Pompeo Peringatkan Kim Jong-un: Saatnya Serius Denuklirisasi!
Senin, 09 September 2019 - 14:22 WIB
Pompeo Peringatkan Kim Jong-un: Saatnya Serius Denuklirisasi!
A
A
A
WASHINGTON - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS) Michael Richard Pompeo memperingatkan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un bahwa sudah saatnya bagi dirinya untuk serius tentang denuklirisasi.
Diplomat top Amerika itu berharap pemimimpin Korut tidak mengingkari janji yang dibuat pada Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan awal di Singapura. Saat itu, Kim Jong-un berjanji akan melakukan denuklirisasi dengan syarat keamanan negaranya terjamin.
Pompeo juga berharap pembicaraan denuklirisasi antara Washington dengan Pyongyang bisa terealisasi dalam beberapa hari atau minggu ke depan.
"Kami tahu Pemimpin Kim terus membuat komitmen untuk denuklirisasi, kata Pompeo kepada ABC This Week yang dilansir Senin (9/9/2019).
“Kami berharap bahwa dalam beberapa hari mendatang atau mungkin beberapa minggu kami akan kembali ke meja perundingan dengan mereka. Itu hasil terbaik," lanjut mantan direktur CIA itu.
Korea Utara telah menembakkan serangkaian rudal jarak pendek dalam beberapa pekan terakhir sebagai protes terhadap latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan dan adopsi senjata baru oleh Seoul. Kondisi itu mempersulit dimulainya kembali perundingan denuklirisasi.
Menurut Pompeo tes rudal jarak pendek Korut mengecewakan, namun itu tidak berarti Kim melanggar komitmen yang dia buat untuk Trump. Dia menekankan tujuan AS, yakni membuat Korea Utara melakukan denuklirisasi secara terverifikasi.
"Saya pikir Presiden Trump akan sangat kecewa jika Pemimpin Kim tidak kembali ke meja perundingan atau melakukan tes rudal yang tidak konsisten dengan perjanjian yang mereka buat ketika mereka berdua bersama-sama tiga kali," ujarnya.
Gaya diplomasi Pompeo seperti ini pernah dikecam Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho. Beberapa bulan lalu, Ri menyebut Pompeo sebagai "racun diplomasi".
Dia menanggapi pernyataan Pompeo bahwa jika Kim Jong-un gagal berkomitmen untuk melucuti persenjataan nuklir Korea Utara, Amerika Serikat akan terus melanjutkan sanksi yang paling sulit dalam semua sejarah. "Retorika sanksi yang basi," kesal Ri.
"Dia benar-benar kurang ajar untuk mengucapkan kata-kata tanpa pertimbangan seperti itu, yang hanya membuat kita kecewa dan skeptis, apakah kita bisa menyelesaikan masalah dengan pria seperti itu," ujar Ri.
Ri memperingatkan Amerika Serikat jika negara itu bertahan dengan impiannya untuk mendapatkan segalanya melalui sanksi, maka Korea Utara akan terus menimbulkan ancaman terbesar bagi Amerika Serikat.
Diplomat top Amerika itu berharap pemimimpin Korut tidak mengingkari janji yang dibuat pada Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan awal di Singapura. Saat itu, Kim Jong-un berjanji akan melakukan denuklirisasi dengan syarat keamanan negaranya terjamin.
Pompeo juga berharap pembicaraan denuklirisasi antara Washington dengan Pyongyang bisa terealisasi dalam beberapa hari atau minggu ke depan.
"Kami tahu Pemimpin Kim terus membuat komitmen untuk denuklirisasi, kata Pompeo kepada ABC This Week yang dilansir Senin (9/9/2019).
“Kami berharap bahwa dalam beberapa hari mendatang atau mungkin beberapa minggu kami akan kembali ke meja perundingan dengan mereka. Itu hasil terbaik," lanjut mantan direktur CIA itu.
Korea Utara telah menembakkan serangkaian rudal jarak pendek dalam beberapa pekan terakhir sebagai protes terhadap latihan militer gabungan AS dan Korea Selatan dan adopsi senjata baru oleh Seoul. Kondisi itu mempersulit dimulainya kembali perundingan denuklirisasi.
Menurut Pompeo tes rudal jarak pendek Korut mengecewakan, namun itu tidak berarti Kim melanggar komitmen yang dia buat untuk Trump. Dia menekankan tujuan AS, yakni membuat Korea Utara melakukan denuklirisasi secara terverifikasi.
"Saya pikir Presiden Trump akan sangat kecewa jika Pemimpin Kim tidak kembali ke meja perundingan atau melakukan tes rudal yang tidak konsisten dengan perjanjian yang mereka buat ketika mereka berdua bersama-sama tiga kali," ujarnya.
Gaya diplomasi Pompeo seperti ini pernah dikecam Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho. Beberapa bulan lalu, Ri menyebut Pompeo sebagai "racun diplomasi".
Dia menanggapi pernyataan Pompeo bahwa jika Kim Jong-un gagal berkomitmen untuk melucuti persenjataan nuklir Korea Utara, Amerika Serikat akan terus melanjutkan sanksi yang paling sulit dalam semua sejarah. "Retorika sanksi yang basi," kesal Ri.
"Dia benar-benar kurang ajar untuk mengucapkan kata-kata tanpa pertimbangan seperti itu, yang hanya membuat kita kecewa dan skeptis, apakah kita bisa menyelesaikan masalah dengan pria seperti itu," ujar Ri.
Ri memperingatkan Amerika Serikat jika negara itu bertahan dengan impiannya untuk mendapatkan segalanya melalui sanksi, maka Korea Utara akan terus menimbulkan ancaman terbesar bagi Amerika Serikat.
(mas)