Trump: Rashida Tlaib Benci Israel, Saya Tidak Membeli Air Matanya

Rabu, 21 Agustus 2019 - 02:37 WIB
Trump: Rashida Tlaib...
Trump: Rashida Tlaib Benci Israel, Saya Tidak Membeli Air Matanya
A A A
WASHINGTON - Presiden Donald John Trump mengatakan bahwa ia tidak tersentuh tangisan anggota Kongres Amerika Serikat (AS) Rashida Tlaib yang menceritakan pembatalan kunjungannya ke Israel dan Tepi Barat. Menurut presiden, politikus Demokrat itu sosok yang benci Israel dan semua orang Yahudi.

Dalam jumpa pers hari Selasa (20/8/2019), Tlaib dan rekannya sesama politikus Demokrat Ilhan Omar menggelar jumpa pers yang membahas pembatalan kunjungan mereka ke Israel dan Tepi Barat. Dalam jumpa pers tersebut, Tlaib menangis ketika bercerita tentang kunjungannya ke keluarganya di Palestina ketika dia masih anak-anak.

"Maaf, saya tidak membeli air mata (anggota) Perwakilan (Rashida) Tlaib," tulis Trump di Twitter.

"Saya telah menyaksikan kekerasan, kegilaannya dan, yang paling penting, kata-kata, terlalu lama. Sekarang menangis? Dia membenci Israel dan semua orang Yahudi. Dia anti-Semit. Dia dan ketiga temannya adalah wajah baru Partai Demokrat. Jalani saja!," lanjut tweet presiden yang dikutip dari akun Twitter-nya, @realDonaldTrump.

Tlaib, seorang politikus Demokrat dari Michigan, tidak memiliki catatan melakukan kekerasan dan tidak jelas apa yang dimaksud Trump dengan referensi tersebut. Dia selama ini gencar mengkritik Trump bersama rekan-rekannya dari Partai Demokrat; Ilhan Omar, Alexandria Ocasio-Cortez, dan Ayanna Pressley.

Omar dan Tlaib—dua wanita Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres AS—adalah pengkritik keras pendudukan Israel terhadap Palestina dan pendukung vokal gerakan BDS (Boikot, Divestasi, Sanksi) terhadap rezim Zionis. Mereka dijadwalkan berkunjung ke Israel dan Tepi Barat pada hari Minggu dalam perjalanan yang awalnya disetujui oleh pemerintah Israel.

Tetapi minggu lalu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, di bawah tekanan dari Trump, mengumumkan bahwa Israel telah membatalkan persetujuannya. Alasannya, undang-undang negara itu mengizinkan pemerintah untuk mencegah warga negara asing yang mendukung boikot terhadap Israel.

Tak lama setelah membatalkan persetujuannya, pemerintah Israel kemudian mengabulkan permintaan Tlaib untuk kunjungan "kemanusiaan" ke neneknya di Tepi Barat, Palestina. Namun, politikus Demokrat itu memilih mengurungkan kunjungannya dan menuduh pemerintah Israel menggunakan keluarganya sebagai pembungkam terhadap dirinya.

"Pemerintah Israel menggunakan cinta dan keinginan saya untuk melihat nenek saya guna membungkam saya dan membuat kemampuan saya untuk melakukan hal itu bergantung pada saya menandatangani surat—mencerminkan betapa tidak demokratis dan takutnya mereka akan kebenaran yang akan diungkapkan oleh perjalanan saya," katanya dalam sebuah pernyataan.

"Mengunjungi nenek saya di bawah kondisi yang menekan ini dimaksudkan untuk mempermalukan saya untuk menghancurkan hati nenek saya. Membungkam saya dengan perlakuan untuk membuat saya merasa kurang dari apa yang dia inginkan untuk saya—itu akan membunuh saya yang selalu menentang rasisme dan ketidakadilan," lanjut Tlaib.

Pada konferensi pers, kedua politikus Demokrat itu bergabung dengan konstituen Yahudi di distrik Minnesota dan perwakilan dari organisasi Yahudi progresif yang mengatakan bahwa mereka mendukung kedua perempuan anggota Kongres tersebut.

Tlaib menjadi emosional ketika dia menggambarkan reaksi neneknya terhadap keputusannya untuk membatalkan kunjungannya.

"Dia bilang saya mimpinya yang terwujud," kata Tlaib. "Saya burung bebasnya. Jadi mengapa saya kembali dan dikurung dan sujud?," tutur Tlaib.

Ketika Trump dan beberapa politikus Republik menuduh Tlaib sebagai sosok anti-Semit, IfNotNow, sebuah kelompok Yahudi progresif justru mendukung Tlaib. Kelompok itu melihat presiden sebagai satu-satunya tokoh yang menyebarkan kebencian.

"Yahudi Amerika melihat kebohongan Trump," kata Emily Mayer, juru bicara IfNotNow, dalam sebuah pernyataan kepada Yahoo News.

"Kami menyaksikan kampanye 2016-nya secara teratur menggunakan kiasan anti-Semit dan mengilhami kebangkitan nasionalisme kulit putih. Kami masih menonton saat ia mengeluarkan retorika anti-Semit dan anti-imigran dari Oval Office, menginspirasi kekerasan massa—dan menempatkan begitu banyak orang Amerika, termasuk komunitas kami, dalam bahaya nyata," lanjut pernyataan tersebut.

"Rashida telah menjadi salah satu sekutu terkuat orang-orang Yahudi," imbuh Mayer. "Trump sekali lagi secara sinis mempersenjatai rasa sakit komunitas kami untuk mengesampingkan kritik yang sah atas pelanggaran HAM Israel."
(mas)
Berita Terkait
3 Alasan Donald Trump...
3 Alasan Donald Trump Mengusir Para Simpatisan Palestina dari Amerika Serikat
5 Alasan Donald Trump...
5 Alasan Donald Trump Tak Akan Pernah Membela Palestina
3 Kebijakan Kontroversial...
3 Kebijakan Kontroversial Donald Trump yang Dianggap Anti-Palestina
Presiden AS Donald Trump...
Presiden AS Donald Trump Dilema, Bela Qatar atau Israel
Alasan Amerika Serikat...
Alasan Amerika Serikat Tak Mengakui Palestina sebagai Negara Merdeka
Donald Trump: Tidak...
Donald Trump: Tidak Ada yang Mengusir Rakyat Palestina dari Gaza
Berita Terkini
Iran Serang Pesawat...
Iran Serang Pesawat F-18 AS di Pangkalan Azraq Yordania
46 menit yang lalu
Operasi Siber China...
Operasi Siber China Diduga Targetkan Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan
55 menit yang lalu
Blokade Angkatan Laut...
Blokade Angkatan Laut AS terhadap Iran Dimulai Lagi, Kerahkan Lebih Banyak Kekuatan Militer
1 jam yang lalu
Taktik Trump Sering...
Taktik Trump Sering Menjiplak Musuh-musuhnya, dari Blokade Laut hingga Tarif Selat Hormuz
2 jam yang lalu
Diejek Habis-habisan,...
Diejek Habis-habisan, Trump akan Ganti Biaya Kargo Selat Hormuz 20% dengan Kesepakatan Investasi untuk Negara-negara Teluk
3 jam yang lalu
Jerman akan Beli 50.000...
Jerman akan Beli 50.000 Drone Serang untuk Ukraina
4 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved