permen, cracker, dan pakaian yang diproduksi di negara itu, bahan mentahnya dari China," papar Kang.
Pyongyang meminta Beijing tidak merepatriasi pembelot Korut yang ditahan di China, menurut salah satu pastor Korea Selatan yang bekerja dengan para pengungsi.
"Berbagai sanksi membuat Korut kesulitan mendapatkan pasokan medis. Tindakan Korut yang sangat mahal terkait pendapatan dari pariwisata dan perdagangan serta untuk mengkarantina orang, mencerminkan kekhawatiran mereka terkait kemampuan sistem kesehatan untuk menangani wabah itu," ungkap Kee Park dari Harvard Medical School yang bekerja untuk proyek layanan kesehatan di Korut.
(sfn)