Iran Diragukan Serang Israel usai Kematian Jenderal Soleimani
Sabtu, 04 Januari 2020 - 11:06 WIB
Iran Diragukan Serang Israel usai Kematian Jenderal Soleimani
A
A
A
TEL AVIV - Iran diragukan akan menyerang Israel sebagai respons kematian komandan Pasukan Quds, Jenderal Qassem Soleimani , akibat serangan udara Amerika Serikat (AS) di Baghdad, Jumat kemarin. Komandan pasukan elite Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) itu sudah lama jadi target operasi militer Washington dan Tel Aviv.
Keraguan bahwa Tel Aviv akan digempur Teheran disampaikan mantan kepala intelijen militer Israel, Amos Yadlin. Menurutnya, hal yang paling mungkin terjadi adalah militer Teheran menargetkan aset-aset Amerika.
"Jika saya salah satu dari Iran yang perlu memutuskan bagaimana merespons, Israel bukanlah (target) pertama," kata Yadlin, yang sekarang menjabat sebagai kepala Institut Studi Keamanan Nasional Universitas Tel Aviv, kepada Channel 12 yang dikutip Sabtu (4/1/2020).
"Israel telah membuktikan bahwa mereka tahu cara menggagalkan serangan dan menanggapi serangan," ujarnya. (Baca: Jenderal Soleimani Dibunuh, AS dan Iran di Ambang Perang Besar-besaran )
Situs berita Channel 13, yang mengutip pejabat keamanan Tel Aviv, juga melaporkan bahwa Iran tidak mungkin menyerang Israel.
Yadlin memperingatkan bahwa serangan terhadap Soleimani hanyalah permulaan dan bahwa aset AS di Irak sangat rentan. "Kita perlu menunggu tanggapan Iran," katanya.
Mantan jenderal itu juga mengatakan bahwa kepala intelijen militer Israel saat ini, Mayor Jenderal Tamir Hayman, harus menasihati para pemimpin politik untuk tidak menjalankan dan membicarakan hal-hal tertentu di depan umum. Alasannya, hal itu dapat meningkatkan peluang pembalasan Iran.
Seperti diberitakan sebelumnya, Jenderal Soleimani dan beberapa pejabat IRGC Iran terbunuh dalam serangan udara AS di Bandara Internasional Baghdad, Jumat dini hari.
Para pemimpin Iran telah bersumpah untuk membalaskan kematian Soleimani. IRGC mengancam akan mengambil tindakan terhadap AS dan rezim Zionis. (Baca juga: AS Habisi Jenderal Soleimani, Iran Siap Balas Dendam )
Sebelumnya, Channel 13 melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan telah menyatakan situasi kedutaan besar Israel dan kantor-kantornya di seluruh dunia dalam level "siaga tinggi" menyusul ancaman Iran untuk membalas serangan AS.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah meningkatkan status siaga tinggi. Situs ski Gunung Hermon di dekat perbatasan Israel-Suriah ditutup. Namun, IDF mengatakan situs itu kemungkinan dibuka kembali hari Sabtu.
Kendati demikian, pihak manajemen resor mengatakan akan tetap tutup pada hari Sabtu untuk memastikan keamanan pengunjung. Selain itu, kondisi cuaca juga tidak mendukung.
Menteri Pertahanan Naftali Bennett pada hari Jumat telah mengadakan pertemuan di Tel Aviv dengan para kepala keamanan dan intelijen untuk membahas kemungkinan akibat dari kematian Soleimani.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menghentikan kunjungan resmi ke Yunani dan terbang pulang. Dia menyatakan dukungan untuk serangan AS yang menewaskan Soleimani.
Keraguan bahwa Tel Aviv akan digempur Teheran disampaikan mantan kepala intelijen militer Israel, Amos Yadlin. Menurutnya, hal yang paling mungkin terjadi adalah militer Teheran menargetkan aset-aset Amerika.
"Jika saya salah satu dari Iran yang perlu memutuskan bagaimana merespons, Israel bukanlah (target) pertama," kata Yadlin, yang sekarang menjabat sebagai kepala Institut Studi Keamanan Nasional Universitas Tel Aviv, kepada Channel 12 yang dikutip Sabtu (4/1/2020).
"Israel telah membuktikan bahwa mereka tahu cara menggagalkan serangan dan menanggapi serangan," ujarnya. (Baca: Jenderal Soleimani Dibunuh, AS dan Iran di Ambang Perang Besar-besaran )
Situs berita Channel 13, yang mengutip pejabat keamanan Tel Aviv, juga melaporkan bahwa Iran tidak mungkin menyerang Israel.
Yadlin memperingatkan bahwa serangan terhadap Soleimani hanyalah permulaan dan bahwa aset AS di Irak sangat rentan. "Kita perlu menunggu tanggapan Iran," katanya.
Mantan jenderal itu juga mengatakan bahwa kepala intelijen militer Israel saat ini, Mayor Jenderal Tamir Hayman, harus menasihati para pemimpin politik untuk tidak menjalankan dan membicarakan hal-hal tertentu di depan umum. Alasannya, hal itu dapat meningkatkan peluang pembalasan Iran.
Seperti diberitakan sebelumnya, Jenderal Soleimani dan beberapa pejabat IRGC Iran terbunuh dalam serangan udara AS di Bandara Internasional Baghdad, Jumat dini hari.
Para pemimpin Iran telah bersumpah untuk membalaskan kematian Soleimani. IRGC mengancam akan mengambil tindakan terhadap AS dan rezim Zionis. (Baca juga: AS Habisi Jenderal Soleimani, Iran Siap Balas Dendam )
Sebelumnya, Channel 13 melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan telah menyatakan situasi kedutaan besar Israel dan kantor-kantornya di seluruh dunia dalam level "siaga tinggi" menyusul ancaman Iran untuk membalas serangan AS.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah meningkatkan status siaga tinggi. Situs ski Gunung Hermon di dekat perbatasan Israel-Suriah ditutup. Namun, IDF mengatakan situs itu kemungkinan dibuka kembali hari Sabtu.
Kendati demikian, pihak manajemen resor mengatakan akan tetap tutup pada hari Sabtu untuk memastikan keamanan pengunjung. Selain itu, kondisi cuaca juga tidak mendukung.
Menteri Pertahanan Naftali Bennett pada hari Jumat telah mengadakan pertemuan di Tel Aviv dengan para kepala keamanan dan intelijen untuk membahas kemungkinan akibat dari kematian Soleimani.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menghentikan kunjungan resmi ke Yunani dan terbang pulang. Dia menyatakan dukungan untuk serangan AS yang menewaskan Soleimani.
(mas)