Inggris Ajak Prancis dan Jerman Gabung Patroli Selat Hormuz

Jum'at, 30 Agustus 2019 - 06:51 WIB
Inggris Ajak Prancis...
Inggris Ajak Prancis dan Jerman Gabung Patroli Selat Hormuz
A A A
LONDON - Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, akan meminta lebih banyak dukungan internasional untuk melindungi pengiriman di Selat Hormuz. Permintaan itu akan diajukannya saat bertemu dengan koleganya dari Prancis dan Jerman pada Jumat malam waktu setempat.

Bulan lalu, Iran menyita tanker minyak berbendera Inggris di Selat Hormuz. Aksi itu dilakukan sebagai balasan atas penyitaan kapal tanker Iran oleh Inggris di Gibraltar karena dituduh melanggar sanksi Uni Eropa dengan membawa minyak ke Suriah.

Pada awal Agustus, Inggris menjadi negara pertama yang bergabung dengan inisiatif keamanan maritim Amerika Serikat (AS) yang bertugas melindungi kapal dagang yang melewati Selat Hormuz.

Australia dan Bahrain sejak itu juga bergabung dengan inisiatif ini. Namun Jerman dan Prancis terus menolak untuk ambil bagian, di tengah kekhawatiran bahwa hal itu dapat meningkatkan kemungkinan konflik terbuka dengan Iran.

"Kami membutuhkan dukungan internasional seluas mungkin untuk mengatasi ancaman terhadap pelayaran internasional di Selat Hormuz," kata Raab dalam sebuah pernyataan sebelum menghadiri pertemuan para menteri luar negeri Eropa di Helsinki seperti dikutip dari Middle East Eye, Jumat (30/8/2019).

Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan kemungkinan operasi pertahanan maritim Eropa yang terpisah akan dibahas di Helsinki, meskipun menteri luar negerinya, Heiko Maas, sebelumnya mengakui akan lambat untuk turun dari lapangan.

Sementara Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly mengatakan kepada AFP pada hari Kamis bahwa ia akan mendukung "kehadiran dissuasive" yang dipimpin UE.

Pekan lalu, Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan saluran perairan internasional itu akan kurang aman jika ekspor minyak negaranya menghadapi sanksi penuh.

Raab menegaskan kembali komitmen Inggris, bersama Jerman dan Prancis, atas perjanjian nuklir 2015 yang ditarik Presiden AS Donald Trump tahun lalu untuk kemudian memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran.

"Kesepakatan nuklir adalah satu-satunya kesepakatan di atas meja yang mencegah Iran dari mendapatkan senjata nuklir dan kami akan terus bekerja sama untuk mendorong Iran menegakkan perjanjian secara penuh," kata Raab.

Kesepakatan 2015 antara Iran dan enam kekuatan dunia, dicapai di bawah mantan Presiden AS Barack Obama, yang bertujuan untuk mengekang program pengayaan uranium Iran yang disengketakan dengan imbalan pencabutan banyak sanksi internasional terhadap Teheran.
(ian)
Berita Terkait
Iran Setujui Pengayaan...
Iran Setujui Pengayaan Uranium Dekati Level Senjata Nuklir, Eropa Kecewa
Prancis, Jerman, dan...
Prancis, Jerman, dan Inggris Siap Gabung Perang Keroyok Iran
Eropa Desak Iran Lanjutkan...
Eropa Desak Iran Lanjutkan Kerjasama dengan IAEA
AS, Inggris, Prancis...
AS, Inggris, Prancis dan Jerman Bersatu Melawan Iran Kembangkan Bom Nuklir
Trio Eropa Tolak Pengaktifkan...
Trio Eropa Tolak Pengaktifkan Klausul 'Snapback' Oleh AS
Kesal, AS Sebut Sekutu...
Kesal, AS Sebut Sekutu Eropanya Pendukung Ayatollah
Berita Terkini
Mengapa Komunitas Internasional...
Mengapa Komunitas Internasional Tak Bisa Menghentikan Gazanisasi di Lebanon?
1 jam yang lalu
5 Alasan Iran Serang...
5 Alasan Iran Serang Bahrain dan Kuwait, Menekan AS Memenuhi Tuntutan Teheran
2 jam yang lalu
Gerakan Protes Gen Z...
Gerakan Protes Gen Z Guncang Ibu Kota India: Aku Seekor Kecoak!
2 jam yang lalu
Hamas Ungkap Pertemuan...
Hamas Ungkap Pertemuan di Kairo Bahas Penerapan Gencatan Senjata Gaza
4 jam yang lalu
Ilmuwan Bikin Roti dengan...
Ilmuwan Bikin Roti dengan Ragi dari Kulit Mumi Berusia 5.300 Tahun
5 jam yang lalu
AS Pertimbangkan Gunakan...
AS Pertimbangkan Gunakan Aset Iran untuk Biaya Rekonstruksi Negara-negara Teluk
6 jam yang lalu
Infografis
Piala Dunia 2026: Panggung...
Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo dan Lahirnya Era Baru
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved