Mantan Pemimpin Pemberontak Kolombia Umumkan Kembali Angkat Senjata
Kamis, 29 Agustus 2019 - 23:19 WIB
Mantan Pemimpin Pemberontak Kolombia Umumkan Kembali Angkat Senjata
A
A
A
BOGOTA - Seorang mantan komandan senior pasukan pemberontak Kolombia yang sudah dibubarkan, FARC, mengumumkan kembali angkat senjata. Ia akan bergabung bersama dengan gerilyawan lainnya yang menjauhkan diri dari perjanjian damai bersejarah yang ditandatangani dengan pemerintah.
"Kami mengumumkan kepada dunia bahwa Marquetalia kedua telah dimulai," kata Ivan Marquez, mengenakan seragam militer hijau, dalam sebuah video yang diposting di YouTube seperti dikutip dari AFP, Kamis (29/8/2019).
Marquez merujuk pada daerah kantong pedesaan yang dianggap sebagai tempat kelahiran FARC pada 1960-an.
Marquez menuduh pemerintah mengkhianati perjanjian di mana sebagian besar dari 7.000 pejuang FARC telah meletakkan senjata setelah setengah abad konflik bersenjata.
Keberadaan Marquez sendiri selama lebih dari satu tahun tidak diketahui. Padahal ia adalah pemimpin nomor dua kelompok pemberontak Marxis FARC dan kepala negosiator perjanjian damai pada 2016 lalu.
Dalam video berdurasi 32 menit, Marquez muncul di hutan Kolombia diapit oleh 17 pria dan wanita yang memegang senapan. Di belakang mereka ada spanduk kuning FARC.
Marquez mengatakan pemerintah telah melakukan penipuan dalam melaksanakan perjanjian. Menurutnya pemerintah Kolombia secara sepihak mengubah kata-katanya dan gagal memberikan jaminan hukum bagi mantan pejuang FARC.
"Semua ini memaksa kami untuk kembali ke lapangan," kata Marquez.
"Kami tidak pernah kalah secara ideologis. Karena itu, peperangan berlanjut," ucap Marquez.
"FARC akan berkoordinasi dengan kelompok pemberontak aktif terakhir Kolombia, Tentara Pembebasan Nasional, dan kawan-kawan yang belum melipat bendera mereka," ujarnya.
Marquez dan seorang rekan pemberontak yang buron, Jesus Santrich, telah menjauhkan diri dari perjanjian damai 2016.
Santrich, yang bersembunyi setelah Amerika Serikat (AS) berusaha agar dia diekstradisi atas tuduhan narkoba, juga muncul dalam video tersebut.
Meskipun sebagian besar pejuang FARC meletakkan senjata untuk kembali ke kehidupan sipil, sekitar 2.300 yang didistribusikan di berbagai kelompok menolak untuk melakukannya.
Menurut intelijen militer Kolombia kelompok pemberontak ini bertahan terutama melalui perdagangan narkoba dan penambangan ilegal.
Tidak ada reaksi langsung dari pemerintah Kolombia terhadap pengumuman Marquez yang kembali angkat senjata.
Sedangkan partai politik FARC yang muncul dari tentara pemberontak di bawah perjanjian damai mengatakan pihaknya menyesali pengumuman dari Marquez.
Presiden partai Rodrigo Londono, yang dikenal dengan nama Timochenko selama perang, menyebutnya sebagai "pukulan telak."
Dia mengatakan sebagian besar mantan prajurit FARC masih percaya pada perjanjian damai. Meski begitu ada juga yang goyah dan mereka mungkin setuju dengan apa yang dilakukan Marquez sekarang.
"Itu bisa menyakiti kita," katanya di radio Kolombia.
Sedangkan mantan presiden Juan Manuel Santos, yang memenangkan hadiah perdamaian Nobel karena mewujudkan perjanjian itu, mempertahankan perjanjian damai dan bersikeras bahwa sebagian besar mantan anggota FARC masih percaya akan hal itu.
"Kita harus mengalahkan para desertir. Pertempuran untuk perdamaian tidak berhenti," tweeted Santos.
Dengan dukungan PBB, perjanjian damai pada 2016 mengakhiri pemberontakan oleh Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) dan mengubahnya menjadi sebuah partai politik yang disebut Pasukan Revolusi Alternatif Umum, yang tetap menggunakan akronim FARC yang sama.
Sementara perjanjian damai itu belum mengakhiri kekerasan di Kolombia, kelompok pemberontak sayap kiri lainnya, paramiliter sayap kanan dan pengedar narkoba masih mengobarkan pertempuran mereka. Meski begitu harus tetap diakui jika perjanjian damai itu mampu mengurangi tindak kekerasan.
Presiden Konservatif Kolombia, Ivan Duque, terpilih tahun lalu dengan janji untuk mengubah perjanjian itu. Menurutnya perjanjian itu terlalu lunak terhadap mantan pemberontak yang bersalah atas kejahatan serius.
Sementara itu Partai politik FARC telah mengecam keterlambatan dalam penerapan perjanjian tersebut serta kurangnya jaminan hukum dan keamanan bagi para anggotanya.
FARC menunjuk pada apa yang dikatakannya adalah pembunuhan terhadap 140 mantan gerilyawan, dan 31 anggota keluarga mereka, sejak perjanjian itu ditandatangani.
"Kami mengumumkan kepada dunia bahwa Marquetalia kedua telah dimulai," kata Ivan Marquez, mengenakan seragam militer hijau, dalam sebuah video yang diposting di YouTube seperti dikutip dari AFP, Kamis (29/8/2019).
Marquez merujuk pada daerah kantong pedesaan yang dianggap sebagai tempat kelahiran FARC pada 1960-an.
Marquez menuduh pemerintah mengkhianati perjanjian di mana sebagian besar dari 7.000 pejuang FARC telah meletakkan senjata setelah setengah abad konflik bersenjata.
Keberadaan Marquez sendiri selama lebih dari satu tahun tidak diketahui. Padahal ia adalah pemimpin nomor dua kelompok pemberontak Marxis FARC dan kepala negosiator perjanjian damai pada 2016 lalu.
Dalam video berdurasi 32 menit, Marquez muncul di hutan Kolombia diapit oleh 17 pria dan wanita yang memegang senapan. Di belakang mereka ada spanduk kuning FARC.
Marquez mengatakan pemerintah telah melakukan penipuan dalam melaksanakan perjanjian. Menurutnya pemerintah Kolombia secara sepihak mengubah kata-katanya dan gagal memberikan jaminan hukum bagi mantan pejuang FARC.
"Semua ini memaksa kami untuk kembali ke lapangan," kata Marquez.
"Kami tidak pernah kalah secara ideologis. Karena itu, peperangan berlanjut," ucap Marquez.
"FARC akan berkoordinasi dengan kelompok pemberontak aktif terakhir Kolombia, Tentara Pembebasan Nasional, dan kawan-kawan yang belum melipat bendera mereka," ujarnya.
Marquez dan seorang rekan pemberontak yang buron, Jesus Santrich, telah menjauhkan diri dari perjanjian damai 2016.
Santrich, yang bersembunyi setelah Amerika Serikat (AS) berusaha agar dia diekstradisi atas tuduhan narkoba, juga muncul dalam video tersebut.
Meskipun sebagian besar pejuang FARC meletakkan senjata untuk kembali ke kehidupan sipil, sekitar 2.300 yang didistribusikan di berbagai kelompok menolak untuk melakukannya.
Menurut intelijen militer Kolombia kelompok pemberontak ini bertahan terutama melalui perdagangan narkoba dan penambangan ilegal.
Tidak ada reaksi langsung dari pemerintah Kolombia terhadap pengumuman Marquez yang kembali angkat senjata.
Sedangkan partai politik FARC yang muncul dari tentara pemberontak di bawah perjanjian damai mengatakan pihaknya menyesali pengumuman dari Marquez.
Presiden partai Rodrigo Londono, yang dikenal dengan nama Timochenko selama perang, menyebutnya sebagai "pukulan telak."
Dia mengatakan sebagian besar mantan prajurit FARC masih percaya pada perjanjian damai. Meski begitu ada juga yang goyah dan mereka mungkin setuju dengan apa yang dilakukan Marquez sekarang.
"Itu bisa menyakiti kita," katanya di radio Kolombia.
Sedangkan mantan presiden Juan Manuel Santos, yang memenangkan hadiah perdamaian Nobel karena mewujudkan perjanjian itu, mempertahankan perjanjian damai dan bersikeras bahwa sebagian besar mantan anggota FARC masih percaya akan hal itu.
"Kita harus mengalahkan para desertir. Pertempuran untuk perdamaian tidak berhenti," tweeted Santos.
Dengan dukungan PBB, perjanjian damai pada 2016 mengakhiri pemberontakan oleh Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC) dan mengubahnya menjadi sebuah partai politik yang disebut Pasukan Revolusi Alternatif Umum, yang tetap menggunakan akronim FARC yang sama.
Sementara perjanjian damai itu belum mengakhiri kekerasan di Kolombia, kelompok pemberontak sayap kiri lainnya, paramiliter sayap kanan dan pengedar narkoba masih mengobarkan pertempuran mereka. Meski begitu harus tetap diakui jika perjanjian damai itu mampu mengurangi tindak kekerasan.
Presiden Konservatif Kolombia, Ivan Duque, terpilih tahun lalu dengan janji untuk mengubah perjanjian itu. Menurutnya perjanjian itu terlalu lunak terhadap mantan pemberontak yang bersalah atas kejahatan serius.
Sementara itu Partai politik FARC telah mengecam keterlambatan dalam penerapan perjanjian tersebut serta kurangnya jaminan hukum dan keamanan bagi para anggotanya.
FARC menunjuk pada apa yang dikatakannya adalah pembunuhan terhadap 140 mantan gerilyawan, dan 31 anggota keluarga mereka, sejak perjanjian itu ditandatangani.
(ian)