Perusahaan Malaysia Biang Kabut Asap, Indonesia Dipersilakan Bertindak

Sabtu, 14 September 2019 - 17:07 WIB
Perusahaan Malaysia...
Perusahaan Malaysia Biang Kabut Asap, Indonesia Dipersilakan Bertindak
A A A
KUALA LUMPUR - Pihak Kuala Lumpur mempersilakan otoritas berwenang Indonesia untuk menyelidiki dan menuntut perusahaan Malaysia yang berkontribusi pada kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatra dan Kalimantan. Kebakaran itulah yang memicu kabut asap yang menyelimuti Indonesia, Singapura dan Malaysia.

Reaksi negara tetangga itu muncul setelah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia Siti Nurbaya Bakar merinci lima perusahaan asing yang berkontribusi pada kebakaran hutan dan lahan. Empat perusahaan berlokasi di Kalimantan Barat dan satu lagi di Riau.

"PT Hutan Ketapang Industri (milik) Singapura di Ketapang, PT Sime Indo Agro (milik) Malaysia di Sanggau, PT Sukses Karya Sawit (milik) Malaysia di Ketapang, dan PT Rafi Kamajaya Abadi (milik Malaysia) di Melawi, ini yang disegel," kata Siti, kemarin.

Menteri Energi, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Lingkungan, dan Perubahan Iklim Malaysia; Yeo Bee Yin, memasrahkan kepada Indonesia untuk bertindak.

"Keempat perusahaan (Malaysia), terserah pemerintah Indonesia untuk menyelidiki," kata Yeo Bee Yin, pada Sabtu (14/9/2019).

"Kami percaya bahwa pemerintah Indonesia harus melakukan apa yang perlu untuk menyelidiki dan mengambil tindakan terhadap mereka yang terbukti melanggar hukum," ujarnya, dikutip Straits Times.

Dia menambahkan bahwa Indonesia memiliki kekuatan penuh untuk menegakkan hukum di wilayahnya sendiri. Empat dari 30 perusahaan yang disegel oleh Indonesia pada hari Jumat adalah anak perusahaan milik Sime Darby Malaysia, IOI Corporation, Kuala Lumpur Kepong Berhad ( KLK), dan TDM Berhad.

"ASEAN tidak memiliki UU kabut asap lintas batas ASEAN. Itu berarti penegakan hukum harus sesuai dengan negara (terkait)," ujar Yeo.

Sime Darby Malaysia dan IOI Corporation mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka belum menerima pemberitahuan bahwa perkebunan mereka di Indonesia, yang dioperasikan oleh anak perusahaan mereka, disegel.

Sementara itu, KLK mengeluarkan pernyataan pada hari Sabtu pagi yang mengonfirmasikan bahwa kebakaran memang terjadi di perkebunannya. Kebakaran itu memengaruhi 2,8 hektare dari 14.400 hektare perkebunannya.

"Hotspot (titik panas) ini berhasil padam pada hari yang sama," kata perusahaan tersebut dalam sebuah pernyataan. "Saat ini, 4,25 hektare yang mencakup area isolasi telah ditutup untuk penyelidikan yang sedang berlangsung."

Pada hari Sabtu sore, bagian utara Semenanjung Malaysia terbebas dari kabut asap singkat setelah angin barat laut membersihkan langit.

Jumlah hotspot di Kalimantan telah menurun menjadi 627 pada hari Sabtu, dari 859 titik sehari sebelumnya. Sedangkan hotspot di Sumatra turun menjadi 55 dari 115 titik.

Malaysia mencatat ada 11 hotspot, 10 di antaranya ada di Sabah dan Sarawak.

Yeo mengatakan pemerintah sekarang fokus pada area penyemaian awan di Selangor, jika kondisi awan memungkinkan. Tetapi dia mengingatkan bahwa tindakan seperti itu hanyalah "bantuan sementara dan itu hanya membantu sekala kecil".

"Kabut asap dapat dibersihkan melalui pemadaman api sehingga kita dapat dengan cepat menyelesaikan situasi kabut asap secepat mungkin," ujar Yeo.
(mas)
Berita Terkait
Malaysia dan Singapura...
Malaysia dan Singapura Ternyata Tak Senang RI Punya Industri Semikonduktor
5 Negara dengan Jumlah...
5 Negara dengan Jumlah Suku Jawa Terbanyak Selain Indonesia
10 Negara Bebas Konflik...
10 Negara Bebas Konflik di Dunia, Ada 2 Tetangga Indonesia
Indonesia Selamatkan...
Indonesia Selamatkan Singapura dari Krisis Ayam
10 Negara Terbaik dalam...
10 Negara Terbaik dalam Wisata Medis, Termasuk 3 Negara Tetangga Indonesia
10 Negara yang Memiliki...
10 Negara yang Memiliki Perjanjian Ekstradisi dengan Indonesia, Salah Satunya Lokasi Persembunyikan Koruptor
Berita Terkini
7 Senjata yang Mengubah...
7 Senjata yang Mengubah Dunia pada Perang Dunia II, dari Supersonik hingga Bom Nuklir
50 menit yang lalu
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian AS dan Iran Tak Mungkin Terjadi, Teheran Akan Memiliki Senjata Nuklir
2 jam yang lalu
IRGC: Serangan Balasan...
IRGC: Serangan Balasan ke Kuwait dan Bahrain Harus Jadi Pelajaran bagi AS
5 jam yang lalu
Iran Klaim Belum Gunakan...
Iran Klaim Belum Gunakan Semua Senjata Andalannya
6 jam yang lalu
Bebas dari Penjara,...
Bebas dari Penjara, Thaksin Shinawatra Dapat Pengampunan Raja Thailand
7 jam yang lalu
4 Alasan Iran Kini Lebih...
4 Alasan Iran Kini Lebih Siap Hadapi Serangan AS, Sudah Memahami Musuh
9 jam yang lalu
Infografis
8 PTS Terbaik Indonesia...
8 PTS Terbaik Indonesia Masuk THE Asia University Rankings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved