Jaga Perairan Iran dan Yaman, AS Ingin Bentuk Koalisi Militer
Rabu, 10 Juli 2019 - 11:15 WIB
Jaga Perairan Iran dan Yaman, AS Ingin Bentuk Koalisi Militer
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) mengatakan sedang berupaya untuk membentuk koalisi militer guna melindungi pengiriman komersial di lepas pantai Iran dan Yaman. Upaya ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut menyusul serangan terhadap sejumlah kapal tanker minyak di Teluk.
Ketua kepala staf gabungan AS, Jenderal Joseph Dunford menguraikan, di bawah rencana tersebut koalisi akan melindungi perairan strategis di wilayah Teluk Persia dan laut antara Semenanjung Arab dan Tanduk Afrika.
"Kami sekarang terlibat dengan sejumlah negara untuk melihat apakah kami dapat mengumpulkan koalisi yang akan memastikan kebebasan navigasi baik di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab," kata Dunford seperti disitir dari Al Jazeera, Rabu (10/7/2019).
Dunford mengatakan Pentagon telah mengembangkan rencana spesifik dan dalam beberapa minggu ke depan akan jelas negara mana saja yang akan ikut bergabung dalam koalisi.
Dunford mengatakan dia membahas masalah itu dengan penjabat menteri pertahanan Mark Esper dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo. Ia mengatakan rencana itu akan datang bersama.
"Kami sedang bersiap-siap untuk pindah," Dunford mengatakan kepada sekelompok kecil wartawan di Fort Myer, Virginia.
"Kami memiliki konsep yang cukup jelas tentang apa yang ingin kami lakukan," imbuhnya.
Dia menyarankan agar proyek itu bisa dimulai dengan koalisi kecil.
"Ini akan dapat diukur. Jadi, dengan sejumlah kecil kontributor kami dapat memiliki misi kecil dan kami akan memperluasnya karena sejumlah negara yang bersedia berpartisipasi mengidentifikasi diri mereka sendiri," katanya.
Pemerintah Presiden AS Donald Trump menyalahkan Teheran dan proksinya atas beberapa serangan terhadap tanker di Teluk dalam beberapa bulan terakhir.
Seperlima dari ekspor minyak dunia melewati daerah tersebut.
Iran membantah pihaknya berada di balik serangan terhadap kapal komersial baru-baru ini di kawasan Teluk Persia.
Ditembak jatuhnya pesawat pengintai AS oleh Teheran hampir membawa kedua negara ini ke ambang perang. Trump telah mengizinkan serangan militer ke Iran sebagai pembalasan tetapi kemudian membatalkannya pada menit-menit akhir.
Washington memberikan sanksi baru kepada para pemimpin tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, setelah penembakan drone itu.
Ketegangan antara Washington dan Teheran telah meningkat sejak tahun lalu ketika Trump secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 yang telah membatasi ambisi nuklir Teheran dengan imbalan bantuan sanksi.
Krisis telah meningkat dalam beberapa hari terakhir karena Washington dan Teheran telah terlibat dalam perang kata-kata atas keputusan Iran melewati batas pengayaan uranium yang ditetapkan oleh perjanjian nukli 2015.
Teheran telah meminta pihak lain dari kesepakatan nuklir - Perancis, Inggris, China, Rusia, Uni Eropa dan Jerman - untuk menemukan cara mengekspor minyaknya yang merupakan sumber pendapatan utama bagi ekonominya yang lumpuh dicekik oleh sanksi, atau akan meningkatkan skala program nuklirnya.
Ketua kepala staf gabungan AS, Jenderal Joseph Dunford menguraikan, di bawah rencana tersebut koalisi akan melindungi perairan strategis di wilayah Teluk Persia dan laut antara Semenanjung Arab dan Tanduk Afrika.
"Kami sekarang terlibat dengan sejumlah negara untuk melihat apakah kami dapat mengumpulkan koalisi yang akan memastikan kebebasan navigasi baik di Selat Hormuz dan Bab al-Mandab," kata Dunford seperti disitir dari Al Jazeera, Rabu (10/7/2019).
Dunford mengatakan Pentagon telah mengembangkan rencana spesifik dan dalam beberapa minggu ke depan akan jelas negara mana saja yang akan ikut bergabung dalam koalisi.
Dunford mengatakan dia membahas masalah itu dengan penjabat menteri pertahanan Mark Esper dan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo. Ia mengatakan rencana itu akan datang bersama.
"Kami sedang bersiap-siap untuk pindah," Dunford mengatakan kepada sekelompok kecil wartawan di Fort Myer, Virginia.
"Kami memiliki konsep yang cukup jelas tentang apa yang ingin kami lakukan," imbuhnya.
Dia menyarankan agar proyek itu bisa dimulai dengan koalisi kecil.
"Ini akan dapat diukur. Jadi, dengan sejumlah kecil kontributor kami dapat memiliki misi kecil dan kami akan memperluasnya karena sejumlah negara yang bersedia berpartisipasi mengidentifikasi diri mereka sendiri," katanya.
Pemerintah Presiden AS Donald Trump menyalahkan Teheran dan proksinya atas beberapa serangan terhadap tanker di Teluk dalam beberapa bulan terakhir.
Seperlima dari ekspor minyak dunia melewati daerah tersebut.
Iran membantah pihaknya berada di balik serangan terhadap kapal komersial baru-baru ini di kawasan Teluk Persia.
Ditembak jatuhnya pesawat pengintai AS oleh Teheran hampir membawa kedua negara ini ke ambang perang. Trump telah mengizinkan serangan militer ke Iran sebagai pembalasan tetapi kemudian membatalkannya pada menit-menit akhir.
Washington memberikan sanksi baru kepada para pemimpin tinggi Iran, termasuk pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei, setelah penembakan drone itu.
Ketegangan antara Washington dan Teheran telah meningkat sejak tahun lalu ketika Trump secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 yang telah membatasi ambisi nuklir Teheran dengan imbalan bantuan sanksi.
Krisis telah meningkat dalam beberapa hari terakhir karena Washington dan Teheran telah terlibat dalam perang kata-kata atas keputusan Iran melewati batas pengayaan uranium yang ditetapkan oleh perjanjian nukli 2015.
Teheran telah meminta pihak lain dari kesepakatan nuklir - Perancis, Inggris, China, Rusia, Uni Eropa dan Jerman - untuk menemukan cara mengekspor minyaknya yang merupakan sumber pendapatan utama bagi ekonominya yang lumpuh dicekik oleh sanksi, atau akan meningkatkan skala program nuklirnya.
(ian)