Via Telepon, Rouhani Desak PM Inggris Kutuk Pembunuhan Soleimani
Jum'at, 10 Januari 2020 - 01:44 WIB
Via Telepon, Rouhani Desak PM Inggris Kutuk Pembunuhan Soleimani
A
A
A
TEHERAN - Presiden Hassan Rouhani mendesan Inggris untuk mengecam pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani. Hal itu diutarakannya setelah menghubungi Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson melalui sambungan telepon.
"Tanpa upaya Soleimani yang memimpin pasukan di Suriah dan Irak melawan IS (dahulu ISIS), Anda tidak akan memiliki perdamaian dan keamanan di London hari ini," kata Rouhani kepada Johnson yang dikutip oleh Wakil Presiden Alireza Moezi, yang mentweet tentang panggilan telepon itu seperti dikutip dari AP, Jumat (10/1/2020).
Pihak Downing Street pun mengonfirmasi panggilan telepon itu dan mengatakan Johnson menyerukan diakhirinya permusuhan di Teluk. Dikatakan bahwa Inggris mendukung perjanjian nuklir 2015 dan mendesak Iran untuk kembali mematuhi perjanjian itu secara penuh. (Baca: Iran Terus Kurangi Komitmen Terhadap Kesepakatan Nuklir, Inggris Kesal )
Jenderal Qassem Soleimani tewas dalam sebuah serangan pesawat tanpa awak Amerika Serikat (AS) di Bandara Baghdad, Irak, akhir pekan lalu. Serangan yang diperintahkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump itu juga menewaskan pemimpin milisi Irak yang didukung Iran, Abu Mahdi al Muhandis.
Sebagai kepala pasukan elit Iran, Pasukan Quds, Soleimani telah memobilisasi milisi kuat di seluruh wilayah dan dipersalahkan atas serangan mematikan terhadap sejumlah kepentingan Amerika di Irak yang menginvasi negara itu pada 2003. Di Iran, ia dipandang oleh banyak orang sebagai pahlawan nasional yang memainkan peran kunci dalam mengalahkan kelompok Negara Islam (IS) dan menentang hegemoni Barat.
"Tanpa upaya Soleimani yang memimpin pasukan di Suriah dan Irak melawan IS (dahulu ISIS), Anda tidak akan memiliki perdamaian dan keamanan di London hari ini," kata Rouhani kepada Johnson yang dikutip oleh Wakil Presiden Alireza Moezi, yang mentweet tentang panggilan telepon itu seperti dikutip dari AP, Jumat (10/1/2020).
Pihak Downing Street pun mengonfirmasi panggilan telepon itu dan mengatakan Johnson menyerukan diakhirinya permusuhan di Teluk. Dikatakan bahwa Inggris mendukung perjanjian nuklir 2015 dan mendesak Iran untuk kembali mematuhi perjanjian itu secara penuh. (Baca: Iran Terus Kurangi Komitmen Terhadap Kesepakatan Nuklir, Inggris Kesal )
Jenderal Qassem Soleimani tewas dalam sebuah serangan pesawat tanpa awak Amerika Serikat (AS) di Bandara Baghdad, Irak, akhir pekan lalu. Serangan yang diperintahkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump itu juga menewaskan pemimpin milisi Irak yang didukung Iran, Abu Mahdi al Muhandis.
Sebagai kepala pasukan elit Iran, Pasukan Quds, Soleimani telah memobilisasi milisi kuat di seluruh wilayah dan dipersalahkan atas serangan mematikan terhadap sejumlah kepentingan Amerika di Irak yang menginvasi negara itu pada 2003. Di Iran, ia dipandang oleh banyak orang sebagai pahlawan nasional yang memainkan peran kunci dalam mengalahkan kelompok Negara Islam (IS) dan menentang hegemoni Barat.
(ian)