Dihujani Lebih dari 150 Roket Gaza, Penduduk Israel Berlarian
Sabtu, 04 Mei 2019 - 22:24 WIB
Dihujani Lebih dari 150 Roket Gaza, Penduduk Israel Berlarian
A
A
A
GAZA - Jumlah roket asal Jalur Gaza, Palestina, yang menghujani kota Ashkelon, Israel selatan, pada Sabtu (4/5/2019) bertambah menjadi lebih dari 150 buah. Para penduduk negeri Zionis tersebut berlarian ke tempat perlindungan bom.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan hanya dalam tempo setengah jam saja lebih dari 50 roket ditembakkan dari Jalur Gaza. Dari ratusan roket, puluhan di antaranya dicegat sistem pertahanan rudal Iron Dome.
Juru bicara Kepolisian Israel Mickey Rosenfeld mengatakan ada peningkatan langkah-langkah keamanan di wilayah selatan dan peningkatan patroli di kota-kota setempat setelah gelombang serangan roket.
Menurut Rosenfeld, sebuah rumah di kota Ashkelon rusak oleh hantaman roket, namun penghuninya aman. Kota itu berada tidak jauh dari perbatasan dengan Jalur Gaza.
Magen David Adom (MDA) atau Layanan Medis Darurat Israel menyatakan seorang pria berusia 50 tahun dirawat karena terluka oleh pecahan peluru. Ada juga seorang wanita berusia 50 tahun yang mengalami luka parah akibat terkena pecahan amunisi di dekat Kiryat Gat.
IDF, melalui Twitter, mengatakan tank-tank mereka mulai menyerang beberapa target militer Hamas sebagai pembalasan. IDF juga melakukan serangan udara. Menurut militer Zionis tersebut sekitar 30 target di sepanjang Jalur Gaza telah diserang.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan satu orang Palestina tewas dan empat lainnya terluka akibat serangan udara pasukan Israel pada hari Sabtu. Juru bicara kementerian, Ashraf al Qudra, mengatakan warga yang tewas adalah seorang pria berusia 22 tahun.
Data berbeda diberikan oleh kelompok Hamas yang berkuasa di Gaza. Menurut mereka, dua anggotanya tewas dan tiga lainnya cedera dalam serangan Israel.
"Hamas akan terus menanggapi kejahatan pendudukan dan tidak akan membiarkannya menumpahkan darah rakyat kita," kata juru bicara Hamas, Abdel-Latif al-Qanoua, dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu.
Sorang sumber di kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang dikutip Reuters, mengatakan para kepala keamanan negara itu telah pada hari Sabtu untuk membahas situasi tersebut.
Aksi saling serang antara kelompok militan Gaza dan militer Israel ini merupakan buntut dari konflik hari Jumat, di mana Israel membunuh tiga warga Palestina di Gaza setelah dua tentaranya terluka oleh tembakan sniper di wilayah perbatasan Gaza-Israel.
Tiga warga Palestina yang dibunuh militer Zionis itu adalah Abdullah Abu Mallouh, 33 dan Alaa al-Bubli, 29, melalui serangan udara. Sedangkan satu warga lainnya, Raid Abu Teer, 19, ditembak mati tentara IDF.
Israel dan Hamas telah berhasil menghindari perang habis-habisan selama lima tahun terakhir. Para mediator Mesir, yang dipercaya sebagai perantara gencatan senjata setelah serangan roket Hamas di utara Tel Aviv pada bulan Maret memicu ledakan pertempuran hebat, telah berupaya mencegah meningkatnya permusuhan lebih lanjut.
Gaza, yang merupakan rumah bagi sekitar dua juta warga Palestina, telah menyaksikan ekonominya menderita setelah bertahun-tahun diblokade Israel. Menurut data Bank Dunia pengangguran di wilayah itu mencapai 52 persen.
Pemerintah Zionis berdalih blokade diperlukan untuk mencegah masuknya senjata dari luar untuk Hamas.
Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan hanya dalam tempo setengah jam saja lebih dari 50 roket ditembakkan dari Jalur Gaza. Dari ratusan roket, puluhan di antaranya dicegat sistem pertahanan rudal Iron Dome.
Juru bicara Kepolisian Israel Mickey Rosenfeld mengatakan ada peningkatan langkah-langkah keamanan di wilayah selatan dan peningkatan patroli di kota-kota setempat setelah gelombang serangan roket.
Menurut Rosenfeld, sebuah rumah di kota Ashkelon rusak oleh hantaman roket, namun penghuninya aman. Kota itu berada tidak jauh dari perbatasan dengan Jalur Gaza.
Magen David Adom (MDA) atau Layanan Medis Darurat Israel menyatakan seorang pria berusia 50 tahun dirawat karena terluka oleh pecahan peluru. Ada juga seorang wanita berusia 50 tahun yang mengalami luka parah akibat terkena pecahan amunisi di dekat Kiryat Gat.
IDF, melalui Twitter, mengatakan tank-tank mereka mulai menyerang beberapa target militer Hamas sebagai pembalasan. IDF juga melakukan serangan udara. Menurut militer Zionis tersebut sekitar 30 target di sepanjang Jalur Gaza telah diserang.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan satu orang Palestina tewas dan empat lainnya terluka akibat serangan udara pasukan Israel pada hari Sabtu. Juru bicara kementerian, Ashraf al Qudra, mengatakan warga yang tewas adalah seorang pria berusia 22 tahun.
Data berbeda diberikan oleh kelompok Hamas yang berkuasa di Gaza. Menurut mereka, dua anggotanya tewas dan tiga lainnya cedera dalam serangan Israel.
"Hamas akan terus menanggapi kejahatan pendudukan dan tidak akan membiarkannya menumpahkan darah rakyat kita," kata juru bicara Hamas, Abdel-Latif al-Qanoua, dalam sebuah pernyataan pada hari Sabtu.
Sorang sumber di kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang dikutip Reuters, mengatakan para kepala keamanan negara itu telah pada hari Sabtu untuk membahas situasi tersebut.
Aksi saling serang antara kelompok militan Gaza dan militer Israel ini merupakan buntut dari konflik hari Jumat, di mana Israel membunuh tiga warga Palestina di Gaza setelah dua tentaranya terluka oleh tembakan sniper di wilayah perbatasan Gaza-Israel.
Tiga warga Palestina yang dibunuh militer Zionis itu adalah Abdullah Abu Mallouh, 33 dan Alaa al-Bubli, 29, melalui serangan udara. Sedangkan satu warga lainnya, Raid Abu Teer, 19, ditembak mati tentara IDF.
Israel dan Hamas telah berhasil menghindari perang habis-habisan selama lima tahun terakhir. Para mediator Mesir, yang dipercaya sebagai perantara gencatan senjata setelah serangan roket Hamas di utara Tel Aviv pada bulan Maret memicu ledakan pertempuran hebat, telah berupaya mencegah meningkatnya permusuhan lebih lanjut.
Gaza, yang merupakan rumah bagi sekitar dua juta warga Palestina, telah menyaksikan ekonominya menderita setelah bertahun-tahun diblokade Israel. Menurut data Bank Dunia pengangguran di wilayah itu mencapai 52 persen.
Pemerintah Zionis berdalih blokade diperlukan untuk mencegah masuknya senjata dari luar untuk Hamas.
(mas)