Lebanon Masih Lumpuh Akibat Unjuk Rasa di Hari Kesembilan
Jum'at, 25 Oktober 2019 - 19:45 WIB
Lebanon Masih Lumpuh Akibat Unjuk Rasa di Hari Kesembilan
A
A
A
BEIRUT - Unjuk rasa masih melumpuhkan Lebanon di hari kesembilan pada Jumat (25/10). Lembaga rating global pun menyatakan kemampuan pemerintah memenuhi tuntutan demonstran akan berdampak pada kepercayaan para pemberi pinjaman dan menggerus cadangan devisa asing.
Demonstran mengibarkan bendera Lebanon sambil memblokir jalanan. Beberapa orang membangun tenda di jalan raya. Massa tidak terlalu banyak tapi terus bertambah sepanjang hari Jumat (25/10).
Unjuk rasa mengakibatkan sejumlah jalan tertutup, sekolah libur dan perbankan tak dapat beroperasi di penjuru negeri. Kebijakan reformasi darurat dan tawaran dialog dengan demonstran sejauh ini telah gagal meredam kemarahan publik.
"Unjuk rasa berjalan damai hingga perselisihan muncul antara demonstran dan para pendukung Hezbollah yang masuk ke barisan pengunjuk rasa, hingga kepolisian bertindak memisahkan keduanya," papar saksi mata pada Reuters.
Pemimpin Hezbollah yang berpengaruh dalam pemerintahan koalisi Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad al-Hariri akan berpidato tentang krisis di negara itu.
Unjuk rasa semakin memperburuk krisis ekonomi di negara itu. Pengunjuk rasa mengecam para elit politik yang dituduh menyalahgunakan sumber daya negara untuk keuntungan pribadi.
Lebanon merupakan salah satu negara dengan lilitan utang paling besar di dunia. Aliran uang untuk mendanai defisit negara dan impor terus melemah sehingga menciptakan tekanan keuangan terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Pasar gelap untuk dolar pun semakin meluas.
Lembaga rating Standard & Poor’s menempatkan Lebanon dalam rangking kredit "negatif".
Demonstran mengibarkan bendera Lebanon sambil memblokir jalanan. Beberapa orang membangun tenda di jalan raya. Massa tidak terlalu banyak tapi terus bertambah sepanjang hari Jumat (25/10).
Unjuk rasa mengakibatkan sejumlah jalan tertutup, sekolah libur dan perbankan tak dapat beroperasi di penjuru negeri. Kebijakan reformasi darurat dan tawaran dialog dengan demonstran sejauh ini telah gagal meredam kemarahan publik.
"Unjuk rasa berjalan damai hingga perselisihan muncul antara demonstran dan para pendukung Hezbollah yang masuk ke barisan pengunjuk rasa, hingga kepolisian bertindak memisahkan keduanya," papar saksi mata pada Reuters.
Pemimpin Hezbollah yang berpengaruh dalam pemerintahan koalisi Perdana Menteri (PM) Lebanon Saad al-Hariri akan berpidato tentang krisis di negara itu.
Unjuk rasa semakin memperburuk krisis ekonomi di negara itu. Pengunjuk rasa mengecam para elit politik yang dituduh menyalahgunakan sumber daya negara untuk keuntungan pribadi.
Lebanon merupakan salah satu negara dengan lilitan utang paling besar di dunia. Aliran uang untuk mendanai defisit negara dan impor terus melemah sehingga menciptakan tekanan keuangan terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Pasar gelap untuk dolar pun semakin meluas.
Lembaga rating Standard & Poor’s menempatkan Lebanon dalam rangking kredit "negatif".
(sfn)