Rusia dan Suriah Bombardir Idlib, AS: Kekerasan Harus Berakhir
Rabu, 29 Mei 2019 - 13:52 WIB
Rusia dan Suriah Bombardir Idlib, AS: Kekerasan Harus Berakhir
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) terus mewaspadai pemerintah Suriah dan serangan udara Rusia di Suriah barat laut. AS, melalui Departemen Luar Negeri, percaya bahwa tindakan itu adalah peningkatan kekerasan yang gegabah.
Serangan udara pemerintah Suriah, yang didukung oleh Rusia, telah difokuskan di selatan provinsi Idlib dan bagian-bagian terdekat Hama, mencerabut hampir 250.000 orang. Pemboman itu menewaskan 229 warga sipil dan melukai 727 lainnya, menurut badan amal medis UOSSM.
"Serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil dan infrastruktur publik seperti sekolah, pasar dan rumah sakit adalah eskalasi konflik yang ceroboh dan tidak dapat diterima," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus.
"Kekerasan harus berakhir," tegas Ortagus seperti dikutip dari Reuters, Rabu (29/5/2019).
Ratusan anggota Kongres AS menandatangani surat kepada Presiden Donald Trump pekan lalu bahwa AS harus tetap terlibat dengan konflik di Suriah. Mereka mengatakan "sangat prihatin" tentang kelompok-kelompok ekstremis di negara itu.
Banyak anggota parlemen AS, dari Partai Republik dan juga Demokrat, telah sangat prihatin tentang kebijakan Suriah sejak Desember, ketika Trump memutuskan untuk menarik 2.000 tentara AS dari Suriah. Trump kemudian setuju untuk meninggalkan kehadiran kecil tentara AS untuk membantu menjaga tekanan pada Negara Islam.
Serangan udara pemerintah Suriah, yang didukung oleh Rusia, telah difokuskan di selatan provinsi Idlib dan bagian-bagian terdekat Hama, mencerabut hampir 250.000 orang. Pemboman itu menewaskan 229 warga sipil dan melukai 727 lainnya, menurut badan amal medis UOSSM.
"Serangan tanpa pandang bulu terhadap warga sipil dan infrastruktur publik seperti sekolah, pasar dan rumah sakit adalah eskalasi konflik yang ceroboh dan tidak dapat diterima," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus.
"Kekerasan harus berakhir," tegas Ortagus seperti dikutip dari Reuters, Rabu (29/5/2019).
Ratusan anggota Kongres AS menandatangani surat kepada Presiden Donald Trump pekan lalu bahwa AS harus tetap terlibat dengan konflik di Suriah. Mereka mengatakan "sangat prihatin" tentang kelompok-kelompok ekstremis di negara itu.
Banyak anggota parlemen AS, dari Partai Republik dan juga Demokrat, telah sangat prihatin tentang kebijakan Suriah sejak Desember, ketika Trump memutuskan untuk menarik 2.000 tentara AS dari Suriah. Trump kemudian setuju untuk meninggalkan kehadiran kecil tentara AS untuk membantu menjaga tekanan pada Negara Islam.
(ian)