Terancam Disanksi AS karena Invasi Suriah, Turki Bergeming
Sabtu, 12 Oktober 2019 - 04:29 WIB
Terancam Disanksi AS karena Invasi Suriah, Turki Bergeming
A
A
A
ANKARA - Presiden Turki, Recep Tayyep Erdogan, bersumpah bahwa serangan terhadap pasukan Kurdi Suriah tidak akan berhenti. Ia menepis ancaman dari negara lain, sementara Amerika Serikat (AS) memperingatkan Ankara tentang sanksi baru.
"Sekarang ada ancaman yang datang dari kiri dan kana, menyuruh kita untuk menghentikan ini," ujar Erdogan. "Kami tidak akan mundur," tegasnya seperti dikutip dari AFP, Sabtu (12/10/2019).
Seperti diwartakan sebelumnya Presiden AS Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang memberi Departemen Keuangan wewenang lebih luas untuk menjatuhkan sanksi terhadap Turki dan afiliasinya. Sanksi itu diberikan setelah Turki terus melancarkan operasi militernya ke Suriah timur laut untuk hari ketiga.
Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan di bawah perintah eksekutif, departemen menerima wewenang untuk mengeluarkan "sanksi kuat" yang katanya dapat mematikan perekonomian Turki.
"Ini adalah sanksi yang sangat kuat. Kami berharap kami tidak harus menggunakannya, tetapi kami dapat mematikan ekonomi Turki jika perlu," kata Mnuchin
"Sekarang ada ancaman yang datang dari kiri dan kana, menyuruh kita untuk menghentikan ini," ujar Erdogan. "Kami tidak akan mundur," tegasnya seperti dikutip dari AFP, Sabtu (12/10/2019).
Seperti diwartakan sebelumnya Presiden AS Donald Trump telah menandatangani perintah eksekutif yang memberi Departemen Keuangan wewenang lebih luas untuk menjatuhkan sanksi terhadap Turki dan afiliasinya. Sanksi itu diberikan setelah Turki terus melancarkan operasi militernya ke Suriah timur laut untuk hari ketiga.
Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin mengatakan di bawah perintah eksekutif, departemen menerima wewenang untuk mengeluarkan "sanksi kuat" yang katanya dapat mematikan perekonomian Turki.
"Ini adalah sanksi yang sangat kuat. Kami berharap kami tidak harus menggunakannya, tetapi kami dapat mematikan ekonomi Turki jika perlu," kata Mnuchin
(ian)