Menhan Prancis Tolak Penggunaan Robot Pembunuh dalam Pertempuran

Rabu, 04 Desember 2019 - 06:48 WIB
Menhan Prancis Tolak...
Menhan Prancis Tolak Penggunaan Robot Pembunuh dalam Pertempuran
A A A
PARIS - Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly bersikeras bahwa negaranya tidak akan membiarkan kecerdasan buatan (AI) militer canggih menjadi sepenuhnya otomatis dan akhirnya membuat keputusan hidup dan mati tanpa masukan manusia.

Parly dengan keras menentang sistem senjata otonom mematikan yang oleh beberapa orang disebut 'robot pembunuh' dalam sebuah opini yang diterbitkan oleh Defense News.

"Prancis menolak untuk mempercayakan keputusan hidup atau mati ke mesin yang akan bertindak sepenuhnya secara mandiri dan lolos dari segala bentuk kontrol manusia, dan tidak akan mengirim mesin seperti itu ke dalam pertempuran," katanya

"Sistem seperti itu pada dasarnya bertentangan dengan semua prinsip kami. Terminator tidak akan pernah berbaris di Champs-Elysees pada Hari Bastille," imbuhnya seperti disitir dari Russia Today, Rabu (4/12/2019).

Parly sebelumnya menyuarakan keprihatinan atas prospek robot sepenuhnya bekerja otomatis di medan perang pada bulan April. Baru-baru ini, Prancis membentuk komite etika pemerintah untuk memantau perkembangan AI militer.

Menulis untuk Defense News, Parly juga menekankan bahwa AI militer yang maju harus tetap berada di luar tangan negara-negara yang tidak bertanggung jawab dan aktor-aktor non-negara.

Pesatnya perkembangan teknologi AI telah mendorong pertanyaan tentang penggunaan etis mereka ke garis depan, terutama dalam situasi hidup dan mati di tengah perang.

Tahun lalu, Google dipaksa untuk tidak memperbarui pekerjaan pada Project Maven yang kontroversial, yang akan memungkinkan Pentagon untuk meningkatkan kemampuan penargetan drone tempurnya - setelah ribuan karyawan perusahaan memberontak, dengan alasan bahwa penelitian tersebut bertentangan dengan nilai-nilai inti Google.

Amazon juga menghadapi pengawasan serupa atas upayanya untuk bekerja pada jaringan komputasi awan militer, yang dikenal sebagai JEDI, untuk Pentagon.
(ian)
Berita Terkait
Lyon Jadi Pelabuhan...
Lyon Jadi Pelabuhan Baru Jerome Boateng
Prancis Imbau Warganya...
Prancis Imbau Warganya Segera Tinggalkan Pakistan
8 Bukti Prancis Kehilangan...
8 Bukti Prancis Kehilangan Pengaruh Neokolonialisme di Afrika
Pelaku Penyanderaan...
Pelaku Penyanderaan di Bank Prancis Masuk dalam Daftar Pemantauan
Gerakan Boikot Produk...
Gerakan Boikot Produk Prancis Raih Momentum di Bangladesh
5 Alasan PM Prancis...
5 Alasan PM Prancis Sebastien Lecornu Mundur, dari Defisit Anggaran hingga Rasio Utang Capai 113 Persen
Berita Terkini
Israel Ingin Bangun...
Israel Ingin Bangun Kekuatan Militer di Gaza, Hamas: Zionis Ingin Pecah Belah Rakyat Palestina
1 jam yang lalu
Turki Jadi Bagian Penting...
Turki Jadi Bagian Penting Arsitektur Keamanan NATO di Masa Depan
2 jam yang lalu
10 Pemakaman Pemimpin...
10 Pemakaman Pemimpin Dunia yang Dihadiri Jutaan Rakyat, Rekor Khomeini Belum Terpecahkan
3 jam yang lalu
Jerman Tuding China...
Jerman Tuding China Latih Pasukan Rusia, Beijing: Kita Tidak Memihak
3 jam yang lalu
4 Alasan Wapres Filipina...
4 Alasan Wapres Filipina Sara Duterte Terancam Dimakzulkan, Konflik dengan Presiden hingga Terjerat Skandal Korupsi
4 jam yang lalu
Menhan Israel Ancam...
Menhan Israel Ancam Bunuh Para Pemimpin Iran Pengganti Khamenei
5 jam yang lalu
Infografis
Selama Ramadan, Penggunaan...
Selama Ramadan, Penggunaan Bahu Jalan Tol Dalam Kota Dimajukan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved