Juluki Trump 'Tarif Man,' Pengamat Sebut Ketegangan AS-China Belum Usai
Kamis, 08 Agustus 2019 - 11:08 WIB
Juluki Trump 'Tarif Man,' Pengamat Sebut Ketegangan AS-China Belum Usai
A
A
A
WASHINGTON - Pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan China untuk menyelesaikan ketegangan mereka dalam bidang perdagangan dan ekonomi tampaknya masih jauh dari kata usai. Hal itu disampaikan oleh Wakil Presiden Senior Simon Chair bidang Ekonomi Politik dan Penasihat Ekonomi Asia Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), Mathtew P. Goodman.
Goodman mengatakan salah satu penyebab ketegangan antara AS dan China saat ini adalah keputusan Presiden Donald Trump menerapkan tarif terhadap sejumlah produk Beijing. Penerapan tarif ini, papar Goodman, tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Alasanya, Trump adalah "tarrif man" di mana dia sangat menyukai tarif dan diyakini tidak akan menyerah dalam hal ini.
"Tarif tersebut di desain untuk menyeimbangkan praktek buruk China. Jadi, jika kami merubahnya menjadi nol (tarif), maka ini akan memberikan keuntungan bagi China dan mereka akan melanjutkan tindakan buruk mereka," ucapnya.
"Jadi, saya kira bagian tarif itu akan sulit untuk dihilangkan. Pertanyaan sekarang apakah hal-hal yang bisa mereka (China) terima? karena mereka sudah menegaskan bahwa salah satu 'garis merah' mereka adalah tarif tersebut harus dihilangkan. Jadi, saya tidak yakin itu akan menjadi sebuah jawaban," sambungnya, Rabu (7/8/2019).
Tapi, Goodman memprediksi, penurunan tarif akan mungkin terjadi. Jika itu terjadi, hal ini akan memaksa Presiden China Xi Jinping mengajukan sebuah tawaran sama menariknya pada AS.
"Lalu ada Huawei, saya adalah salah seorang yang menolak memberikan konsesi kepada Huawei. Terlepas dari tindakan yang kami lakukan, memberikan konsesi dalam perjanjian bukanlah ide yang bagus. Tapi, secara publik Trump telah menyatakan dia mungkin akan memasukan Huawei dalam kesepakatan," ulasnya.
"Itu adalah hal yang penting bagi Xi Jinping untuk lepas dari tekanan ekonomi dan politik, karena di China ada dua persepsi. Pertama kami ingin menahan China dengan tidak membiarkan mereka sukses secara ekonomi melalui perusahaan seperti Huawei dan kami menggunakan alat-alat tidak sah, seperti menahan putri dari pendiri perusahaan, itu persepsi yang ada di China. Mencabut sejumlah sanksi mungkin akan menjadi sesuatu yang akan ditawarkan Trump (kepada China)," paparnya.
Ketika disinggung akankah ada kemungkinan kesepakatan minor yang akan dicapai kedua negara dalam waktu dekat, ia mengatakan itu mungkin akan terjadi dalam beberapa bulan jika jalur yang diambil saat ini sangat menyakiti ekonomi atau pasar saham.
"Saya kita sekarang mustahil akan ada perjanjian yang lebih substantif sebelum pemilihan umum berikutnya, tidak lain karena Trump tidak akan menerima jika tidak ada perubahan substantif dalam tindakan China," terangnya.
"Dari sisi China, karena tidak yakin mereka akan mau, terutama sejak Mei dengan adanya peningkatan tarif dan masalah Huawei, China sedikit mundur dan tidak ingin menawarkan konsesi yang mungkin akan mereka tawarkan pada April," sambungnya.
"Saya kira kesepakatan semacam itu akan terlalu sulit untuk dicapai dan akan berlanjut kepada masa pemerintah Trump berikutnya atau kepada pemerintahan baru kelak," tukasnya.
Goodman mengatakan salah satu penyebab ketegangan antara AS dan China saat ini adalah keputusan Presiden Donald Trump menerapkan tarif terhadap sejumlah produk Beijing. Penerapan tarif ini, papar Goodman, tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Alasanya, Trump adalah "tarrif man" di mana dia sangat menyukai tarif dan diyakini tidak akan menyerah dalam hal ini.
"Tarif tersebut di desain untuk menyeimbangkan praktek buruk China. Jadi, jika kami merubahnya menjadi nol (tarif), maka ini akan memberikan keuntungan bagi China dan mereka akan melanjutkan tindakan buruk mereka," ucapnya.
"Jadi, saya kira bagian tarif itu akan sulit untuk dihilangkan. Pertanyaan sekarang apakah hal-hal yang bisa mereka (China) terima? karena mereka sudah menegaskan bahwa salah satu 'garis merah' mereka adalah tarif tersebut harus dihilangkan. Jadi, saya tidak yakin itu akan menjadi sebuah jawaban," sambungnya, Rabu (7/8/2019).
Tapi, Goodman memprediksi, penurunan tarif akan mungkin terjadi. Jika itu terjadi, hal ini akan memaksa Presiden China Xi Jinping mengajukan sebuah tawaran sama menariknya pada AS.
"Lalu ada Huawei, saya adalah salah seorang yang menolak memberikan konsesi kepada Huawei. Terlepas dari tindakan yang kami lakukan, memberikan konsesi dalam perjanjian bukanlah ide yang bagus. Tapi, secara publik Trump telah menyatakan dia mungkin akan memasukan Huawei dalam kesepakatan," ulasnya.
"Itu adalah hal yang penting bagi Xi Jinping untuk lepas dari tekanan ekonomi dan politik, karena di China ada dua persepsi. Pertama kami ingin menahan China dengan tidak membiarkan mereka sukses secara ekonomi melalui perusahaan seperti Huawei dan kami menggunakan alat-alat tidak sah, seperti menahan putri dari pendiri perusahaan, itu persepsi yang ada di China. Mencabut sejumlah sanksi mungkin akan menjadi sesuatu yang akan ditawarkan Trump (kepada China)," paparnya.
Ketika disinggung akankah ada kemungkinan kesepakatan minor yang akan dicapai kedua negara dalam waktu dekat, ia mengatakan itu mungkin akan terjadi dalam beberapa bulan jika jalur yang diambil saat ini sangat menyakiti ekonomi atau pasar saham.
"Saya kita sekarang mustahil akan ada perjanjian yang lebih substantif sebelum pemilihan umum berikutnya, tidak lain karena Trump tidak akan menerima jika tidak ada perubahan substantif dalam tindakan China," terangnya.
"Dari sisi China, karena tidak yakin mereka akan mau, terutama sejak Mei dengan adanya peningkatan tarif dan masalah Huawei, China sedikit mundur dan tidak ingin menawarkan konsesi yang mungkin akan mereka tawarkan pada April," sambungnya.
"Saya kira kesepakatan semacam itu akan terlalu sulit untuk dicapai dan akan berlanjut kepada masa pemerintah Trump berikutnya atau kepada pemerintahan baru kelak," tukasnya.
(ian)