Myanmar Tersinggung dengan Seruan Embargo Senjata Marzuki Darusman

Rabu, 07 Agustus 2019 - 00:22 WIB
Myanmar Tersinggung...
Myanmar Tersinggung dengan Seruan Embargo Senjata Marzuki Darusman
A A A
YANGON - Pemerintah Myanmar tersinggung dengan seruan agar para pemimpin dunia menjatuhkan embargo senjata terhadap militer negara itu terkait tindakan brutalnya terhadap minoritas Muslim Rohingya . Seruan itu disampaikan panel penyelidik PBB yang dipimpin mantan Jaksa Agung Indonesia, Marzuki Darusman .

Selain menyerukan embargo senjata, Marzuki juga mendesak para pemimpin dunia untuk memutuskan hubungan dengan perusahaan-perusahaan yang berbisnis dengan militer Myanmar.

Kementerian Luar Negeri negara itu mengatakan seruan panel PBB itu dimaksudkan untuk membahayakan negara mereka.

Lebih dari 730.000 warga Rohingya telah melarikan diri dari negara bagian Rakhine ke Bangladesh untuk menyelamatkan diri dari tindakan keras yang dipimpin militer Myanmar pada Agustus 2017. Amerika Serikat dan negara-negara Barat menyatakan tindakan keras militer itu termasuk pembunuhan massal dan pemerkosaan geng.

Para penyelidik PBB mengidentifikasi setidaknya 59 perusahaan asing yang memiliki ikatan komersial dengan militer Myanmar dan 14 perusahaan yang telah menjual senjata dan peralatan terkait kepada pasukan keamanan negara itu sejak 2016, termasuk entitas milik negara di Israel, India, Korea Utara, dan China.

"Setiap kegiatan bisnis asing yang melibatkan tentara dan konglomeratnya menempatkan risiko tinggi untuk berkontribusi, atau terkait dengan, pelanggaran hukum hak asasi manusia internasional dan hukum humaniter internasional," bunyi laporan panel penyelidik PBB.

Menurut Kementerian Luar Negeri Myanmar panel penyelidik PBB telah melampaui mandatnya dalam mendirikan Misi Pencari Fakta tentang Myanmar, dengan menghasilkan laporan semacam itu. Panel yang sama pada tahun 2018 menyatakan tindakan keras terhadap Rohingya dilakukan dengan "niat genosida".

"Pemerintah Myanmar dengan tegas menolak laporan terbaru dan kesimpulannya," kata kementerian itu dalam sebuah pernyataan, dikutip Reuters, Rabu (7/8/2019)."Laporan itu sebagai tindakan yang dimaksudkan untuk merugikan kepentingan Myanmar dan rakyatnya," lanjut kementerian tersebut.

"Kami berpegang teguh pada posisi bahwa kerja sama harus menjadi dasar untuk penyelesaian masalah internasional, termasuk hak asasi manusia," sambung kementerian tersebut. "Kami tidak percaya bahwa sanksi ekonomi akan menyelesaikan tantangan yang perlu diatasi."
(mas)
Berita Terkait
Laporan PBB: Kapal-kapal...
Laporan PBB: Kapal-kapal Korut Langgar Sanksi di Perairan China
China Tuding Amerika...
China Tuding Amerika Serikat Kacaukan Semenanjung Korea
AS Cekcok dengan Rusia-China...
AS Cekcok dengan Rusia-China di PBB soal Tembakan Rudal Korut
AS: Penindasan Myanmar...
AS: Penindasan Myanmar Terhadap Muslim Rohingya adalah Genosida
AS Tuduh Rusia-China...
AS Tuduh Rusia-China Abaikan Tanggung Jawab atas Korea Utara
Jepang Segera Beli 400...
Jepang Segera Beli 400 Rudal Jelajah Tomahawk dari Amerika Serikat
Berita Terkini
Badai Ganas Ancam Gagalkan...
Badai Ganas Ancam Gagalkan Pidato Trump di Hari Kemerdekaan AS, Ribuan Orang Berhamburan Kabur
15 menit yang lalu
Takut Ditangkap, Menteri...
Takut Ditangkap, Menteri Israel Itamar Ben-Gvir Dilaporkan Batal Terbang ke New York
50 menit yang lalu
Ayat Al-Quran tentang...
Ayat Al-Qur'an tentang Perang Badar dalam Seremoni Pemakaman Khamenei, Pujian atau Ejekan untuk Arab Saudi?
1 jam yang lalu
Giliran Lithuania Akan...
Giliran Lithuania Akan Cabut Larangan Senjata Nuklir, Rusia Makin Terancam
2 jam yang lalu
Rusia Sebut Selat Hormuz...
Rusia Sebut Selat Hormuz Adalah 'Senjata Nuklir'-nya Iran
3 jam yang lalu
Raja Salman dan Mohammed...
Raja Salman dan Mohammed bin Salman Sampaikan Belasungkawa Meski Tak Melayat untuk Khamenei
4 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved