Hina Putin saat Live, Penyiar TV Georgia Picu Kemarahan

Senin, 08 Juli 2019 - 12:55 WIB
Hina Putin saat Live,...
Hina Putin saat Live, Penyiar TV Georgia Picu Kemarahan
A A A
TBILISI - Ratusan orang berdemo di dekat gedung stasiun televisi Rustavi 2 di Tbilisi, Georgia, untuk menuntut direktur produksi Giorgi Gabunia dipecat. Gabunia telah memicu kemarahan publik setelah mengumbar hinaan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin saat siaran langsung atau live.

Pada hari Minggu malam, Gabunia memulai programnya "Post Scriptum" di Rustavi 2 dengan sebuah monolog tentang Putin. Gabunia yang bertindak sebagai penyiar program itu mengumbar bahasa cabul untuk menggambarkan sosok pemimpin Rusia.

Dalam acara yang disiarkan langsung itu, dia mengungkapkan keinginannya untuk "buang air besar di kuburan Putin" dan menyebut orang-orang Rusia sebagai budak. Gabunia juga melontarkan kata-kata kasar terhadap mendiang orang tua Presiden Rusia.

Ratusan demonstran yang datang melemparkan telur dan botol ke gedung stasiun televisi tersebut. Penyiar itu akhirnya mengeluarkan permintaan maaf secara resmi.

"Pertama-tama, kami meminta maaf kepada hadirin karena fakta tersebut. Kami percaya bahwa dalam situasi apa pun, seorang jurnalis harus mematuhi kebijakan editorial saluran tersebut dan persyaratan etis yang sesuai dari penyiaran berperingkat tinggi bahkan ketika mempertahankan nilai-nilai tertentu dan bahkan dalam program seorang penulis," katanya dalam sebuah pernyataan, yang diterbitkan di situs resminya pada Senin (8/7/2019).

Rustavi 2 menambahkan bahwa kata-kata jurnalis itu tidak memenuhi standar penyiar. Stasiun televisi itu juga memastikan masalah yang dibuat jurnalis tersebut akan ditangani.

"Kami percaya bahwa ekspresi Giorgi Gabunia tidak sesuai dengan standar tinggi yang ditetapkan oleh saluran kami dan badan pengawas perusahaan televisi akan membahas masalah ini," kata pihak stasiun televisi.

Menurut perusahaan, pernyataan yang kuat dan provokatif hanya dapat diterima jika mereka mematuhi norma etika penyiar dan masyarakat secara keseluruhan.

Menyusul insiden itu, Kementerian Luar Negeri Georgia telah mengecam pernyataan hinaan sang jurnalis sebagai upaya untuk memburuk hubungan yang sudah rumit antara Georgia dan Rusia.

"Kami mengutuk pernyataan (yang dibuat) oleh (jurnalis) Rustavi 2, yang tidak ada hubungannya dengan kebebasan berbicara dan merupakan provokasi murni, yang bertujuan menambah lebih banyak ketegangan pada hubungan Georgia-Rusia yang sudah rumit," kata kementerian itu dalam pernyataan yang dipublikasikan di situs resminya, seperti dikutip Sputniknews.

Kementerian juga menyerukan kepada masyarakat internasional dan semua organisasi yang berurusan dengan kebebasan media untuk memberikan tanggapan yang sesuai atas perilaku jurnalis tersebut.

Hubungan antara Rusia dan Georgia telah memburuk selama beberapa pekan terakhir setelah aksi unjuk rasa di Tbilisi pada tanggal 20 Juni terkait partisipasi delegasi Rusia dalam sesi Majelis Antarparlemen tentang Ortodoksi.

Demonstran berusaha menyerbu gedung parlemen, sambil menuntut pengunduran diri ketua parlemen dan pejabat lainnya. Demonstrasi dibubarkan oleh pasukan keamanan menggunakan gas air mata, peluru karet dan meriam air. Diperkirakan 240 orang terluka dan lebih dari 300 orang lainnya ditahan.

Sehubungan dengan protes keras anti-Rusia di Georgia, Presiden Rusia Vladimir Putin memperketat langkah-langkah keamanan nasional dan mewajibkan perusahaan penerbangan berbasis di Rusia untuk menghentikan sementara penerbangan penumpang antara Rusia dan Georgia mulai 8 Juli. Operator dan agen tur Rusia telah menangguhkan tur ke Georgia sampai larangan dicabut.
(mas)
Berita Terkait
Rusia: Klaim Moskow...
Rusia: Klaim Moskow Hendak Habisi Jurnalis Georgia Absurd
Sosok Vera Putina, Wanita...
Sosok Vera Putina, Wanita Georgia yang Mengaku Ibu Kandung Vladimir Putin
Jurnalis TV Georgia...
Jurnalis TV Georgia Hendak Dihabisi karena Menghina Putin
Presiden Prabowo Terima...
Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia di Istana
Pisah dari Georgia,...
Pisah dari Georgia, Ossetia Selatan Referendum Gabung Rusia 17 Juli
Pernah Diancam Dibom...
Pernah Diancam Dibom Nuklir, Eks Presiden Georgia Anggap Putin Tak Waras
Berita Terkini
Apa Arti Las Malvinas...
Apa Arti 'Las Malvinas Son Argentinas'? Slogan yang Dikibarkan Timnas Argentina Ternyata Menyimpan Luka Sejarah 200 Tahun
50 menit yang lalu
Maroko Tandatangani...
Maroko Tandatangani Perjanjian dengan Dewan Perdamaian untuk Gabung Pasukan Internasional Gaza
1 jam yang lalu
Pria Ini Ditusuk 15...
Pria Ini Ditusuk 15 Kali di Mal AS Hanya karena Beragama Islam
4 jam yang lalu
Anggota Politbiro Partai...
Anggota Politbiro Partai Komunis China Dipecat karena Korupsi Skala Besar dan Skandal Seks
5 jam yang lalu
Perang Iran Meluas,...
Perang Iran Meluas, AS Jual Senjata ke Arab Saudi dan Kuwait Total Rp36,2 Triliun
5 jam yang lalu
Profil Sheikh Hamad...
Profil Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani, Sosok di Balik Lompatan Qatar dari Negara Gurun Menjadi Raksasa Kaya Dunia
6 jam yang lalu
Infografis
Saat Sekutu Berhenti...
Saat Sekutu Berhenti Menuruti Donald Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved