Turki Bakal Luncurkan Operasi Militer di Suriah
Minggu, 06 Oktober 2019 - 07:31 WIB
Turki Bakal Luncurkan Operasi Militer di Suriah
A
A
A
ANKARA - Turki akan meluncurkan operasi militer darat dan udara di Suriah dalam dua hari ke depan di wilayah timur Sungai Eufrat. Wilayah ini sebagai besar dikuasi oleh milisi Kurid yang didukung oleh Amerika Serikat (AS) yang dianggap sebagai teroris oleh Turki.
"Kami telah membuat persiapan kami; kami telah menyelesaikan rencana operasi kami, memberikan instruksi yang diperlukan," kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kepada anggota partai berkuasa seperti dikutip dari Deutsche Welle, Minggu (6/10/2019).
Ini adalah pernyataan Erdogan yang paling konkret tentang intervensi militer di kawasan itu sejak Ankara dan Washington memutuskan untuk membangun "zona aman" di perbatasan Suriah yang menurut Turki harus dibebaskan dari milisi YPG Kurdi Suriah.
Ankara melihat YPG terkait dengan pemberontakan Kurdi di Turki dan ingin Washington menghentikan dukungannya untuk mereka. Washington, pada gilirannya, melihat pasukan Kurdi sebagai kelompok vital dalam perang melawan kelompok ekstremis Negara Islam atau ISIS.
Erdogan telah memberikan batas waktu sampai akhir September untuk zona aman sejauh 30 kilometer yang akan didirikan. Ia bahkan memperingatkan bahwa jika tidak dipertahankan, Turki akan "dipaksa" untuk mengambil tindakan militer keamanan sendiri. Turki menuduh AS terlalu lambat dalam menetapkan zona itu, di tengah perbedaan antara dua mitra NATO tentang seberapa jauh harus mencapai ke Suriah dan siapa yang harus mengendalikannya.
Ankara mengatakan ingin menggunakan wilayah itu untuk menampung hingga 2 juta pengungsi Suriah dari 3,6 juta, menurut angka pemerintah.
Milisi Kurdi YPG yang saat ini mengendalikan wilayah itu berperan penting dalam mengalahkan pejuang dari kelompok ekstremis Negara Islam di Suriah bersama pasukan Amerika.
Menanggapi rencana Turki itu, menurut kantor berita Reuters, Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi mengatakan bahwa mereka tidak akan ragu untuk mengubah setiap serangan (Turki) menjadi perang habis-habisan.
"Kami telah membuat persiapan kami; kami telah menyelesaikan rencana operasi kami, memberikan instruksi yang diperlukan," kata Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kepada anggota partai berkuasa seperti dikutip dari Deutsche Welle, Minggu (6/10/2019).
Ini adalah pernyataan Erdogan yang paling konkret tentang intervensi militer di kawasan itu sejak Ankara dan Washington memutuskan untuk membangun "zona aman" di perbatasan Suriah yang menurut Turki harus dibebaskan dari milisi YPG Kurdi Suriah.
Ankara melihat YPG terkait dengan pemberontakan Kurdi di Turki dan ingin Washington menghentikan dukungannya untuk mereka. Washington, pada gilirannya, melihat pasukan Kurdi sebagai kelompok vital dalam perang melawan kelompok ekstremis Negara Islam atau ISIS.
Erdogan telah memberikan batas waktu sampai akhir September untuk zona aman sejauh 30 kilometer yang akan didirikan. Ia bahkan memperingatkan bahwa jika tidak dipertahankan, Turki akan "dipaksa" untuk mengambil tindakan militer keamanan sendiri. Turki menuduh AS terlalu lambat dalam menetapkan zona itu, di tengah perbedaan antara dua mitra NATO tentang seberapa jauh harus mencapai ke Suriah dan siapa yang harus mengendalikannya.
Ankara mengatakan ingin menggunakan wilayah itu untuk menampung hingga 2 juta pengungsi Suriah dari 3,6 juta, menurut angka pemerintah.
Milisi Kurdi YPG yang saat ini mengendalikan wilayah itu berperan penting dalam mengalahkan pejuang dari kelompok ekstremis Negara Islam di Suriah bersama pasukan Amerika.
Menanggapi rencana Turki itu, menurut kantor berita Reuters, Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi mengatakan bahwa mereka tidak akan ragu untuk mengubah setiap serangan (Turki) menjadi perang habis-habisan.
(ian)