AS Kembali Tunda Pengumuman Isi Kesepakatan Abad Ini
Senin, 17 Juni 2019 - 17:14 WIB
AS Kembali Tunda Pengumuman Isi Kesepakatan Abad Ini
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) kembali menunda mengungkap isi dari kesepakatan abad ini. Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Jason Greenblatt mengatakan, kesepakatan damai Israel-Palestina itu akan diumumkan pada November mendatang.
Greenblatt mengatakan, pemerintahan Presiden Donald Trump akan merilis rencana itu pada musim panas ini, seperti yang dijadwalkan sebelumnya, seandainya Israel tidak menyerukan pemilihan pada bulan September.
"Kami belum membuat keputusan apakah akan menundanya sekarang, hingga 6 November. Saya pikir logika akan menentukan bahwa jika kami ingin menunggu sampai pemerintah baru Israel terbentuk, kami benar-benar harus menunggu, sampai paling lambat 6 November," kata Greenbalt, seperti dilansir Anadolu Agency pada Senin (17/6).
"Tapi kami akan memutuskan hal itu setelah Bahrain," sambungnya, merujuk pada konferensi ekonomi internasional mengenai Palestina yang digagas dan dipimpin AS di Manama pada akhir bulan Juni.
Sebelumnya, dalam sebuah pidato di sebuah konferensi di Jenewa, Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh mengatakan bahwa masalah Palestina menghadapi sejumlah tantangan, termasuk apa yang disebut kesepakatan abad Ini dan upaya untuk memeras warga Palestina sehingga mereka menerima inisiatif.
Shtayyeh memperjelas bahwa posisi Palestina dalam masalah ini jelas dan Palestina tidak akan pernah menyetujui peraturan yang tidak memenuhi persyaratan minimum.
"Siapa pun yang mengira kami mencari solusi ekonomi adalah salah, karena masalah ini terkait dengan berakhirnya pendudukan militer dan kolonial Israel," kata Shtayyeh.
Greenblatt mengatakan, pemerintahan Presiden Donald Trump akan merilis rencana itu pada musim panas ini, seperti yang dijadwalkan sebelumnya, seandainya Israel tidak menyerukan pemilihan pada bulan September.
"Kami belum membuat keputusan apakah akan menundanya sekarang, hingga 6 November. Saya pikir logika akan menentukan bahwa jika kami ingin menunggu sampai pemerintah baru Israel terbentuk, kami benar-benar harus menunggu, sampai paling lambat 6 November," kata Greenbalt, seperti dilansir Anadolu Agency pada Senin (17/6).
"Tapi kami akan memutuskan hal itu setelah Bahrain," sambungnya, merujuk pada konferensi ekonomi internasional mengenai Palestina yang digagas dan dipimpin AS di Manama pada akhir bulan Juni.
Sebelumnya, dalam sebuah pidato di sebuah konferensi di Jenewa, Perdana Menteri Palestina Mohammad Shtayyeh mengatakan bahwa masalah Palestina menghadapi sejumlah tantangan, termasuk apa yang disebut kesepakatan abad Ini dan upaya untuk memeras warga Palestina sehingga mereka menerima inisiatif.
Shtayyeh memperjelas bahwa posisi Palestina dalam masalah ini jelas dan Palestina tidak akan pernah menyetujui peraturan yang tidak memenuhi persyaratan minimum.
"Siapa pun yang mengira kami mencari solusi ekonomi adalah salah, karena masalah ini terkait dengan berakhirnya pendudukan militer dan kolonial Israel," kata Shtayyeh.
(esn)