AS Ancam Jatuhkan Sanksi Lebih Banyak kepada Iran
Rabu, 08 Mei 2019 - 22:49 WIB
AS Ancam Jatuhkan Sanksi Lebih Banyak kepada Iran
A
A
A
WASHINGTON - Amerika Serikat (AS) mengancam akan "segera" menjatuhkan sanksi lebih banyak sanksi kepada Iran. Washington pun memperingatkan Eropa agar tidak melakukan bisnis dengan Teheran melalui sistem perdagangan non dolar untuk menghindari sanksi AS.
Iran mengumumkan menangguhkan sebagian dari perjanjian nuklir internasional 2015 yang membatasi program nuklirnya. Teheran pun mengancam akan mengabil tindakan lebih lanjut jika negara-negara perjanjian nuklir internasional tidak melindunginya dari sanksi.
"Penangguhan kepatuhan Teheran terhadap beberapa bagian dari perjanjian nuklir adalah tidak lebih dari pemerasan nuklir Eropa," ujar Asisten Khusus Presiden dan Direktur Senior untuk Senjata Pemusnah Massal, Tim Morrison, pada sebuah konferensi di Washington.
"Sekarang adalah waktunya bagi komunitas negara-negara untuk mengutuk keras kesalahan nuklir Iran dan meningkatkan tekanan pada rezim untuk mematuhi tuntutan AS," imbuh Morrison.
āDiharapkan akan ada lebih banyak sanksi segera. Sangat segera," tukasnya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (8/5/2019).
Morrison mengatakan AS akan bergerak cepat terhadap segala upaya negara-negara Eropa untuk melemahkan tekanan sanksi Washington terhadap Iran. Ia menyarankan Eropa agar tidak menggunakan apa yang disebut Special Purpose Vehicle untuk memfasilitasi perdagangan non-dolar untuk menghindari sanksi AS.
"Jika Anda adalah bank, investor, perusahaan asuransi, atau bisnis lain di Eropa, Anda harus tahu bahwa terlibat dalam Special Purpose Vehicle adalah keputusan bisnis yang sangat buruk," ucap Morrison.
Presiden Donald Trump setahun lalu mencabut perjanjian yang ditandatangani oleh Iran, Rusia, China, Inggris, Prancis, Jerman dan AS untuk membatasi program nuklir Iran yang disengketakan dengan imbalan pencabutan sanksi.
Pemerintahan Trump mengatakan kesepakatan itu, dinegosiasikan oleh pendahulunya Barack Obama, cacat karena tidak permanen, tidak membahas program rudal balistik Iran dan tidak menghukumnya karena melancarkan perang proxy di negara-negara Timur Tengah lainnya.
Presiden Iran Hassan Rouhani mengumumkan perubahan yang menurut para ahli tampaknya dirancang untuk memastikan Teheran menghindari memicu mekanisme kesepakatan untuk menghukumnya karena pelanggaran, setidaknya untuk saat ini.
Sekutu-sekutu Washington di Eropa menentang keputusan Trump untuk menarik diri dari perjanjian dan sejauh ini gagal menemukan cara untuk menumpulkan dampak ekonomi dari sanksi baru AS, yang mencakup upaya untuk memblokir ekspor minyak Iran guna membuat ekonominya meradang.
Iran mengumumkan menangguhkan sebagian dari perjanjian nuklir internasional 2015 yang membatasi program nuklirnya. Teheran pun mengancam akan mengabil tindakan lebih lanjut jika negara-negara perjanjian nuklir internasional tidak melindunginya dari sanksi.
"Penangguhan kepatuhan Teheran terhadap beberapa bagian dari perjanjian nuklir adalah tidak lebih dari pemerasan nuklir Eropa," ujar Asisten Khusus Presiden dan Direktur Senior untuk Senjata Pemusnah Massal, Tim Morrison, pada sebuah konferensi di Washington.
"Sekarang adalah waktunya bagi komunitas negara-negara untuk mengutuk keras kesalahan nuklir Iran dan meningkatkan tekanan pada rezim untuk mematuhi tuntutan AS," imbuh Morrison.
āDiharapkan akan ada lebih banyak sanksi segera. Sangat segera," tukasnya seperti dikutip dari Reuters, Rabu (8/5/2019).
Morrison mengatakan AS akan bergerak cepat terhadap segala upaya negara-negara Eropa untuk melemahkan tekanan sanksi Washington terhadap Iran. Ia menyarankan Eropa agar tidak menggunakan apa yang disebut Special Purpose Vehicle untuk memfasilitasi perdagangan non-dolar untuk menghindari sanksi AS.
"Jika Anda adalah bank, investor, perusahaan asuransi, atau bisnis lain di Eropa, Anda harus tahu bahwa terlibat dalam Special Purpose Vehicle adalah keputusan bisnis yang sangat buruk," ucap Morrison.
Presiden Donald Trump setahun lalu mencabut perjanjian yang ditandatangani oleh Iran, Rusia, China, Inggris, Prancis, Jerman dan AS untuk membatasi program nuklir Iran yang disengketakan dengan imbalan pencabutan sanksi.
Pemerintahan Trump mengatakan kesepakatan itu, dinegosiasikan oleh pendahulunya Barack Obama, cacat karena tidak permanen, tidak membahas program rudal balistik Iran dan tidak menghukumnya karena melancarkan perang proxy di negara-negara Timur Tengah lainnya.
Presiden Iran Hassan Rouhani mengumumkan perubahan yang menurut para ahli tampaknya dirancang untuk memastikan Teheran menghindari memicu mekanisme kesepakatan untuk menghukumnya karena pelanggaran, setidaknya untuk saat ini.
Sekutu-sekutu Washington di Eropa menentang keputusan Trump untuk menarik diri dari perjanjian dan sejauh ini gagal menemukan cara untuk menumpulkan dampak ekonomi dari sanksi baru AS, yang mencakup upaya untuk memblokir ekspor minyak Iran guna membuat ekonominya meradang.
(ian)